Hujan selalu membuatku merindukannya. Tatapan sayunya, suara lembutnya, genggaman tangannya dan peluk hangatnya tak pernah henti membuatku merindu. Dia bukan laki-laki sempurna. Bahkan jauh dari kata sempurna. Bukan harta melimpah yang ia miliki. Tapi limpahan kasih sayangnya padaku yang tak pernah berkurang. Bukan karir mapan yang ia jalani. Tapi usahanya untuk memberikan masa depan layak untukkulah yang ia tekuni. Bukan rumah mewah yang ia sediakan untuk aku huni. Tapi kehangatan penghuninyalah yang ia yakini bisa aku nikmati.

Sosok sederhana dengan hidung menjulang, mata cokelat bening, rambut pirang kecokelatan dan kulit putih khas ras Kaukasoid itulah yang membuatku tergila-gila. Perjumpaan kami di dunia maya menjadi awal dari perkenalan yang sampai saat ini masih ku nikmati perjalanan kisahnya. Sebuah sapaan yang berujung dekapan. Perbincangan singkat hingga menjadi tawa yang melekat. Pertemuan maya yang berbuah nyata. Aku dan dia adalah jarak yang akhirnya bisa menyeruak. Bertatap tanpa sekat. Menggengam tak ingin lepas.

Kebersamaan yang kami pintal bukan atas dasar persamaan. Aku dan dia dilahirkan dengan perbedaan. Bukan hanya tentang perbedaan sifat dan pola pikir. Tapi tentang prinsip dasar hidup seorang manusia pun kami tak pernah dan tak akan pernah berjalan beriringan. Bahkan untuk hal kecil seperti jenis kesukaan minuman teh dalam kemasanpun, kami berbeda selera. Tak ada satupun kesamaan dalam diri kami, selain kami sama-sama saling melangkah dengan arah yang sama dan siap menuju masa depan yang kami awali dengan perbedaan ini.

Wanita itu makhluk yang sangat unik. Aku pernah mendengar ada pernyataan seperti itu. Dan aku akui, pernyataan itu benar adanya. Seringkali aku ingin tertawa ketika aku menangis. Kadangkala pun aku merengek menginginkan sesuatu yang sebenarnya aku pun tahu kalau itu tak baik untukku. Dan ia adalah lelaki yang bisa menjadi unik dengan caranya untuk masuk dalam ranah keunikanku. Bagaimana tidak jatuh cinta dengan sosok manis seperti itu?

Aku dan dia adalah dua sosok yang selalu berusaha untuk menggenapkan. Kami tak pernah menjadi yang paling istimewa. Karena bagi dia, bagiku dan bagi kami, sebuah kata saling akan semakin membuat kami menjauhi kata paling. Dia pernah berkata padaku, ketika suatu waktu kamu merasa yang paling dalam kapal yang sedang kita tumpangi ini, maka pasti ada kepongahan di dalamnya dan perlahan-lahan, air akan masuk dan menenggelamkan kapal yang kita tumpangi. Bukan aku atau kamu yang ditenggelamkan. Tapi kita dengan banyak mimpi yang kita bawa dalam kapal itu.

Advertisement

Dia bukan lelaki dengan sejuta kata manisnya. Bukan pula sosok yang menghujani hariku dengan emoji romantis penakluk hati. Tapi dia adalah sosok yang pernah marah padaku ketika aku masih kekeuh dengan apa yang aku inginkan tanpa mengindahkan apa yang ia telah sarankan dan keesokan harinya ada sebuket bunga cantik sekaligus boneka beruang kecil tanpa sebuah kartu ucapan yang tiba-tiba telah ada di meja kerjaku padahal hari masih sangat pagi.

Dia selalu menyempurnakanku dengan caranya. Dia tak pernah membuatku terintimidasi jika aku melakukan kesalahan. Dia akan selalu membiarkanku dengan pilihan-pilihanku sambil terus mengawasi gerak-gerikku. Tak pernah dia membiarkanku terkekang menjalani hari-hariku dengannya. Dia memperlakukanku sebagaimana aku selalu ingin diperlakukan. Dia selalu bilang, “bukan untuk memanjakanmu, tapi aku ingin menjadi air dalam setiap kobaran apimu, dan aku ingin selalu menjadi contoh untuk setiap tindak tandukmu”.

Dia mengajariku cinta dengan cara yang berbeda. Tanpa pernah memperlihatkan amarahnya, ia selalu membuatku paham dengan kemarahannya. Dengan nada bicaranya yang lembut pun aku bisa paham jika ada yang aku lakukan dan tak disukainya. Diamnya ketika aku mulai tak bisa mengontrol emosiku menjadi pereda emosi yang terbaik. Belaian lembutnya di kepalaku membuatku menyadari bahwa melampiaskan emosi bukan cara yang baik untuk mengungkapkan apa yang bergemuruh dalam hati.

Pundaknya menjadi tempat terbaikku untuk merebahkan kepalaku dari penatnya hari-hari yang aku jalani. Senyumnya menjadi suplemen berdosis tinggi bagi organ tubuhku. Pelukan hangatnya menjadi pesaing dari selimut kesayanganku ketika dingin merasuk kulitku. Suara lembutnya menjadi simfoni yang selalu ingin aku dengarkan. Dari matanya aku seakan bisa melihat seisi dunia. Dia benar-benar sosok tak sempurna yang memberiku kesempurnaan dalam hidup.

Dia selalu dan hampir sering berkata padaku bahwa apapun yang dia lakukan bahkan hal kecil yang mungkin tak ada artinya bagi orang lain hanyalah satu dari sekian banyak cara untuk membuatku bahagia. Membuatku nyaman di sampingnya dan pada saatnya nanti, tak ada alasan untuk berkata tidak jika ia membawaku ke sebuah taman kupu-kupu yang di dalamnya terdapat tulisan “will you marry me”. Itu yang selalu dia ucapkan dengan wajah tersipu malu dan genggaman tangan yang tak kalah kuatnya.

Dengan segala perlakuan manisnya padaku, tak ada cara lain yang aku lakukan selain merangkulnya dengan segenap rasa yang aku miliki. Aku tak lagi memberinya sejumput hatiku. Aku memberi utuh hatiku padanya. Karena aku selalu percaya, ia selalu memperlakukan segala hal yang diberikan padanya, termasuk hati, seperti gelas yang rentan pecah. Ribuan hari kebersamaanku dengannya membuatku paham bahwa cinta tak melulu tentang kesamaan. Bahwa cinta tak mengharuskan inginmu selalu dijadikan nyata olehnya. Bahwa cinta membawamu dalam kebaikan, bukan menjatuhkanmu dalam lubang kesakitan.

Aku tak pernah tahu sampai kapan aku akan mengurai kebersamaanku dengannya. Yang aku tahu, hari-hariku tak pernah kelabu semenjak ada dia. Yang aku tahu, setiap hari aku selalu belajar mencintainya tanpa pernah bosan. Yang aku tahu, selalu ada cara untuk menyanjungnya. Yang aku tahu, ia selalu mengajarkanku mendewasa bersamanya dengan cara lembutnya. Yang aku tahu, yang dia tahu, yang kami tahu, dia adalah  moodstabilizer-ku, begitu juga sebaliknya.

Jatuh cinta padanya dan dicintai dia merupakan anugerah terindah dalam hidupku. Sosok yang tak menuntutku untuk menjadi yang terbaik inilah yang akhirnya mengajarkanku untuk selalu belajar menjadi lebih baik. Aku memang tak selembut perangainya. Aku memang tak setenang dia ketika diterpa badai kehidupan. Sikap dewasaku memang tak akan pernah bisa menyamai sikap-sikapnya. Dan aku memang tak sepertinya, yang pandai meredam egoisme dan amarah pribadinya agar tak meledak-ledak.

 

Aku tak pernah tahu dimana muara dari perjalanan ini. Aku menghabiskan hari-hariku untuk belajar memahami apa yang tak aku pahami darinya. Dia pun begitu. Semakin memperlakukanku dengan caranya yang tak pernah terduga. Entah apa yang akan terjadi pada masa depan kami. Kami selalu percaya bahwa tak akan ada satu hal pun di dunia ini yang menjadi sia-sia. Aku dan dia hanya menjalani apa yang dianugerahkan Tuhan saat ini sambil menatap pasti masa depan yang sudah menanti di ujung perjalanan ini dengan mempererat genggaman tangan dan saling memperbaiki diri.

Untuk sama-sama dipantaskan mendapatkan bahagia yang lebih dari bahagia yang kami dapatkan sekarang. Untuk cinta yang lebih hakiki di akhir perjalanan kami. Karena aku selalu percaya, karena dia selalu percaya dan karena kami selalu percaya, yang terbaik akan selalu membersamai siapapun yang selalu berusaha menjadi lebih baik. Dan tak ada kata akhir untuk sebuah proses.