Halo Ayah,

Izinkan aku, putri kecilmu ini menuliskan sesuatu untukmu. Bukan untuk meratapi kepergianmu. Hanya untuk menyampaikan rasa rinduku pada Ayah. Kau yang selama ini menjadi pelengkap diriku yang kosong. Tujuh belas tahun menjadi pelindungku. Ayah, aku harap Ayah tahu isi hatiku. Ayah, rasanya aku telah melewatkan berpuluh-puluh jam tanpamu. Padahal baru saja Ayah meninggalkanku. Tapi Ayah tenang saja. Aku dan Ibu baik-baik saja. Iya walaupun kami semua merasa kehilangan Ayah.

Merasa kehilangan hanya akan ada jika engkau merasa memilikinya.

Kalimat sederhana namun dalam ini adalah lirik lagu. Entah mengapa semenjak ayah berpulang lagu ini terdengar semakin berat. Aku tahu, perjalananmu akan semakin susah jika aku terus bersedih. Aku minta maaf Ayah.

Aku dan Ibu masih berjuang membiasakan diri. Membiasakan melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan kita bertiga menjadi kegiatan yang hanya dilakukan oleh kami. Aku dan Ibu. Bangun pagi yang sudah tanpamu. Atau aku yang tidak lagi membuat tiga cangkir teh hangat. Namun hanya membuat dua, untukku dan Ibu. Dan Ayah, aku rindu. Rindu diingatkan shalat olehmu. Ayah yang selalu menanyakan perihal ibadahku. Walau seringkali itu membuatku kesal. Ayah, kali ini aku rindu. Untuk hal ini aku menangis. Maaf Ayah, aku tidak bisa menahannya.

Advertisement

Rasanya seperti mimpi. Empat hari lalu, hari dimana menjadi hari pertama Ayah dirawat di rumah sakit. Siapa yang mengira? Ayah yang hari sebelumnya masih pergi dengan kami tiba-tiba merasa sakit. Pagi-pagi aku dan Ibu mengantar Ayah ke rumah sakit. Gejala stroke, kata dokter. Saat itu Ayah masih dapat berbicara dan menatapku. Tatapan yang dalam dan Ayah, aku merasakan sesuatu dalam tatapanmu itu. Lalu Ayah berbicara padaku, bahwa Ayah senang aku diterima di universitas negeri di kotaku. Iya Ayah. Aku tahu alasan mengapa ini semua terjadi. Mengapa aku ditolak oleh beberapa universitas di luar kota dan mengapa Ayah hanya menargetkan universitas di kotaku.

Dua hari dirawat, kondisi Ayah malah menurun. Ayah sudah dipasangi alat bantu pernafasan dan alat bantu makan melalui selang. Ayah, betapa hati tak tega melihatmu seperti itu. Ayah hanya bisa mendengar suara kami saja tanpa mampu menjawabnya. Ayah terbaring lemas dan sama sekali tidak bergerak. Aku merasa kasihan pada Ayah. Aku menunggui Ayah. Kuharap Ayah tahu. Kuharap Ayah juga tahu jika teman-temanku, teman-teman Ayah, dan saudara-saudara kita datang menjenguk dan mendoakan Ayah. Sepertinya Ayah tahu. Aku percaya itu.

Sabtu, 6 Agustus 2016 pukul 13:45.

Aku menuju rumah sakit. Aku melihat Ayah dari jendela. Ibu ada menemani Ayah. Aku bersama budhe, tante, om, dan temanku. Ayah, aku bisa merasakan kesakitanmu. Nafasmu yang mulai berat dan tersengal-sengal membuatku ngilu. Aku membimbingmu untuk mengingat Allah dari jendela. Sementara budhe dan tante pulang. Tidak Ayah mereka tidak meninggalkanmu. Mereka pulang untuk membacakan doa untuk Ayah. "Allah…Allah…Allah…" bisikku dekat telinga Ayah. Dalam hati aku berkata "Ayah dengarlah aku. Ingatlah Allah agar Ayah tidak menyesal." Gemas rasanya karena aku hanya membimbing Ayah hanya lewat jendela. Aku pun melompat masuk. Jika saja Ayah melihatnya, Ayah pasti geli. Aku berada di samping Ayah bersama Ibu. Ibu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Ayah, aku tahu ini menyedihkan. Namun aku juga tahu bukan air mata yang Ayah inginkan. Sebisa mungkin aku menahan air mataku. Aku berhasil selama itu.

Kemudian budhe datang membawa seplastik air. Air doa. Kuusapkan air itu ke wajah dan seluruh badan Ayah. Ayah tahu? Kaki Ayah dingin. Aku takut. Ibu takut dan menangis. Aku memikirkan banyak hal tentang Ayah saat itu. Apa Ibu juga sama? Aku tidak tahu. Aku hanya melihat kesedihan dan ketakutan di wajah Ibu. Aku tidak begitu memikirkannya. Aku fokus berdoa untuk Ayah. Manakala mukjizat datang pada Ayah. Nyatanya tidak.

Dokter datang bersama satu perawat. Memeriksa Ayah. Kemudian berkata harapan untuk Ayah tinggal sedikit dan menyuruh kami semua agar terus berdoa. Ibu menangis Yah. Aku bisikkan ke Ibu dan berkata bahwa dokter tidak selalu benar. Ibu sudah ikhlas, katanya. Doa-doa kami rapalkan untuk Ayah. Semua mendoakan Ayah. Mendoakan untuk kesembuhan Ayah, mendoakan akan datangnya keajaiban, atau mendoakan agar Ayah diberi kemudahan menjelang takdir Ayah meninggalkan dunia ini. Ayah, tahukah perasaan kita saat itu? Tak karuan Yah. Aku tahu Ayah mendengar apa yang Ibu sampaikan pada Ayah. Saat itu Ibu bilang, "Pah, papah masak tega ninggalin mamah. Papah juga kan janji mau liat adek kuliah sampai wisuda." Kami semua menangis. Ayah juga menangis. Termasuk Aku yang sedari tadi menahan sesuatu yang mendobrak ingin keluar dari mataku.

Pukul 16:00 Aku tidak tahu tepatnya pukul berapa Ayah tiada. Nafas Ayah sudah sampai di kerongkongan. Separuh badan Ayah sudah dingin. Nadi di leher Ayah masih. Aku dan semuanya sama-sama membimbing Ayah mengingat Allah. Namun takdir tidak dapat diubah walau sedetikpun. Ayah pulang.

Betapa itu bukan kabar gembira untuk kami semua Ayah. Betapa cepat Ayah meninggalkanku di sini. Aku tidak menangis. Namun rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku.

Minggu, 7 Agustus 2016 pukul 11:00. Ayah dimakamkan.

Out of my reach. But not out of my mind.

Ayah,

Selama tujuh hari kedepan setelah Ayah dimakamkan, aku akan menemui Ayah. Menemani Ayah dengan bacaan ayat-ayatNya. Ada dua malaikat Allah yang akan mendatangi Ayah setelah Ayah dimakamkan. Ayah jangan takut dan jangan getar. Aku sempat mendengar percakapan orang bahwa Ayah itu orang baik, terbuka, ramah, dan rajin beribadah. Ayah, itu semua benar. Jadi aku tahu Ayah tidak gentar di sana. Ayah jangan takut. Kubur Ayah akan lapang dan terang. Ayah akan diberi beberapa pertanyaan dan aku yakin Ayah tahu jawabannya. Aku yakin. Kami semua yakin. Aku akan mendoakan Ayah.

Ayah,

Sudah cukup semua nasihat Ayah untukku. Tapi Ayah, belum cukup bagiku menghabiskan waktu bersamamu. Betapa banyak waktu yang aku lewatkan. Banyak waktu yang aku habiskan bersama teman-teman daripada bersamamu. Bahkan saat mengetahui Ayah cemburu, aku tetap pergi dengan mereka. Maafkan Aku, Ayah. Aku yakin dalam diam Ayah, banyak hal tersimpan di sana.

Ayah, banyak rencana yang belum kita wujudkan. Banyak janjiku pada Ayah yang tak sempat aku tepati. Pun ada janji Ayah untukku yang belum Aku rasakan. Aku tidak marah, Ayah. Karena Aku tahu sebelum Ayah berjanji padaku, Ayah lebih dulu berjanji pada Tuhan. Bahwa waktu Ayah hanya sampai di sini.

Aku tahu betapa Ayah sangat menyayangi kami. Meski seringkali kasih sayangmu tak kau tampakkan. Meski itu sering Aku salah artikan. Sebenarnya Ayah sangat menyayangiku, tak kurang-kurang, seperti Ibu menyayangiku. Terimakasih Ayah. Aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk berterimakasih pada Ayah.

Ayah, akan ada namamu disetiap doaku yang mengudara.

Salam dariku yang rindunya akan terus menggebu untukmu,

Aku mencintaimu Ayah.