Dari semua yang pernah kita lalui, dari sekian waktu yang pernah kita lewati, pernahkah terbesit dalam benakmu akan diriku? Dalam lamunanmu, pernahkah kau memikirkan akan diriku? Ketika semua hal yang pernah kita lakukan, akankah dirimu ada untukku? Aku sangat merindukanmu. Sahabat

Heningnya pagi, lembutnya mentari, terbesit keceriaan diantara kita. Di pagi itu kita berbagi cerita, sebuah cerita yang tidak siapa pun dari mereka mengerti. Hanya kita, iya kitalah yang memiliki dunia ini.Entah mulai kapan langit membisu,dan entah kapan angin berhenti berhembus, tapi aku dan dirimu masih memiliki berjuta cerita yang kita bicarakan. Hingga kita tidak peduli dengan keadaan yang ada di sekitar. Mungkin itu yang aku bayangkan saat aku mengingatmu, kawan. Betapa menyenangkannya dunia kita dulu. Sekolah itu menjadi saksi, putih abu-abu ini menjadi pengingat kita, entah bagaimana kita dulu bertemu, mungkin diriku telah merasa bahwa kau adalah sahabatku. Ingatkah engkau bagaimana dulu kita selalu tertawa, menangis bahkan bertengkar? Saat aku membuat kesalahan padamu, rasa bersalahku selalu menghantuiku. Ketidaknyamanan diantara kita membuatku tidak bisa berpikir. Sungguh hal-hal kecil itu selalu terbayang dalam lamunanku. Ibarat pohon. Dan pohon tidak akan tumbuh tanpa ada tanah dan air yang menutrisinya. Jika aku pohon itu, aku ingin kau menjadi hujan. Yang akan selalu ada saat aku membutuhkanmu. Yang akan selalu tumbuh akan air yang kau turunkan padaku. Walau terkadang langit menjadi penghalang kita untuk bertemu. Langit yang selalu menjadi penentu aku dan kau bertemu. Langitlah sang waktu itu. Waktu yang membuat kita jarang berjumpa. Waktulah yang membuat kita tidak bisa seperti dulu lagi.

Tapi, apa kau melupakan janji kita? Sebuah janji yang kita ucapkan untuk selalu mendukung satu sama lain, janji saat dimana kau akan ada untukku saat aku sedang bersedih. Di tengah gelapnya malam, heningnya langit, dan derasnya hujan, entah untuk sekian kalinya. Aku menangis, aku berharap dirimu ada dan memberikan nasihat-nasihat seperti yang biasa kau lakukan padaku. Memberikan motivasi yang dapat memberiku semangat. Sekali lagi, inilah kenyataan yang aku terima, bahwa sang waktu yang menjadi penghalang, kawan.

Dengan kesaksian langit, kegelisahanku kini berkurang, mungkin kau disana telah menemukan sahabat baru. Dan mungkin disana kau telah menemukan kekasih hatimu yang selalu ada untukmu. Tapi, aku akan selalu percaya bahwa persahabatan ini tidak akan berakhir. Langit boleh gelap setiap saat, dan hujan boleh saja turun setiap waktu. Tapi, hatiku tidak dapat berubah gelap setiap saat, atau menangis setiap waktu seperti hujan. Ingatan dirimu yang terkadang melesat begitu saja dalam lamunanku, mengajarkan akan satu hal. Bahwa kita tidak akan pernah memutus tali persahabatan ini. Aku tahu kau juga berpikiran sama denganku. Seberapa pun waktu mempermainkan kita, seberapa pun jarak menertawakan kita, selalu ingat akan janji ini. Bahwa kita, adalah sahabat, selamanya akan menjadi sahabat. Hingga nantinya kita bertemu dan menggenggam mimpi kita.