Cinta, apa wujudmu?

Kita pernah mengalami masa indah remaja, masa di mana kita mulai memimpikan sosok pangeran sebagai suami kita kelak. Begitupun juga dengan ku waktu zaman SMA. Kecintaan terhadap guru sejarahku membawaku mendeskripsikan dengan jelas calon suami yang aku inginkan kelak. Ya mirip-mirip seperti guru sejarah ku itu lah. Dewasa (umur nya terpaut 10 tahun denganku, pintar, dewasa dan stay cool (tidak banyak omong). Impian tentang sosok itu kubawa sampai aku kuliah, kemudian aku menemukan suamiku yang sekarang, wajahnya pun hampir mirip dengan guru sejarahku waktu SMA.

Ternyata tidak mudah hidup dengan pasangan yang 10 tahun lebih dewasa dibanding kita, beda pemikiran, tingkah laku, tujuan hidup dan pilihan investasi membuat kita sering mengalami pertengkaran kecil dalam rumah tangga. Sampai di titik kesombongan aku berbicara "aku tidak mau di kekang olehmu, aku perempuan mandiri dan bisa bekerja sendiri." Perintah suamiku tak aku jalani, larangannya untuk merubah gayaku yang masih seperti perempuan single pun tak pernah aku turuti.

Bagiku, aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, bebas kemanapun aku pergi dan dengan siapa aku memilih teman untuk berdiskusi. Aku benci dengan larangan, aku benci dengan aturan dan aku benci pengingatan tentang kewajiban seorang istri. Apakah harus begitu? Begitu dan terus begitu, mengubah diri hanya karena sudah berlabel menjadi "ibu dan istri" batinku berteriak, mendobrak amarah dan ingin rasanya lari dari kenyataan statusku yang sekarang.

Hidupku terlalu jenuh untuk dijalankan, semua pelarangan, semua kewajiban, semya perintah akankah itu terus aku ikuti demi label menjadi "perempuan sejati." Kemuakan itu juga yang membuatku bertanya tentang perasaan diri ini, masihkah aku mencintai nya? Masih kah aku mau menjadi makmumnya? Di manakah wujud cinta yang aku impikan dulu ? Hidup dengan laki-laki dewasa menurutku bisa jauh lebih mudah karena dia lebih bisa mengerti dan menerima kondisi kita.

Advertisement

Cinta? Haruskah aku berubah menjadi orang lain atas namamu? Haruskah aku menyiksa diriku sendiri demi mendapat pengakuan untukmu? Aku mau wujud cintaku seperti dulu, penuh kedewasaan, pengertian, membangun impian bersama dan bekerja keras bersama. Tapi, wujud cinta itu tak lagi sama seperti dulu, hidup tidak mudah lagi untuk menemukan wujudnya itu karena ada beberapa prinsip diri yang tidak bisa disatukan arah tujuannya. Cinta, Aku ingin wujud itu. Wujudmu yang penuh pengertian dan wujudmu untuk membuatku terus bisa menjadi diriku sendiri dengan segala cita-citaku. Dari pengalaman ini, aku ingin bertanya, bagaimanakah wujud cinta itu? Dan kutemukan wujudnya adalah Keikhlasan, pengertian dan ketenangan. Itulah wujudmu.