Membayangkanmu paras manjamu merupakan surga bagiku. Begitu dahsyatnya Tuhan beri keindahan pada parasmu, hingga berjuta-juta ton "magnet" melekat pada tabuhmu. Mungkin magnet itulah yang menyedotku, dan membuatku begitu tergila-gila padamu.

Ribuan tahun sekalipun tak menjamin aku mampu tuk melupakanmu. Jangankan melupakan, "menghilangkan" mu dari kepalaku pun aku tak sanggup. Tidak mungkin. Sedetik saja aku mengalihkan sosokmu dari kepalaku, sedetik kemudian ribuan bayangmu berjubel masuk.

Tidak hanya sampai di kepalalu, bahkan dalam hatiku kamu berjaya. Seperti hati manusia yang terkontaminasi "penyakit hati", itulah yang terjadi pada hatiku. Seberapa keras aku mencari obat untuk mengobati hati yang tersisi penuh olehmu, tak satu pun yang membuahkan hasil. Hatiku telah terkontaminasi olehmu.

Hari ini atau esok aku akan tetap setia disini menunggumu. Dan sikap inilah yang begitu kamu benci. Dengan keteguhan hatiku, tapi aku tak berbuat apa-apa untukmu.

Tak bisa kubayangkan kenyataan di masa depan. Kenyatan bahwa aku akan berakhir tragis. Tentu tragis buatku bukan untukmu. Kamu akan terus melangkah pergi, hidup bahagia dengan seseorang yang akan kamu pilih.

Advertisement

Jikapun ada pilihan, aku minta pada Tuhan untuk tidak memberitahu atas kenyataan itu. Haruskan aku pergi menuju tempat di alam sana? Agar aku tak dapat melihatmu selama-lamanya?.***