Sialnya, kamu selalu punya mantra.

Lama tidak menghubungi, akhirnya kamu punya nyali untuk kembali menghubungiku. Dengan nomor yang tidak kukenal, kamu menelfon ku pukul 10 pagi tadi. Kalau tahu itu kamu, mungkin aku tidak akan secepat itu menjawab telpon masuk. Terlalu antusias menjawab telpon dari nomor yang tidak kukenal.

Aku mau ketemu kamu. Di tempat biasa lepas makan siang. Kamu bisa, kan?

Dengan cepat aku menjawab, "Ya, aku bisa."

Dan kurang dari dua jam aku sudah sampai ditempat biasa.

Advertisement

Seharusnya aku tahu, aku tidak perlu seantusias ini. Kamu tidak pernah bisa datang tepat waktu. Kamu selalu membuat aku menunggu tanpa kabar yang jelas.

Cangkir kopi ku sudah tersisa setengah, sudah tidak lagi hangat. Langit diluar pun tak lagi terik. Gumpalan awan sedikit demi sedikit menutupi cerahnya langit di hari Minggu. Aku berani bertaruh, kurang dari satu jam hujan akan turun. Dan aku harap kamu cepat datang.

Akhirnya kamu datang bersamaan dengan hujan yang turun langsung dengan derasnya. Aku tersenyum lega. Kamu menyapa ku dengan senyuman, duduk di kursi kosong depan ku. Dengan spontan aku langsung bangun, berjalan ke meja barista memesankan minuman hangat untuk mu. Hot cappucino kesukaanmu.

"Kamu pasti sudah lama disini. Kopi mu sudah habis setengah. Sudah tidak lagi panas," kata kamu sekembalinya aku ke meja, "Kamu masih belum berubah dari dulu. Paling suka menunggu."

Aku tersenyum, tidak menggubris perkataannya, "Ada apa kamu tiba-tiba mengajakku bertemu?"

Kamu tidak langsung menjawab. Membiarkan pelayan yang datang meletakan kopi mu terlebih dahulu, "Ada banyak hal. Salah satunya karena aku kangen kamu."

Pengakuan yang tidak hanya membuatku tersenyum malu, tapi juga membuat wajah ku terasa menghangat, "Hal-hal lainnya?"

Kamu mengangkat cangkir kopi, menghirup sekaligus meniup sebelum menyesapnya, "Aku putus (lagi) sama dia," dengan tangan yang masih mengangkat cangkir diatas udara, kamu mengatakan hal tersebut dengan ringan, "Mungkin memang bukan dia yang benar-benar aku cari. Mungkin memang masih kamu yang selalu ada di hati."

Untuk kali ini pengakuannya tidak membuat ku tersenyum apalagi menghangatkan wajah ku, "Maksud kamu?" Aku masih butuh banyak pengakuan untuk membuat semuanya jelas.

"Iya. Aku putus sama dia dan aku mau balik lagi sama kamu," cangkir kopi sudah kembali diletakan diatas cawan, membuat dua keramik berdenting saat bersentuhan. Tangan kamu meraih tangan ku, membawanya dalam genggaman, "Sesuai dengan janji aku dulu. Aku akan kembali lagi ke kamu. Kita akan kembali sama-sama dan ini waktunya."

Aku menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang ku dengar. Kutarik tangan ku dari genggamannya. Ada emosi yang mendadak muncul dan sulit sekali di kontrol. Membuat kedua mata ku terasa panas dan nafas naik-turun.

"Aku kira kamu tidak lupa sama apa yang sudah kamu lakukan kepada ku beberapa bulan yang lalu," telunjuk ku menekan keras meja kayu, "Aku yang sedang jatuh cinta sama kamu, tergila-gila sama kamu, ditinggalkan begitu saja cuman karena dia. Dia yang kata kamu amat sangat kamu cintai dan kamu enggak bisa hidup tanpa dia. Bahkan, saat kamu lagi sama aku."

Ekspresi muka kamu berubah. Tidak sehangat sebelumnya.

"Terus setelah aku bisa nyembuhin semuanya sendiri, bisa yakinkan diri bahwa aku bisa tanpa kamu…," aku menarik nafas dalam-dalam. Menahan agar tidak menangis, "Kamu datang lagi? Kamu minta aku lagi untuk sama-sama? Kamu waras?" mengakhiri kalimat dengan senyum sinis.

Aku tahu, kamu ingin berkata banyak. Tapi perkataan ku yang seolah terasa benar adanya membuat kamu membungkam mulut rapat-rapat.

"Mungkin harus diakui kalau sampai detik ini aku masih cinta sama kamu. Harus diakui kalau sampai detik ini kamu masih punya ruang sendiri di hati ini, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya keluar masuk gitu," aku tersenyum, lebih manusiawi dari sebelumnya, "Kamu tidak bisa ngelakuin hal kayak gini terus-menerus kepada ku."

Mata kamu mulai meredup. Tenggorokan mu bergerak, menelan ludah.

"Selama ini aku tidak pernah minta apa-apa. Aku cuman minta untuk tetap dicintai dengan layak. Apa selama ini kamu kasih itu ke aku?" belum menjawab, aku sudah kembali berkata, "Tidak. Bahkan, tiap kali bertemu aku yang selalu nunggu kamu. Aku yang selalu inisiatif buat pesanin kamu minum."

Aku lihat kamu melirik cangkir kopi mu yang sudah berkurang sedikit isinya.

"Mungkin beberapa menit yang lalu, di mata kamu aku masih tetap aku yang kamu kenal. Tapi, tidak untuk saat ini. Aku berubah. Dan aku berubah karena kamu."

Aku tidak punya kata-kata lagi. Semua kata-kata yang selama ini aku pendam, sudah berhasil keluar tanpa perlu rencana. Emosiku sudah mulai terkontrol. Senyum ku sudah kembali seperti biasa. Kali ini, aku yang meraih tangannya dan membawanya dalam genggaman.

Jangan pernah memainkan hati yang sedang tergila-gila sama kamu. Bila hati sudah merasa dipatahkan. Tergila-gila tidak lagi terdengar asyik.

Tanpa menunggu kamu berkata, aku bersiap untuk pergi.

Meninggalkan kamu.