Aku menangkap beberapa memori, yang terangkai menjadi kenangan terindah ketika aku berada di antara pantai, langit dan kita.

Katamu, kamu suka sekali dengan melihat matahari terbenam. Dan kamu memilih menghabiskan waktumu memandangnya bersamaku.

Ribuan mentari yang timbul tenggelam kamu lewati tanpa aku dan akhirnya di pantailah tempat di mana aku mendampingimu memandang langit pada sore hari.

Melihat matahari terbenam di waktu dan tempat tertentu memang spesial, tapi lebih spesial lagi jika kamu melihatnya, bersama dengan orang yang spesial juga.

Tentu saja sebelum moment itu terjadi, kamu mengajak aku menelusuri pantai yang setiap butur pasirnya menjadi saksi bahwa memang faktanya, langkah kaki aku terlihat sangat kerdil jika dibandingkan dengan milikmu.

Advertisement

Butiran pasir itu juga menjadi saksi bahwa tingginya badannya kamu sanggup menenggelamkan aku dalam bayanganmu.

Tidak hanya lembutnya pasir pantai, derasnya arus ombak juga bersorak melihat dua insan yang menantikan sebuah pertemuan yang berarti, meski hanya sesaat.

Waktu yang singkat itu, aku pergunakan untuk menghapal setiap detail segala hal tentang kamu. Sehingga jika kita berpisah lagi, aku dengan mudah memutar lagi rekaman kamu dalam pikiranku.

Kamu juga bercerita tentang pencapaian kamu sejauh ini. Kamu membuatku bangga lagi dan lagi sekaligus membuatku khawatir. Bahwa tanpa aku, kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau.

Hingga kamu yakinkan aku, bahwa aku adalah alasan di balik semua perjalanan kamu. Hingga saat ini. Hingga diakhir pertemuan kita nanti yang ntah kapan itu terjadi, aku akan dan selalu ingin menjadi alasan untuk kamu terus kembali.

4.23 PM
Alam memberikan isyarat bahwa mentari akan bersiap meninggalkan kami.

Laut, matahari dan langit. Perpaduan yang amat indah yang membuat siapapun betah memandangnya. Termasuk kamu.

Aku tau moment itu indah. Langit itu, cahaya sang fajar dan pantulan sinarnya di laut. Semua tergambar indah di bola mata kamu.

Bahkan, ketika moment itu telah berakhir, matamu masih tetap sama. Tetap indah.

Buat kamu pecinta senja,
Tentu aku suka bagian saat mentari meninggalkan sebagian bumi. Tapi ada hal lain yang aku suka di mana kamu menggegam erat jemariku dan berbisik..

“You’re my sunset.”

Suara indahmu yang bersenandung ditelingaku menjadi nyanyian merdu ketika sunset akhirnya pergi meninggalkan kita.

Andai ini berakhir selamanya, lebih dari indahnya sebuah persahabatan antara pantai dan laut, yang selalu hidup berdampingan meski ombak memisahkan mereka.

atau setianya akan matahari dan bulan terhadap bumi. Di mana mereka rela berbagi waktu seadil – adilnya menerangi bumi, meski bumi semakin rusak dan rapuh.

Buat kamu yang jauh di sana.
Aku akan selalu menunggu kamu. Bukan hanya pada saat melihat kamu memandang sang fajar tenggelam di pantai bersama. Aku juga menunggu kamu, bahkan hingga mentari tak sanggup tenggelam lagi.

Aku mencintaimu kini, nanti dan selamanya.