Hai, kamu!

Aku adalah sosok yang mungkin tak kau lihat. Sosok yang hampir setiap hari memandangimu dalam gelak tawa, obrolan, dan pandangan tak perduli. Sosok yang jelas, sama sekali tak kau hiraukan. Tahukah kau jika sejak awal aku telah menulis diam-diam namamu di sela hatiku? Bahwa diam-diam juga aku sering membisikkan namamu itu dan kucurhatkan kepada Tuhanku? Kau takkan pernah tahu. Karena aku lebih memilih untuk melakukannya dalam diam.

Jika saja kau mau duduk tenang di hadapanku dan mendengarkan segala cerita tentang awal aku merasakan semuanya. Akan kuutarakan tanpa perlu membuatmu bertanya. Membuatmu juga –mungkin- ikut terdiam seperti kediaman yang selalu kutampilkan. Namun, akankah kau begitu? Karena nyatanya, sedikit saja gerak darimu mengisyaratkan bahwa kau tak pernah melihat bayanganku.

Maka, sejak kutahu bahwa kau hanya menganggapku seperti angin. Dan kudengar dari bisikan riuh bahwa kau telah menamatkan hatimu ke yang lain. Aku mengganti cara. Katakanlah ini begitu licik dan memaksa. Namun, aku tak peduli. Sebab yang kutahu, sejak awal aku telah menulis namamu itu dengan sayatan pisau. Tak dapat dihilangkan. Kau membekas, tapi terasa sangat menyakitkan.

Maka, malam itu. Malam esoknya, dan esoknya lagi. Hingga tadi malam. Aku duduk di lantai kamar ketika jangkrik dan dengkur masih bernyanyi di atmosfer bumi. Kuceritakan semuanya pada “sosok” yang juga tak berbayang, yang dengan jahatnya membiarkanku mencintaimu dalam diam. Dan tahukah kau? Malam tadi… ada sebuah pertanyaan yang mengalir darinya, di antara hembus tiap namamu itu…

Advertisement

“Sakitkah jika kau terus mencintainya dalam diam?”

"Sakitkah? Mungkin."

"Namun aku bisa apa, kecuali juga hanya menjawabnya dalam diam?"