Ketika kita menemukan seseorang

Yang keunikannya sejalan dengan kita

Kita bergabung dengannya

Dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa

Yang dinamakan cinta

-Kahlil Gibran-

Sepenggal puisi yang berjudul Cinta, mempertegas suasana hati pria ini, saat ini, wahai wanita. Seorang pria ini sedang jatuh cinta. Pria ini bergetar hatinya, tatkala berpandangan denganmu, wahai wanita. Jantungnya berdetak tak menentu, seolah-olah pria ini baru saja menyelesaikan pertandingan lari jarak dekat. Beradu sprint dengan lawan-lawannya. Dan ketika ia mencapai garis finish pertama, seolah ia baru saja masuk ke dalam hatimu. Wahai wanita, pria ini sedang jatuh cinta. Mengapa kamu tega membuat ia terjatuh? Padahal kamu tahu, jatuh itu selalu sakit. Dan kamupun tahu, harusnya ia kamu bangunkan dari jatuh itu. Bukan malah membiarkannya terjatuh saja. Wahai wanita, bukalah matamu. Bukalah selebar cakrawala, bahkan hingga kamu bisa melihat bakteripun tak masalah. Karena cinta yang pria ini berikan, tidaklah sekecil bakteri. Bukalah hatimu, untuk pria yang sudah berjuang ini, wahai wanita. Tolonglah, jangan kamu kerdilkan apapun perjuangan yang telah pria ini lakukan. Pria ini benar-benar mencintaimu, wahai wanita, apakah kamu masih belum percaya juga? Kalau kamu memang masih belum percaya juga akan hal itu, izinkanlah pria ini mengingatkan kembali ketika kita berbagi perasaan.

Ingatkah kamu ketika meja hijau bundar menjadi saksi perbincangan bodoh kita? Mulai dari pagi sampai siang hari, kita hanya bebicara yang menurut kita asyik untuk didengar. Sesekali kita diam, dan kamu kembali dengan laptop yang ada dihadapanmu. Pria ini pun demikian, melakukan apa yang kamu lakukan juga. Kamu bercerita mulai dari masa kecilmu yang menurutku lucu. Kamu menceritakan keasinganmu ketika pertama kali menginjakan kaki di bukan tempat kelahiranmu. Kamu bilang terasing padaku waktu itu. Pria ini mendengar perkataanmu itu dengan seksama. Tak ada yang pria ini sela pembicaraanmu. Pria ini antusias mendengarnya. Dan pria ini antusias melihat mukamu. Sebenarnya tidak ingin pria ini memalingkan wajah ketika kamu sedang bercerita itu, tapi apa daya, pria ini tidak pandai berlama-lama menatap wajah wanita yang dicintainya, wahai wanita. Kamu juga bilang kalau kamu berbeda dengan pria ini. Kamu terus saja membuat perbedaan itu terjadi. Sesekali pria ini berikan senyum simpul itu padamu, tanda bahwa pria ini memperhatikan kamu berbicara. Kamu juga menanyakan tentang mata dan kacamata pria ini. Maka pria ini menjawab dengan jujur, bahwa kedua matanya tidaklah normal, minus 3. Kamu kaget ketika pria ini bilang angka 3 setelah minus. Kamupun seolah tidak ingin kalah dengan pria ini, dan bilang bahwa matamu silinder. Pria ini, sama seperti reaksimu, kaget. Ternyata kamu memang hebat dalam hal mata yang rusak, wahai wanita. Tapi tahukah kamu, pria yang memiliki mata minus ini layak untuk menjadi teman hidupmu? Pria ini tidak akan pernah bisa melihat yang jauh, ia hanya bisa melihat yang dekat dengan jelas dan terang. Dan didekatnya saat itu, iya kamu, wahai wanita. Ketika siang sudah terlalu panas, kamu pergi, dan pria ini pun demikian. Kamu bilang pada pria ini bahwa akan pergi ke mal setelah ini. Dan Boom! Dada pria ini seolah ingin meledak. Berdetak tidak karu-karuan. Pria ini terjebak dalam sebuah pikiran, apakah ini? Kenapa ia harus memberitahukan kemana ia akan pergi selanjutnya? Apakah ini sebuah kode untuk bersama pergi ke mal? Apakah itu yang kamu inginkan waktu itu, wahai wanita? Sayangnya, pria ini tidak pandai membaca kode. Itulah mengapa pria ini memilih masuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Mungkin satu saja belum mempertegas, iya, wahai wanita? Jadi jangan tahan pria ini untuk kembali menceritakan yang lainnya, wahai wanita. Kita bertemu lagi beberapa hari kemudian, kan? Masa kamu tidak ingat? Kalau tidak ingat, biar pria ini menceritakan lebih jauh tentang pertemuan itu. Siang hari lagi pria ini bertemu dengan kamu, wahai wanita. Di mal, pria ini bertemu denganmu. Tidak ada yang namanya kebetulan saat itu, karena memang sudah berjanji beberapa hari sebelumnya. Kamu mengajak pria ini untuk makan di mal tersebut. Saat tiba di sana, kamu langsung terpesona dengan pilihan menu yang tersaji, terlihat oleh mata berkat kaca yang tembus itu. Kamu langsung terpesona dengan sebuah donat yang di atasnya diberi parutan keju begitu banyak. Kamu masih belum yakin apakah itu keju atau coklat batang yang diserut. Tapi pria ini menegaskan bahwa itu keju. Bahwa itu adalah apa yang kamu inginkan. Seketika pria ini langsung tahu, kamu pecinta keju. Wahai wanita, ingatkah kamu saat langsung menayakan kepada pria ini, dimana letak colokan listriknya? Untungnya pria ini cukup sering ke tempat tersebut, ia tahu dimana letak apa yang kamu cari itu. Siang itu, kamu, wahai wanita, bercerita sangat panjang sekali. Benar-benar obrolan yang panjang. Bahkan tidak mampu tertulis semua di sini. Beberapa yang paling berkesan ialah, ketika ada seorang pria yang kamu anggap tampan, ternyata dia "belok". Kamu menggunakan kata "belok" untuk menggati kata "tidak normal". Dan kamu meminta pria ini, pria yang normal ini, untuk memfoto pria "belok" itu. Kamu jahat. Kamu meruntuhkan harga diri pria normal ini, wahai wanita. Tentu saja pria ini bilang seperti itu dengan nada canda. Dan untungnya kamu mengerti akan candaan itu. Cerita pria "belok" itu selesai, meski sebenarnya tidak sesingkat ini. Kemudian ada juga perdebatan bodoh tentang anak kecil yang mana yang lebih imut, yang laki-laki atau perempuan. Pria ini memilih yang perempuan. Dan kamu, punya arah sebaliknya, yaitu memilih laki-laki. Pria ini jelas tidak mau kalah dengan pendapatnya, namun kamu juga sama, tidak mengalah. Sampai akhirnya, perdebatan itu berakhir dengan kemenangan kamu. Pria ini mengalah untuk kalah, bukan untuk menang. Dan kamu, menang untuk mengalahkan pria ini. Wahai wanita, jujur saja, momen itu amat lucu bagi pria ini. Momen terlalu manis, kalau pria ini bilang. Kemudian, ketika kamu terselak, dan tiba-tiba saja batuk. Pria ini bukan orang jahat, wahai wanita. Pria ini tidak tega, orang yang dicintainya batuk-batuk di tempat makan yang menyediakan minuman juga. Maka pria ini menawarkan untuk membelikan minuman, wahai wanita. Dan untungnya, kamu mengiyakan tawaran tersebut. Pria ini melakukan tugasnya dengan cepat, membeli minuman yang kamu inginkan wanita.

Sejatinya banyak hal yang ingin pria ini kembali ingatkan kepadamu, wahai wanita. Pria ini ingin mempertegas kepadamu, bahwa, ia benar-benar cinta kepadamu. Tidakah kamu merasakannya? Cinta yang pria ini berikan memang tidak seperti hujan, yang bentuknya bisa terlihat, yang rasanya bisa terasakan, yang kejadiannya bisa mengakibatkan banyak hal. Cinta pria ini cuma sederhana. Pria ini hanya ingin punya ikatan yang lebih dari sekadar teman. Ikatan yang tidak bisa dimiliki oleh teman. Ikatan yang didapatkannya atas persetujuan dari kamu, wahai wanita. Ikatan yang menjerat cinta pria ini. Dan meneruskan judul yang tertera, wahai wanita, pria ini bukannya tidak memiliki keberanian, tapi butuh kepastian dari kamu. Kepastian bahwa kamu juga mencintai pria ini. Pria ini, yang punya kepastian mencintai kamu, wahai wanita.

Advertisement

Kadangkala, orang yang paling mencintaimu

Adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu

Karena takut kau berpaling, dan memberi jarak

Dan bila suatu saat pergi, kau akan menyadari

Bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari

-Kahlil Gibran-