Untukmu, yang akhirnya kuucapkan selamat tinggal, aku masih mengasihimu sebagaimana awal kita berkenalan dan awal aku diam-diam mulai menyukaimu, dulu.

Apa kabarmu?

Ini sudah seminggu setelah pertemuan terakhir kita. Aku hanya memikirkan kembali bagaimana akhirnya kita bisa bertemu untuk terakhir kalinya setelah dua tahun lebih kita tidak bertemu.

Hei. Aku hanya selalu berimajinasi tentangmu, bukan? Setelah empat tahun lamanya kita kenal dan aku menceritakan banyak hal padamu. Akhirnya, aku benar-benar mengucapkan selamat tinggal untukmu. Sungguh berat rasa hatiku mengucapkan dua kata tersebut. Namun, saat ini itulah pilihan terbaik untukku. Pilihan yang bisa mengembalikan diriku ke dunia nyata.

Aku, selalu merasa bahwa kamu adalah imajinasiku yang tanpa batas. Setiap aku mengingat dan merindukanmu di hari-hariku, aku selalu merasa bahagia. Aku merasa bahwa ada kamu yang akan selalu menggandeng tanganku dan mengarahkanku ke tempat aku bisa tertawa bahagia. Bahagia karena hadirmu.

Advertisement

Apa yang kamu pikirkan sekarang? Tidakkah aku terlalu konyol untukmu? Aku menunggu waktu selama empat tahun hanya untuk mengetahui bagaimana perasaanmu terhadapku. Itupun, bukan kamu yang menyatakan langsung. Aku harus bertanya dengan bodohnya, apakah kamu sayang? Apakah kamu suka padaku? Sampai akhirnya, aku benar-benar sampai pada kesimpulan bahwa memang dari dulu sampai sekarang pun, hanya aku yang berimajinasi tentang kita.

Keputusanku, untuk mengucapkan selamat tinggal bukan karena aku tahu bahwa kamu tidak pernah sayang padaku. Tapi, itu sudah kuputuskan beberapa minggu sebelum pertemuan kita. Keputusan yang sangat berat untukku. Tapi, aku berharap dengan keputusan ini, aku sadar bahwa ada masa depan lain yang menunggu. Masa depan yang tidak kulihat selama ini karena aku mengunci hatiku untukmu.

Sebenarnya, banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Namun, aku rasa semua sudah lebih dari cukup. Aku sudah terlalu banyak mengaku padamu tentang hatiku, tentang semua hal. Dan kamu tahu itu lewat tulisan yang kutitipkan padamu, sebuah kenangan dalam buku putih. Lewat buku itu, aku berharap kamu mengerti bahwa aku tulus mengasihimu dari dulu sampai sekarang.

Doaku, kamu baik-baik saja dan semoga bahagia.