Artikel ini dibuat sebagai respons dari viralnya Fatwa MUI dan Surat terbuka dari Pendeta Profesor Doktor Jan S.Aritonang. Tapi kita tidak akan menggali Fatwa MUI (Takut dituntut melece…. Ah sudahlah) melainkan kita akan membahas hubungan atribut natal yang sekarang popular di masyarakat terkhususnya Santa Klaus.

Mari kita bahas Santo Nikolaus/Nikolaos of Myra. Jelas dari namanya dialah sumber ilham dari Santa Klaus yang kita kenal sekarang.

Santo Nikolaus hidup pada abad ke-4 dekat Myria (Sekarang Turki). Pada waktu ia dikenal sebagai seorang muda yang berasal dari kalangan terpandang dan diajarkan dengan nilai kasih dan kesederhanaan oleh orangtuanya. Suatu hari di tempatnya tinggal, ada seorang kaya yang jatuh miskin dan singkat cerita Nikolaus muda merasa tersentuh dan perlu untuk membantunya. Sehingga suatu hari Nikolaus muda ini membawa sebuah kantong berisikan emas. Kantong itu ia lemparkan melalui jendela rumah orang tadi (mirip dengan cara Santa Klaus memberi hadiah melalui cerobong asap). Sejak saat itu pemilik rumah berjaga-jaga dan tibalah hari di mana Nikolaus muda ini tertangkap.

“Mengapa engkau memberikan emas kepada kami?” Tanya sang pemilik rumah.

“Karena Bapak membutuhkannya,” Jawab Nikolaus.

Advertisement

“Tetapi mengapa engkau menyembunyikan diri dari kami?”

“Karena memberi itu indah, jika hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.”

Semasa hidupnya juga Nikolaus biasanya membagikan hadiah kecil pada anak-anak yang dia jumpai, seperti permen dan mainan.

Karena percampuran budaya juga banyaknya industri-industri yang sejak dulu memanfaatkan momen natal dengan memberi nilai tersendiri pada natal untuk menawarkan produknya. Sehingga jadilah beragam cerita, cara natal dirayakan dan dimaknai.

Kita boleh merayakannya dengan beragam cara tapi perlu diketahui bahwa bahwa ajaran Kristiani mengajarkan inti dari Natal adalah untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus Tuhan dan Juru Selamat di dunia ini. Jadi, sesungguhnya tanpa adanya Santa Klaus dan Pohon Natal pun Natal tetap dapat dirayakan.

Saya sendiri memandang Santa Klaus (Santo Nikolaus) merupakan sosok inspiratif yang tidak harus dikenang saat natal dan hanya oleh kaum Kristiani saja. Nilai kasih dan kesederhanaannyalah yang harus kita tiru bukannya menghamburkan harta demi keceriaan atau kesenangan sesaat.

Kita tidak dapat serta merta mengatakan ketika mengenakan/mengucapkan/merayakan perayaan agama orang lain merupakan pengakuan atas kepercayaan agama lain. Hal ini disebabkan perbedaan pandangan atau tingkat pengertian akan hal tersebut. Mungkin ada yang menganggap itu hanya sebagai sikap menghormati agama lain, ada yang menganggap itu seperti yang kita bahas di atas. Ada juga yang benar-benar mengetahui makna dari perayaan itu (bahkan bisa jadi ada perbedaan pandangan dalam agama itu sendiri). Siapakah yang benar-benar mengetahui hal itu? Yah itu diri kita sendiri.

Jujur saya juga sedikit merasa wajar jika sampai ada larangan seperti itu, tapi disisi lain juga kita memiliki hak pribadi dan juga kita memiliki latar belakang bangsa yang beragam (mungkin kita perlu lebih banyak belajar sejarah). Suatu hal yang pasti adalah kita harus patuh akan hukum jika hukum itu memang benar adanya. Jika kita tidak setuju maka kita bisa dapat mempertanyakan hukum itu dengan jalur yang ada (jangan dipaksakan dengan kekerasan dan hal negatif lainnya) namun jika benar-benar tidak ada jalan maka berdoa dan perbaikilah dirimu agar kamu kelak dapat menjadi orang yang lebih baik lagi dan mungkin suatu saat dapat membuat kebijakan yang lebih baik.