Ingat saat pertama kita membicarakan pasal 'perasaan' ? Mata kita berdua beradu, begitu bersemangat, tidak ingin rasanya berhenti bicara. Kau katakan perasaanmu, dan kukatan perasaanku.

Hei! betapa bahagianya hatiku ketika tahu saat itu kita memiliki 'perasaan' yang sama.

Tak butuh waktu lama untuk membuat aku nyaman, sikap dan sifat mu begitu lihai kau buat didepanku. Seakan aku 'tidak akan pernah' hilang di benakmu. Dan ya, hal itu membuat aku berfikir.

Ya, kau lah yang diberikan-Nya untuk ku

Hingga sebegitunya kau membuatku berharap. Hingga sebegitunya kau meyakinkanku bahwa kelak kita akan 'bersama'.

Advertisement

Kau tahu? Aku percaya. Ya, sangat percaya.
Saat itu juga kau seakan 'memaksa' ku untuk menjadikan namamu sebagai topik utama pembicaraanku dengan Tuhan. Benar, setiap sujud dan doaku selalu ada namamu berdampingan dengan nama Orang tua dan adikku. Hebat bukan?

Begitu inginnya aku agar Tuhan mewujudkan apa yang kau sebut dengan 'bersama' itu.

Hingga semuanya kau ingkari.

Kata apa lagi yang harus aku gunakan untuk mendeskripsikan perlakuan mu? Kau sadar? kau menjajikan 'sesuatu' untuk aku, dan dengan mudahnya kau berpura-pura lupa! Ya! BERPURA-PURA LUPA. Apa maksudmu sebenarnya?

Ada apa denganmu? Apa memang begitu caramu bermain denganku? Ketika apa yang kau mau kau dapatkan, hilang lah semua niat baik. Berkali-kali maaf kau sebut, berkali-kali kau ku maafkan, dan berkali-kali juga kau membuat kesalahan yang sama! Kau masuk ke lubang yang sama!

Kau! Kau memang bodoh atau apa?! Bagaimana bisa kau berkata 'Aku lelaki, kalau hanya denganmu aku bosan. Pahamilah'.

Aku lelah.
Terlebih lagi, aku kecewa.

Sudah, aku lelah. Berkali-kali air mata ini tumpah untuk mendoakan mu dihadapan-Nya, apalagi air mata ku tidak seputih susu bagaimana bisa sampai hati kau membalasnya dengan tuba?

Dan sekarang setelah semua tuntas ku akhiri. Setelah semua ku tinggalkan. Setelah habis sudah kata untuk menjelaskan semuanya kepadamu, menjabarkan semua kesalahanmu.

Lalu dengan entengnya kamu bertanya 'Mengapa bukan namaku lagi yang kau jadikan topik utama dengan Tuhan?'

Ya. Bukan namamu lagi, namamu telah menjadi aksara lama dihidupku. Tak terbaca.

Kau tahu? Aku bersyukur, aku bertemu 'dia' yang tidak menjanjikan 'sesuatu' sepertimu, melainkan melakukan 'sesuatu'. Aku bersyukur Tuhan mengizinkan aku untuk bertemu 'dia' yang menyelamatkan hidupku dari penjajah sepertimu.

Dan maaf, sekarang 'namamu' sudah tidak terpakai. Sekarang, 'namanya' lah yang selalu kusebut disetiap sujud, setiap malam, setiap derai hujan membasahi bumi, sampai 'maut' memisahkan.

Dia, yang menghalalkan ku dijalan-Nya.
Aamiin.