"Pilihlah putih. Karena abu-abu cenderung pada kegelapan. Sedangkan hitam, takkan menyelamatkan"

Aku tau, rasanya menjadi jiwa yang masih saja sibuk berkelana. Aku tau, rasanya menyebalkan menjadi jiwa yang tidak punya pendirian. Aku tau, bagaimana saat mereka yang lain menertawakan jiwa yang tak punya arah tujuan ini. Aku tau, bagaimana pandangan mereka atas jiwa yang mungkin belum memiliki masa depan. Aku tau, karena aku pernah menjadi jiwa itu.

Berapa usiamu saat ini ? Saat orang lain mulai mempertanyakan kematangan dirimu. Lanjut kuliah dimana ? Kapan lulus ? Kerja dimana ? Kapan nikah ? Jiwamu yang masih menggebu-gebu itu enggan sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Seolah pertanyaan-pertanyaan itu menghancurkan fantasimu akan petualangan baru yang ingin kamu lewati. Seolah jiwamu itu tidak siap untuk membicarakan kenyataan yang kamu tau persis suatu saat pun akan menjadi bagian hidupmu.

Wahai jiwa yang belum tetap hatinya. Kemanakah kamu akan membawa petualangan cintamu itu ? Berapa banyak lagi pelabuhan hati yang masih ingin kau singgahi ? Bukankah pelabuhan kemarin sudah cukup teduh untuk tempatmu berlabuh ? Apalagi yang kamu cari ? Jiwamu seakan tidak mengenal kata 'berhenti' dan terus mencari yang bahkan kamu sendiri tidak tau apa yang kamu cari. Panggilan jiwamu membawamu terus mengikuti keinginannya. Dimanakah akan kau sematkan tali kapalmu dan kau turunkan jangkarmu untuk berlabuh selamanya ?

Wahai jiwa yang menginginkan kebebasan. Tidakkah kamu sadari, kamu tidak akan pernah benar-benar bebas, Tuhan selalu mengawasimu bahkan disaat nyawamu berada di alam mimpi. Apa arti kebebasan kalau diri kita sendiri tidak bebas untuk memiliki dan mengatur kehidupan. Pemilik skenario terbaik adalah Tuhanmu yang membawamu sampai pada adegan ini. Kebebasan yang kamu elu-elukan itu tidakkah hanya sebuah alasan untuk melarikan diri dari kenyataan ? Kenyataan bahwa jiwamu belum siap menanggung realita masa depan.

Advertisement

Wahai jiwa yang egonya tinggi. Sudahkah kamu melihat sekelilingmu ? Bahwa di sekitarmu bukan hanya kamu yang diijinkan tinggal di dunia ini. Tataplah mata-mata tulus mereka, tataplah dengan mata hatimu, tidakkah kamu melihat harapan besar atas dirimu didalam mata itu ? Tidakkah kamu menyadari berapa banyak air mata yang dicucurkan dalam setiap do'a dengan menyebut namamu ? Bahkan jiwamu masih meronta, menutup hati dan menutup telinga atas ketulusan itu.

Wahai jiwa yang tak tau arah tujuan. Kakimu hanya kamu langkahkan sembarangan, berhenti saat belum waktunya berhenti, berjalan saat belum waktunya berjalan. Berharap jiwamu yang masih lemah itu menuntunmu ke jalan yang benar. Jiwamu yang sekarang tidak akan pernah sampai membawamu ke tujuan. Jiwamu terlalu sibuk untuk bermain dengan kehidupan.

Wahai jiwa yang masih mencari jati diri. Aku meninggalkanmu dari keabu-abuan yang cenderung pada gelap. Aku melangkahkan kakiku menuju putih yang lebih terang. Aku berkaca pada diriku atas pencapaianku, dan aku harus meninggalkanmu. Belum ada satupun yang berhasil kuraih, belum ada satupun dari hidupku yang membaik. Aku meninggalkanmu dan memantapkan hatiku untuk menjadi jiwa yang lebih tangguh. Aku meninggalkanmu karena waktu, waktu ku yang terbatas diijinkan tinggal di dunia ini. Aku meninggalkanmu karena nurani, menyadari betapa tulusnya air mata yang mereka tumpahkan untuk kebaikan diriku. Aku meninggalkanmu karena hati yang merindukan pelabuhan untuk tempatku bersandar. Aku meninggalkanmu karena aku, jiiwaku bisa lebih baik dari ini, hidupku bisa lebih bermanfaat dari ini. Karena aku menginginkan masa depan, sama seperti mereka yang lain.

Wahai jiwa yang masih mencari jati diri. Sudahkah kamu mulai memikirkan masa depan ?