Hai, namaku…

Selamat pagi, aku tidak sengaja melihatmu sedang asik menikmati pemandangan sambil tersenyum tadi…

Aku sebenarnya sudah lama mengenalmu, tapi…

Oh, kata-kata itu bukanlah kata yang rumit 'kan? Ya, hampir semua teman-temanku berkata begitu. Namun, tahukah kau memulai suatu percakapan bagiku adalah hal yang sulit? Memandangimu saja aku sudah cukup bahagia. Kemudian aku pun berfikir mengapa begitu rumit bagiku untuk dapat menegurmu kala itu? Mungkin aku terpenjara oleh perasaan takut diacuhkan olehmu? Atau aku sendiri tak mampu melangkah dari ketakutanku sendiri. Tahukah kamu ini adalah pertama kalinya aku begini? Aku terus berbicara dalam hati seolah berdebat dengan diriku sendiri mengapa aku sampai saat ini tak mampu mengenalmu lebih dari sebelumnya?

Aku bukanlah seperti mereka yang baik baik saja jika diacuhkan oleh seorang yang mereka kagumi, mungkin memang perasaan mereka tak seperti perasaanku yang begitu mengagumimu. Aku bingung tapi juga malu pada diriku sendiri, mengapa aku tak memiliki cukup keberanian untuk dapat mengucapkan sepatah katapun padamu ? Ah, begitu rumit perasan itu hingga akupun tak dapat mengungkapkan mengapa aku hanya diam saja saat kau mulai mengembangkan senyum itu di wajahmu

Advertisement

Aku ini kecewa pada diriku sendiri. Kecewa? Ya, bahkan sangat kecewa saat aku memiliki kesempatan untuk bisa berjabat tangan denganmu aku justru kikuk! Begitu ramai hatiku melonjak lonjak dan adrenalinku terpacu karenanya ! Ah, mungkin kamu tak akan bisa percaya atau bahkan membayangkan betapa aku begitu lemah mengendalikan emosiku sendiri saat aku sedang bertukar pesan atau bahkan bertemu denganmu.

Aku tau bahwa pikiranku mulai mempengaruhi segala hal yang aku lakukan tetapi perasaanku yang kian bergejolak padamu mempengaruhi hatiku yang juga memikirkan kamu!

Sulit bagiku memang untuk dapat memulai percakapan, bahkan aku memulai dengan kode-kode yang aku harap kamu akan mengerti dan langsung paham dengan usahaku saat itu. Dan untuk yang kesekian kalinya! Aku ini bodoh dan tak dapat berfikir jernih, karena mungkin saja kamu terlewat dengan setiap kode-kode yang kubuat, kamu berfikir bahwa itu sebenarnya bukan ditujukan padamu, hingga berfikir bahwa aku menyukai orang lain dan orang itu bukan kamu! Ah, betapa rumitnya hatiku merangkai setiap kata untuk dapat berbicara denganmu bahkan mengetahui keadaanmu. Akan tetapi memang aku hanya seorang pengecut!

Ku akui, bahkan untuk menemui dan menyapamu saja aku tak sanggup. Aku bahkan hanya mampu memimpikan dirimu! Betapa ilusiku bermain mendominasi alam bawah sadarku yang memang dipenuhi dengan setiap perkataanmu, suaramu, wajahmu, bahkan aku terperangkap dalam ilusiku sendiri untuk dapat menjalani sisa hidupku bersamamu. Ya, hanya bersamamu. dan aku memilikimu saat itu, saat dimana aku bisa tersenyum dalam lelap di bawah bintang yang terus berkelip menerangi wajahmu di hatiku, aku membayangkan betapa kita adalah pasangan yang hebat. Saling mengisi dan memberikan apa yang kita punya sepenuh hati ini sepanjang hidupku, aku rasa aku hanya akan tersiksa dalam angan ini jika aku terus menerus membayangkan hal itu. Namun, hanya itu yang dapat aku lakukan. Hanya itu yang dapat aku harapkan bersamamu!

Membayangkan bahwa kamu memilihku untuk mengisi hari harimu adalah sebuah impian menakjubkan yang dapat mengubah kosongnya ruang hati ini yang terus-menerus bergaung menggemakan rindu kepadamu, hingga waktu dimana kamu juga sebenarnya memilihku, ruang di hatiku bahkan terus menggaungkan namamu.