Pengantar

Anak sebagai generasi emas yang di ibaratkan hal yang berharga dan harus di jaga, jika demikian dapat di artikan bahwa pada anak memiliki keunikan tersendiri yang seharusnya di kagumi dan di banggakan oleh setiap insan dalam kehidupannya terkhusus orang tua anak tersebut. Banyak hal yang membuat senyuman yang tampak dari orang sekeliling anak tersebut ketika mengikuti perkembangan pertumbuhan mereka sejak dari dalam kandungan hingga terlahir dan bertumbuh dari periode demi periode dalam kehidupannya, gerakan yang di pertunjukkan mereka ketika mencoba dalam proses berjalan adalah sebagai bukti kebanggaan tersendiri. Dimana pada kodratnya di tahap ini mereka telah menunjukkan sebuah proses perjuangan yang mulai mereka masuki dalam kehidupannya yang seharusnya orang tua mulai menyadari anak tersebut sebagai kebanggaan dari buah cintanya akan dibawa kemana pada masa depannya.

Model Perkembangan Anak

Jika kita menilisik lebih dalam semua anak di lahirkan dengan bakatnya masing-masing atau keunikan seperti yang di atas yang telah dipaparkan, dan kita juga dapat perhatikan dalam dunia anak saat ini banyak dari antara mereka telah mampu menunjukan dari keunikan atau bakat tersebut di usianya yang masih dini, mengapa demikian? Yang pertama kita harus perhatikan ialah bagaimana model kehidupannya sebagai anak dalam keluarganya.

Berbicara keluarga di sini bukanlah mengarah kepada perekonomian, mengapa di arahkan demikian karena pada saat ini banyak perspektif yang muncul jika anak tersebut sedikit lebih cerdas dari anak lainnya akan muncul pandangan bahwa disebabkan kehidupan anak tersebut difasilitasi dengan lengkap sehingga menunjang kecerdasannya. Ternyata hal ini bukan sepenuhnya tetapi hal yang paling mendasar adalah bagaimana konsep interaksi antara anak dengan orang tua, dan orang tua dengan anak. Di mana anak pada periode tertentu akan menunjukkan kempuannya di berbagai dimensi secara pengetahuan, mengingat, merespon ,dan juga gerakan pada tubuhnya.

Advertisement

Pada tahapan inilah orang tua seharusnya memiliki tingkat kepekaan interaksi yang tinggi untuk merespon dari setiap kemampuan yang di sampaikan anak tersebut. Secara singkat hal ini yang akan membantu anak tersebut untuk memperkenalkan dirinya dengan bakat atau keunikan-keunikan dari padanya.

Yang kedua adalah lingkungan dimana tempatnya untuk bertumbuh dan berinteraksi, hal yang ia dapatkan dalam keluarga tadi akan menjadi gambaran yang akan di bawakannya dalam proses interaksinya dengan lingkungan. Namun lingkungan tidak semua mendukung atau memberikan hal hal positif dari proses perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut. Maka peran orang tua juga tidak boleh lepas dari hal ini, untuk memberikan batasan-batasan yang mengarahkan dan yang memberikan pengertian akan hal-hal apa yang ia peroleh dalam lingkungannya, karena anak yang memiliki interaksi dan ikatan batin yang baik yang tercipta dalam keluarga akan membiasakan ia untuk selalu bercerita akan hal-hal atau sejarah yang ia telah dapatkan dalam lingkungannya dalam satu hari tersebut.

Dalam interaksi dengan dunia lingkungannya tersebut ia akan banyak menerjemahkan dalam suatu bentuk cita-cita yang akan menjadi kenginginannya kelak. Interaksi dengan dunia lingkungan yang dimaksud ialah informasi dan pengetahuan akan hal-hal yang baru yang dapat menjadi motivasinya, contoh hal “ ia melihat seorang polisi, ia akan menerjemahkan seorang yang gagah sehingga memotifasinya dengan rasa kagumnya, disinilah peran orang tua juga di perlukan untuk menampung dan mengarahkannya sesuai dengan rekaman-rekaman yang telah ia dapatkan sebagai bentuk refleksi masa depannya.

Anak Sebagai Harapan Generasi Masa Depan

Keluarga

Anak dalam keluarga adalah suatu harapan, dimana orang tua secara langsung atau tidak langsung turut mempengaruhi cita-cita dari anak tersebut. Sebagai konteks batak, anak di gambarkan sebagai harta terbaik, harta terbaik yang dimaksud harta paling megah bagi keluarganya, bukan di nilai sebagai bentuk ekonomis tetapi sebagai pendorong naiknya harkat martabat dari orang tuanya. Banyak orang tua di tanah batak menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi hanya untuk cita-cita akan satu hal yaitu kelak anaknya bisa lebih baik darinya, filosofi ini bagi orang batak disebut “anakhon hi do hamoraon di ahu” artinya anak ku adalah kekayaan bagi ku.

Bersekolah adalah cara yang paling ampuh di kenal mereka orang tua di tanah batak untuk meraih cita-cita, orang tua batak bekerja hanya untuk anaknya dengan demikian di tanah batak pendidikan adalah suatu hal yang sangat di nilai di tempat ini, “dengan sedikit sombong juga saya ingin mengatakan mungkin karena hal inilah orang batak banyak yang duduk dan bekerja di tempat yang sesuai dengan bentuk perjuangan dari orang tuanya dan dari anak tersebut.”

Dari pengertian yang berangkat dari konteks batak ini disimpulkan bahwa orang tua, anak, dan pendidikan adalah hal yang saling bersinggungan dan untuk menjadi suatu harapan masa depan, maka pendidikan adalah hal yang di tawarkan untuk mencapai dari masa depan tersebut dengan harapan hanya untuk suatu hal baik kelak.

Bangsa

Impian terbesar dari sebuah bangsa yang besar adalah melahirkan generasi yang akan menjadi penerus untuk menggantikan setiap posisi yang menyangkut dengan kehidupan negara, baik dalam segi ekonomi, kesehatan, politik, dan lainnya untuk semakin memperbaiki lagi. Dengan demikian anak yang akan selalu menjadi harapan untuk mewujudkannya yang dalam bentuk generasi muda. Oleh karena itu, dengan berbagai cara dan metode yang bermacam negara menyediakan dan memberikan fasilitas dengan seupayanya, melalui PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang disediakan untuk mengembangkan pendidikan anak sejak usia dini nya, sekolah negeri yang berkompeten untuk membantu anak-anak yang memiliki kemampuan yang baik, juga beberapa fasilitas yang mampu mengembangkan bakat dari setiap anak-anak bangsa sesuai dengan kemampuannya masing-masing semua ini hanyalah untuk meningkatkan mutu, dan kualitas dari sumber daya manusia (SDM). Dengan demikian negara harus menyediahkan mesin produksi yang handal untuk hal yang di cita-citakan kepada generasi anak bangsa.

Pewaris Kerajaan Allah

“Allah adalah Bapa segala mahluk dan ibu yang pengasih yang merawat dari anak-anaknya, kesusahan anak-anak Nya adalah suatu kemudahan bagi bapa, dan anak yang dekat dengan bapa akan dimudahkan dalam menghadapi tantangan dan bukan berarti menjauhkan tantangan tersebut tetapi memampukan mu, oleh karena itu masuklah kedalam Kerajaan Allah sebagai umat Nya yang seutuhnya”. Manusia sebagai Imagodei dari Allah mengarahkan kita kepada tanggung jawab istimewa yang juga dikatakan sebagai pewaris dari kerajaan Allah, dengan demikian kita harus ikut ambil andil dalam proses penyataannya di muka bumi, sebagai konsep ekologinya manusia memiliki hak istimewa untuk bumi, tetapi manusia sering menyalagunakan hak istimewa ini dengan sikapnya yang serakah untuk mengeksplorasi bumi ini. Sehingga terjadilah masalah ekologi yang berakibat tidak seimbangnya suatu sistem yang telah tertata di muka bumi. Manusia yang selayaknya adalah untuk menjaga dan merawat sebagai tanggung jawab istimewa kepada bumi yang diberikan Allah dengan keadaan baik yang dengan konsep yang di terangkan menguasai. Sebagai pemberian baik inilah seharusnya manusia sebagai anak-anak Allah sudah seharusnya membiarkan keadaan baik tersebut di kembalikan kepada Allah dengan keadaan baik juga dengan penuh ucapan syukur. Oleh karena tanggung jawab itu adalah cita-cita Allah yang di berikan kepada manusia sebagai pewaris kerajaan Nya. Terlepas masalah ekologi, fanatisme sebagai pewarisnya sering kita salah artikan sehingga muncul pergesekan yang sangat di kalangan sesama pewaris yang universal di tengah-tengah masyarakat negara dan bangsa. Memunculkan ideologi ideologi yang salah untuk menuju hak pewarisan tersebut terutama dalam kehidupan bernegara. Sudah seharusnya kita kembali mengartikan apa arti sebenarnya dari pewaris tersebut, bukankah ini lahir untuk membuat keadaan lebih baik terutama untuk kita sesama manusia? Harapan yang baik akan di mulai dengan hal yang baik, sesuatu yang di mulai dengan tidak baik patut di pertanyakan kembali apakah ini yang di harapkan dari Bapa Sang pemberi syarat hak pewarisan tersebut. Hiduplah berdamai dengan semua ciptaan, saling merawat adalah suasana terbaik untuk mencapai kebaikan yang seharusnya dijalankan oleh para pewaris kerajaan-Nya.

Kesimpulan

Anak sebagai dimensi kehidupan yang di arahkan dalam tulisan ini untuk perspektif generasi masa depan, menerangkan untuk memahami kondisi anak tersebut dalam beberapa kelompok dimana ia tumbuh dan berkembang dan tidak lepas dari kondisinya sebagai harapan sudah sepatutnya mereka di jaga dan dirawat sesuai periode kehidupannya, mengarahkannya kepada suatu tujuan hidupnya yang di gambarkan dimasanya kelak.