Selasa (7 Juli 2015) kemarin kami KPMS (Komunitas Penulis Muda Situbondo) mengadakan acara launching buku antologi cerpen Dermaga Patah Hati. Antologi cerpen yang ditulis oleh 14 penulis yang berasal dari Situbondo memiliki tema-tema yang unik.

Seperti cerpen Mas Sufi yang berjudul Kyai dan Raja Bandit yang menceritakan kisah Kiyai As’ad, lalu Mas Yudik yang menceritakan tentang peristiwa pembakaran gereja di daerah Situbondo beberapa tahun silam (maaf, tidak bermaksud menyinggung hal tersebut bagi yang kurang berkenan). Dan cerita-cerita lain yang bisa dibaca sendiri.

Kehadiran antologi ini membuat dahaga akan karya anak muda yang benar-benar berasal dari daerah sendiri cukup terobati, mengingat selama ini, budaya konsumtif begitu menggelora di dalam dada. Sedang, di daerah sendiri ada pembaca tanpa mengetahui jika ada penulis-penulis.

Selain, itu KPMS sebagai wadah dari 14 penulis antologi ini membuat teman-teman bisa menumpahkan karyanya. Entah, motivasi tulisannya yang jelas berbeda-beda. Tapi, dibalik itu semua. Karya nyata anak muda ini patut diancungi jempol.

Namun, baru-baru ini saya membuka suatu grup. Ada suatu komentar yang cukup menyelip dalam hati. Komentar tersebut saya jadikan tulisan ini, “Berkarya tapi penghasilan minus, sama saja, Om?” katanya. Mari, kita luruskan terlebih dahulu.

Advertisement

Penulis bisa menjadi pekerjaan atau hanya selingan diantara rutinitas kita. Begitu banyak penulis yang benar-benar waktunya habis untuk menulis (selain traveler, dan lain-lain. Maksud tulisan ini tidak memiliki pekerjaan lain seperti guru, dosen, dan sebagainya). Namun, ada juga penulis yang menulis tanpa meninggalkan pekerjaan utama.

Sejatinya, menjadi seorang penulis itu bisa kita niatkan sebagai suatu ibadah. Insya Allah, Allah akan mempermudah usaha kita. Bukankah jika kita mengejar dunia, dunia yang akan kita dapat. Tapi, jika kita mengejar akhirat, insya Allah dunia-akhirat kita dapat.

Nah, sehubungan dengan pekerjaan penulis. kita bisa menjadi penulis yang berdakwah dan berjihad dengan cara yang berbeda yakni melalui tulisan kita, karya kita. Terlepas, apa karya kita dilirik oleh penerbit atau media. Bukankah itu urusan di belakang. Yang terpenting kita telah mencoba menulis. Insya Allah, jika jalannya akan dipermudah oleh-Nya.

Di dunia ini tidak ada yang instan, bahkan sekalipun mie instan saja. masih butuh proses. Prosesnya itu, air didihkan terlebih dahulu, bumbu-bumbu diletakkan di piring, dan menunggu beberapa menit dulu untuk siap kita makan. Lalu, bagaimana dengan kesuksesan. Tentu, butuh waktu dan usaha. Toh, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Bahkan penulis yang karyanya telah diangkat oleh beberapa PH film saja. pernah dilecehkan oleh senior SMA-nya. Siapa dia? Asma Nadia. Tidak percaya, silakan baca No Excuse! Karya Isa Alamsyah. Atau, butuh contoh lain. Mari kita lihat, Andrea Hirata yang ditolak beberapa kali, sebelum novel Laskar Pelangi terbit dan difilmkan.

Butuh contoh lagi, mari kita lihat JK Rowling. Tidak tahu? Silakan cek sendiri di Google tentang usaha dia menjadi penulis sebelum karyanya yang menjadi INTERNASIONAL BEST SELLER itu difilmkan. Lalu, bagaimana menyikapi judul tulisan ini?

Silakan jawab sendiri.