Aku tidak pernah tau, kenapa semua ini bisa terjadi. Semua mengalir begitu saja dalam kehidupanku tanpa aku pernah sadari. Berawal dari hal yang tidak biasa, semua berawal dari suatu wawancara. Wawancara yang sebenarnya hanya meminta suatu informasi sealakadarnya demi memenuhi suatu tugas di masa awal kuliah.

Dari situ, aku mulai sedikit mengenalmu. Tapi tak pernah terbesit bahwa perkenalan itu adalah awal mula semua ini. Semua yang pada akhirnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Semua yang sudah direncanakan, namun belumm mendapat persetujuan dari Sang Maha Pengatur Kehidupan. Semua yang mungkin akan menjadi salah satu kenangan, sama seperti yang telah terlewati begitu saja.

Mengenalmu bukan menjadi suatu prioritasku dulu, kita tak pernah bertemu sebelumnya. Hanya pertemu pada momen dimana menjadi kewajibanku untuk menularkan suatu ilmu kepadamu. Walaupun begitu, tetap tidak ada hal yang membuatmu menarik untuk diperbincangkan apda awalnya. Hingga suatu saat "rasa" itu tiba-tiba datang dalam segelintir rutinitasku.

Memang sempat hilang rasa itu seiring perjalanan ini. Walaupun sempat "singgah" pada pandangan lain, sekali lagi, "rasa" itu kembali untuk mempertanyakan sesuatu yang belum pernah aku jawab.

Lambat laun, semakin dipahami, rasa ini semakin menjadi, semakin juga menggugahku untuk mencoba memasuki "kehidupanmu". Memulai mencari alasan, kenapa rasa ini harus diperjuangkan, dan mencari jawaban tentang bagaimana rasa ini bisa tumbuh menjadi sesuatu hal yang tak menentu.

Advertisement

Menjadikanmu salah satu lantunan dalam doa disetiap sujudku, mulai menjadi suatu kebiasaan yang aku lakukan.

Atas dasar apa itu, aku juga tidak pernah mengerti, semua itu mengalir begitu saja tanpa pernah aku bahas dengan logikaku yang selalu menolak untuk "memulai kembali". Karena memulai kembali menyelami hal itu penuh banyak resiko dalam masaku yang hampir habis ini.

Ketika aku tau, kamu juga mempunyai rasa dengan persinggahan lain, sebenarnya aku sadar untuk tidak melanjutkan rasa ini. Tapi, sesuatu memintaku untuk bertahan. Bertahan untuk beberapa waktu, untuk membantumu yang memang sedang dalam kewalahanmu. Aku pun sadar, tujuanku berganti, dari yang awalnya ingin berjuang, menjadi aku yang ingin membantu walau akhirnya akan pergi. Karena rasa adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan.

Ketika semua kewalahanmu sedikit demi sedikit mulai usai, aku pun memberanikan diri untuk bertanya dan mempertanyakan rasa ini. Memang semua itu tidak seindah apa yang kurencanakan, kamu memilih dengan apa yang ada dalam pilihamu, walau naifku berkata "Semoga kamu bisa berubah pikiran". Walaupun aku tau, aku tidak akan bisa merubah semua itu.

Untukmu, suatu harap yang menunggu kepastian…