Kita sudah saling mengenal sejak berseragam putih-merah. Itulah mengapa, aku tak menyangka hatiku akan berlabuh kepadamu. Semua terjadi begitu cepat, kamu memahami rasaku, akupun memahami rasamu. Walau kita sepakat untuk tidak berada dalam ikatan apa-apa, namun kita tahu bahwa kita bisa meyakini hati satu sama lain.

Belum lama kita saling bercerita lebih jauh tentang diri kita, kamu berucap akan mengabdi ke ujung Indonesia. Tempat di mana mentari terbit paling awal di Nusantara, satu-satunya tempat yang memiliki salju abadi di puncak tertingginya. Aku tahu, aku (masih) bukan siapa-siapa untukmu. Namun dengan kenyataan kamu memintaku turut berpendapat tentang masa depanmu, membuatku cukuo yakin dengan “keberadaanku” di rancangan masa depanmu.

Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Sedikit rasa senang muncul di hatiku ketika engkau mengabarkan ketidaklulusanmu untuk mengabdi di sana. Bukan karena apa-apa, hanya karena keegoisanku memikirkan kamu akan berada di ujung timur Indonesia, dan aku berada di barat Indonesia. Namun, aku segera sadar bahwa itu sesungguhnya adalah salah satu mimpi terbesarmu yang seharusnya aku dukung. Jujur saja, aku heran dengan kebar ketidaklulusanmu. Aku tahu betul kemampuanmu, yang dengannya kamu pasti akan bisa melewati segala rangkaian tes dengan hasil yang baik. Benar saja dugaanku, hanya selang sehari kamu kembali mengabariku dengan berita bahagia kelulusanmu. Ahh, rejeki memang tidak kemana. Katamu, apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, akan kembali pada kita, tidak akan pernah tertukar. Aku turut berbahagia dengan kabar itu. Mungkin waktu sehari (dengan kabar ketidaklulusan) adalah cara Allah untuk aku mempersiapkan hatiku untuk menerima dengan baik kelulusanmu.

Ketika hari keberangkatanmu datang, tanpa aku minta air mataku jatuh. Bukan hanya sejam-dua jam, namun hingga tiga hari berlalu aku masih berusaha menata kembali perasaanku. Kamu tahu, hujan menemaniku menumpahkan air mata, membantu membuatku lega. Aku sadar, aku (masih) bukan siapa-siapa untuk menangisi kepergianmu sebegitunya. Tapi entahlah, dalamnya hati tak bisa diduga. Hanya air mata yang mampu mengerti bagaimana cara menyamankan hati kembali. Aku yakin, pengabdian ini akan bermanfaat untukmu, dan juga kehidupan kita di masa mendatang. Pengabdian yang akan menempamu menjadi lelaki yang lebih hebat lagi, lelaki yang lebih tangguh lagi, dan tentunya bersahaja.

Dua tahun, awalnya kukira bukanlah waktu yang lama. Namun, seminggu saja ternyata sudah membuatku kacau balau. Ditambah dengan berkurangnya keintens-an komunikasi dikarenakan jaringan seluler. Tapi aku tahu, aku harus bisa membawa kehidupanku menjadi normal kembali. Senormal sebelum aku bertemu rasa denganmu. Kamu yang kuat, harus didampingi wanita yang kuat pula. Aku harus bertahan.

Advertisement

Dengan hubungan yang sepakat tidak kita ikat, aku akan sabar menunggumu kembali. Kamu memang tidak pernah meminta, bahkan kamu mempersilahkan aku menjalani kehidupan baru jika seandainya selama pengabdianmu aku menemukan seseorang yang “katamu” lebih baik darimu. Tapi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menunggu lelaki hebat sepertimu. Kamu yang mampu membuatku kembali tersenyum ketika moodku sedang jatuh, kamu yang telah mengajarkanku untuk yakin dalam mengejar mimpi. Kamu lelaki hebat, kamu memiliki banyak nilai positif di mataku. Semangatmu yang tak pernah luntur, keikhlasanmu menerima takdir, kecemerlanganmu menatap masa depan, juga keinginanmu untuk mengabdi mencerdaskan putra-putri bangsa ini dan memberi manfaat bagi negeri. Rasanya tak salah bagiku untuk menanamkan keyakinan menunggumu. Bahkan untuk lelaki sepertimu, aku yakin dua tahun bukanlah waktu yang lama. Bahkan, penantian seumur hidupkupun layak kamu peroleh.

Untukmu, lelaki yang tengah mengabdi di ketinggian 2100 MdPL Papua, gapailah citamu mencerdaskan putra-putri bangsa. Negeri elok bongkahan surga, tentunya layak memperoleh generasi-generasi penerus yang hebat. Aku yakin, di tanganmu semua akan terwujud. Tularkan cita-cita besarmu kepada mereka. Bermanfaatlah sebanyak-banyaknya di sana, jadikan mereka anak-anak yang mempunyai cita-cita lebih tinggi daripada Carstensznya. Mengabdilah untuk Indonesia!

Aku? Jangan cemaskan aku. Aku yakin akan menunggu. Menunggu sembari membaikkan diriku, agar setara aku denganmu. Menunggu hingga tuntas dengan baik pengabdianmu. Ambil pulalah banyak manfaat bagi dirimu. Lantas jemputlah aku untuk menempuh hidup yang baru.