UNTUK KAMU YANG BERADA JAUH DARIKU

Untuk mu, lelaki yang tidak mudah untuk ku jumpai, percayalah aku tuliskan ini memang untuk mu. Bukan bermaksud mempublikasikan privasi, tapi ketahuilah ini untukmu, yang aku ingin kamu tahu. Kita tidak seperti pasangan lain, yang bebas bertemu kapanpun mau, yang bebas bertemu ketika rindu, yang bebas bertemu bahkan hanya untuk membeli makan bersama. Kita tidak seperti yang lain, yang pertanyaan 'selamat pagi', 'lagi apa', atau 'sudah makan belum' melalui pesan teks hanya biasa saja. Untuk hal-hal kecil seperti 'Semangat untuk hari ini!!' pun bahkan membuat ku meleleh setiap mendengarnya.

Ketahuilah aku pun ingin, meminta kamu mengantarku ke kampus, mengantarkan aku belanja, dan terutama mengajakku bermalam minggu, seperti halnya yang pasangan lain lakukan. Tentu, tentu kita pun ingin.

UNTUK KAMU YANG KUCINTAI MELALUI CARAMU

Kita sudah saling tahu begitu sulit hidup dalam kerinduan yang mengerikan. Tapi bahkan kamu terkadang tidak mengerti juga. Kamu yang terlalu apa adanya, tidak sebegitu humoris, apalagi romantis. Kamu yang selalu menyebalkan karena sering menghilang tanpa kabar bahkan melalui pesan teks pun. Kamu yang disetiap kita berbicara melalui telefon selalu membahas wanita lain, kecantikan wanita lain, kamu yang selalu mengejekku karena kejelekanku. Aku memang tidak seindah mereka, ketulusanku bahkan dengan sekejap bisa dikalahkan oleh kecantikan parasnya. Ketahuilah, aku cemburu.

Advertisement

Tapi aku mencintaimu melalui caramu. Kamu yang entah kenapa selalu muncul di fikiranku. Kamu yang tidak mau pergi dari hatiku. Kamu yang tidak mau aku kehilanganmu. Kamu yang selalu mampu membuatku menyadari akan diriku. Kamu yang selalu membuatku tenang dan gelisah. Kamu yang aku pilih diantara banyak pria. Aku selalu bahagia ketika pagi mendengar handphone ku mulai terdengar dering yang ku tahu itu darimu. Bahkan pesan teks pun aku atur agar deringnya berbeda dengan yang lain. Kamu yang dalam handphone ku aku golongkan pada orang-orang khusus dan istimewa. Meskipun kita jauh dan tidak selalu bersama, namun setiap hari dengan mendengar suaramu lewat telfon gratisan itu, aku menemukan duniaku. Meski terkadang aku malu kepada teman-teman, karena bahkan dijalanpun kita lewati bersama melalui telfon. Aku menemukan kebahagiaanku. Ingatkah bahwa kita selalu melewati malam bersama, lagi-lagi melalui telfon? Meski mata mengantuk, percakapan itu selalu saja membuatku bisa melewatkan waktu tidurku, yang iitu tidak pernah aku lakukan dengan lelaki mana pun, hanya kamu.

Kamu yang membuatku telah jatuh dengan seindah-indahnya dan sesakit-sakitnya. Kamu yang selalu membuatku menangis dan tertawa. Kamu yang humoris dan apa adanya, meski terkadang itu keterlaluan. Kamu yang tidak suka aku memakai kerudungku secara modern dan fashionable. Kamu yang tidak mampu lagi aku bagaimana untuk mendeskripsikan alasanku mencintaimu. Karena kamu yang aku pilih di hatiku dan di hidupku.

UNTUKMU YANG SAAT INI SEDANG BEKERJA KERAS

Awalnya aku rasa tidak sulit untuk menjalin hubungan dengan jarak yang mencampuri. Aku salah. Tidak ada hubungan yang sesimpel itu. Tidak ada! Tidak cukup hanya dengan aku dan kamu yang saling mencintai. Tidak cukup.

Awal yang indah itu, telfonan setiap hari setiap waktu, canda dan tawa itu, perhatian itu, sekarang perlahan berubah pada hubungan yang orang lain juga takutkan dari LDR. Tidak ada lagi handphone yang setiap pagi berdering darimu atau dariku. Tidak ada lagi begadang sampai dini hari dengan handphone panas yang menempel di telinga. Sekarang seakan itu hanya sponsor yang numpang lewat.

Dan aku pun mulai berubah. Aku menjadi menyebalkan dan mengganggumu setiap waktu. Aku menjadi galak dan pecemburu, curiga selalu ku tuduhkan tak beralasan. Itu semua karena aku merindukan kita yang dulu, sayang.

Tapi aku tahu, tidak seharusnya sikap demikian kutunjukkan. Kamu sedang sibuk, bekerja untuk menghormati pekerjaanmu yang mulai membuatku kesal itu. Aku tahu kamu lelah, bahkan lebih lelah dari diriku. Aku tahu kamu kesal dengan keadaan ini, melebihi kekesalanku. Aku tahu kamu sendiri disana dan tidak ada yang mengerti kamu. Dan yang paling menyebalkan adalah aku, yang seharusnya sudah mengerti kamu, tetapi tiba-tiba menjadi sangat mengganggumu.

'Sesibuk itukah hingga bahkan tidak bisa mengambil handphone dan say 'hay' padaku sekedar memalui pesan teks?' pertanyaan itu selalu muncul dan membuatku kembali selalu mengganggumu. Kukirimkan pesan berkali-kali bahkan terkadang memaki. Ku telfon berkali-kali dengan kesal bahkan kadang mengumpat. Aku bahkan menangis karena kecewa sebagai kekasihmu tapi tidak tahu keberadaanmu.

Maafkan aku untuk akhir-akhir ini menjadi teror bagimu. Maafkan aku yang menuduhmu sedang mempersiapkan diri meninggalkanku. Maafkan aku… Aku tahu dirimu lelah, dan hanya satu inginku, yaitu untuk tidak membuatmu sendiri.