Semua masa lalu pasti mempunyai porsinya masing-masing. Dan mungkin masa lalu ini adalah PR yang belum kita selesaikan.

Hai masa laluku.. Atau bisakah ku sebut kau (masih) lelakiku? Apa kabarmu hari ini..? Bagaimana hari ini..? Bagaimana kabarnya..? Perempuan yang mendampingimu melewati hari-harimu. Bisakah kau lepaskan aku sekarang? Pertanyaan yang sama yang aku lontarkan setiap harinya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau dan dia akan baik-baik saja. Sakit yang kau tinggalkan dulu masih tersisa, dan sekarang kau tambah luka lain dan dia pun ikut membuat luka di diriku. Tapi tenang saja aku bisa mengatasi semua sakit yang kalian berikan.

Memahamimu dan memahaminya terasa sama saja. Layaknya memahami anak kecil yang tengah manja. Dan aku harus berperan sebagai anak tertua.

Hah.. Lelah pasti. Tapi mau tak mau aku harus melakoni peranku. Menyamankan diriku mengikuti alur yang kalian mainkan. Tenanglah sayang, aku sudah khatam merasakan sakit dan arti dari kata menunggu. Jangan risaukan aku. Kejarlah impianmu, jika itu yang kau mau sekarang. Janganlah kau jadikan beban semua masalah yang ada di depanmu sekarang.

Lelah rasanya ketika dia (perempuan yang ada di sampingmu sekarang) memintaku setiap hari untuk menjauh darimu. Apa tanggapanmu? Jika kau mengiyakan maka aku akan benar-benar pergi darimu. Namun sementara waktu aku harus menunggu dalam ketidakpastian (lagi).

Advertisement

Hey.. c’mon dude..!! Menunggu tak sebercanda ini.

Aku butuh kepastiaan secepatnya. Jika meninggalkanmu adalah cara yang terbaik untuk menjaga bahagia kalian, akan kulakukan itu. Meskipun harus ku korbankan bahagiaku sekarang. Sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Aku menunggu keputusanmu wahai lelakiku..

Selama ini yang aku tau aku ada di antara kalian hanya untuk membantu kalian menyelesaikan masalah kalian sendiri. Ini bukan tentang kita. Melainkan hanya tentang kau dan dia. Lalu apakah kalian mengerti bagaimana rasanya menjadi diriku? Ahhh.. Andaikan Tuhan mengizinkan kalian mencoba melakoni peranku sehari saja, akankah kalian sanggup menahan beban sebanyak dan seberat itu? Tanpa mengeluh, tanpa dibantu, tanpa bersandar? Jangankan untuk bersandar, berhenti melangkah saja rasanya tak mungkin.

Tuhan mengharuskan aku untuk mengerti kalian, mendoakan kalian, merelakanmu dengannya. Ya.. aku bisa, karena Tuhan tak pernah meninggalkanku sendiri.

Tapi tolong jangan kau paksa lagi hatiku untuk melupakan masa laluku. Aku paham betul akan PRku untuk melupakannya.

Yang aku tunggu (lagi) saat ini adalah keputusanmu sayangku. Cepatlah selesaikan pekerjaan rumahmu yang satu ini…