Namaku Risa, aku siswa SMK KESEHATAN. Aku duduk dibangku kelas X. Aku salah satu orang yang pernah dikecewakan dengan salah satu abdi Negara. Kala itu dia bekerja di Surabaya sebagai Prajurit TNI AL. Selama menjalani hubungan denganku ternyata dia sudah memiliki tunangan di kampung halamannya. Sejak itu kecewa yang membuatku trauma tidak ingin mengenal seorang prajurit terus ada dipikiranku.

Kali ini di acara halal bihalal, aku dikenalin sama temen dari temenku, agak berbelit-belit sih, tapi memang begini silsilahnya.. heheeeeee

Nomor Handphone ku dikasihkan ke temenya dhila. Nomor baru mengirim pesan di Handphone ku.

X         : “Selamat siang.”

X         : “Apa benar ini risa temannya dhila.”

Advertisement

X         : “Selamat malam.”

Aku sengaja tidak membalas sms itu karena aku tipe orang yang tidak suka merespon nomor baru yang tidak jelas identitasnya.

Pagi datang. Masih dengan rutinitasku sebagai siswa. Di sekolah aku bertemu dhila, dhila mengatakan kalau tadi malam temenya sms tapi tidak ada respon. Dan baru aku sadari itu nomor temenya dhila yang dikenalin ke aku.

Masih di sekolah ni gengs, “dreeettttttt dreeeeeeeet” handphone ku bergetar, ternyata nomor kemarin malam sms lagi.

X         : “Selamat siaaaaaaang.”

Risa     : “Selamat siang juga, ini siapa?”

X         : “Ini ahmad temannya dhila, benar ini Risa?”

Risa     : “iya benar.”

Dan setelah itu kami akrab. Kita berasal dari kota yang sama, tapi yang aku tahu saat itu dia sedang di kota orang tepatnya  di kupang-NTT, katanya dia disana kerja jagain toko milik saudaranya.

Kadang dunia itu memang sempit. Adik perempuannya ternyata teman seperjuanganku  saat  aku  dan  adiknya  berada di kompetisi PBB Paskibra.

6 bulan pertemanan kami tidak bertemu dan hanya via sms. Akhirnya kami tukar facebook, setelah ku buka dan mau aku tambahin ke pertemanan, aku dikejutkan dengan foto profilnya yang mengenakan seragam doreng PASKHAS, itu adalah pasukan dari TNI AU.

Traumaku mengenal orang dengan pekerjaan seperti dia timbul lagi, aku merasa di bohongi kedua kalinya. Akhirnya dia menjelaskan tidak memberikan identitas aslinya, karena dia tidak ingin wanita yang dia dekati mau dengannya hanya karena dia seorang prajurit. Berjalannya waktu aku bisa sedikit menerima alasan itu.

Suatu malam sepulang dari dia bertugas di bogor dia menyempatkan pulang kampung dan datang kerumaku. Saat itu pertama kalinya aku bertemu dia. Selama berteman ini kami sering bertemu karena dinasnya dia yang agak dekat yaitu di Lanud Eltari Kupang-NTT, sedangkan kampung halaman kami di Kota udang yaitu Sidoarjo

Tak lama dari kepulangannya yang pertama kali, dia mengutarakan isi hatinya kepadaku. Tapi untuk kali ini aku tidak langsung menerima ungkapan isi hatinya, karena aku masih takut, trauma dan belum siap menjadi kekasih abdi Negara. Pada saat itu, jika dia benar-benar mencintaiku aku menyuruh dia untuk menungguku sampai aku siap dan dapat mempercayainya.

2 Tahun berlalu ……….

Ternyata dia masih setia menungguku dan slalu meyakinkanku kalau tidak semua prajurit suka mengecewakan wanita. Dan tiba pada saatnya aku harus menjawab. Dengan niat yang baik dan tulus aku mencoba menjadi pendampingnya.

Aku pun lulus dari bangku SMK, aku diterima di Poltekkes Kemenkes Malang, aku melanjutkan studiku disana.

Suatu ketika, ahmad memberikan kabar kepadaku.

Ahmad            : “3 hari lagi aku dipindahkan dinas di Biak-Papua. Kabarnya sangat Mendadak,  kebanyakan dari lettingku disini ke Jakarta, yang dari sini ke Papua hanya aku.”

Risa     : “yasudahlah jika memang harus seperti itu, aku hanya bisa berdo’a agar jarak yang semakin jauh tidak akan  menyurutkan rasa sayang kita.”

Ahmad            : “Jarak Ujian kita saat kita sudah menjadi sepasang kekasih. Aku memilihmu karena aku tahu kamu wanita kuat yang mampu mencintai orang sepertiku, selesaikan Studimu dengan baik, tunggu aku seperti kau dulu menyuruhku untuk menunggumu. Kamu bisa banggakan keluargamu dan aku. Kita sama-sama berjuang untuk satu tujuan, meski perjuangan kita harus ditempat yang berbeda.”

Risa     : “ jadilah abdi Negara yang amanah dan mengemban tugas di jalan yang baik. Akan selalu kutunggu kepulanganmu.”

Ahmad            : “Seringlah berkunjung kerumahku melihat keadaan kedua orangtua ku!”

Risa     : “ Aku akan jadi teman untuk kedua orang tuamu, selama kamu tidak berada dirimah.”

Hari ketiga setelah kabar itu, dia berangkat ke Biak. Sejak dua hari kepulangan terakhirnya di kampung halaman sampai dia pindah di Biak kami belum sempat bertemu lagi, bahkan lebaran juga belum bisa bertemu. 18 bulan sudah tidak bertemu, waktu bertemu lagi kurang 6 bulan, semoga tidak ada halangan dan kami bisa bertemu walaupun tidak dalam waktu yang lama.

Aku tidak menyangka dibalik rasa kecewaku ada seseorang yang tulus untuk menemaniku berjuang meraih cita-citaku, semoga cinta kami berujung dalam kebahagiaan. Tak mudah memang mencintai seseorang yang jiwanya sudah dibeli oleh Negara, waktu dan apapun tentang dia diatur oleh Negara, Negara jadi priorotas utama sebagai Patriot Nusantara.

Mengerti akan tugas dan kesibukannya sudah menjadi kewajibanku. Hanya bisa menjaganya melalui sebait do’a yang dapat aku berikan, biarkan do’a memeluk kami saat rindu menghampiri kami. Dengan jarak aku tahu indahnya bersabar.

Oke gengs…………..

berakhirlah cerpen ini, semoga dapat menjadi pembelajaran. Bahwa ketakutan yang belum tentu benar menjadi bumerang untuk diri kita sendiri, tak ada yang patut disalahkan dalam cinta, karena cinta itu anugrah. Anugrah untuk orang-orang yang dapat menjaganya. Kesetiaan seseorang tidak cukup dipandang dengan latar pekerjaannya. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membacanya.