Kamu sudah dewasa. Stop making excuse. Umur kamu sudah tak lagi muda. Di atas dua puluh, bukan lagi pelajar atau pun mahasiswa. Usia kepala dua, sudah saatnya kamu membuat keputusan besar dalam hidup, dan sayangnya itu bukan lagi bukan Oppa. Kamu sudah cukup bisa memahami realita, bahwa dunia tidak hanya berputar di sekitar dirimu dan idolamu saja. Bukannya dunia melarangmu untuk mencintai Oppa, namun seharusnya kamu dapat mengetahui batas wajar yang harus kamu patuhi dalam mendukung idolamu itu. Sewajarnya saja dan tidak berlebihan. Dahulukan hal-hal yang menurutmu lebih berguna untuk masa depanmu. Kamu bukan lagi remaja yang menjadikan idolanya matahari di dalam dunia kecilnya. Kamu sudah melewati masa itu, saatnya kamu keluar dari sarangmu.


  • Menatap kehidupan nyata. Sadarlah jika itu hanya ilusi.

Coba beri sedikit waktumu untuk berkaca. Seperti apakah kamu sekarang? Sejauh apa pencapaianmu dalam kehidupan? Seberapa banyak prestasi yang sudah kamu raih? Sudah sehebat apakah kamu? Mungkin kamu telah melupakannya sekian lama karena terlalu sibuk dengan idolamu. Tanpa sadar, kamu sudah tenggelam dalam khayalan-khayalan bersama Oppa. Kamu pun hanya memberi sedikit porsi kepada dirimu sendiri. Kamu tidak memberikan ruang lebih untuk pembangunan karirmu, untuk pembangunan minatmu, bahkan kamu terlalu menutup diri hingga lupa berkelana mencari jodohmu. Kamu harus sadar bahwa kamu sudah di hibahi tanggung jawab yang tak lagi ringan. Realistislah, kemungkinan Oppa-mu akan melamarmu tidak lebih besar dari kemungkinan teman kantor yang menaksirmu.


  • Kontrol porsimu. Kamu terlalu konsumtif dalam hal ini.

Pernahkah kamu menghitung seberapa banyak uang yang kamu habiskan untuk Oppa? Tiket konser, fansmeeting, album original, merchandise yang sebenarnya tidak terlalu kamu butuhkan, belum lagi nominal pulsa yang kamu hibahkan sebagai kuota hanya untuk men-stalking idolamu di media sosial. Stop memboroskan gaji bulananmu hanya untuk membeli goodies konser terbaru maupun deretan serial album idolamu. Kamu sudah cukup umur untuk mempertimbangkan prioritas pengeluaranmu. Di saat kamu sibuk men-support idolamu, mungkin temanmu sedang merintis bisnis kecilnya. Atau membuka akun deposito pertamanya. Ingat, tidak melulu idolamu yang di untungkan dari perilaku konsumtifmu ini. Banyak pintu lain yang harus dilalui uangmu itu sebelum sampai ke tangan Oppa - agensi, promotor pelaksana, dan berbagai lembaga lain di antaranya.

Advertisement


  • Support tidak berarti harus posesif.

Kamu sudah bukan lagi fans belia. Seharusnya kamu juga sudah memahami tentang luasnya dunia. Keluar dari kandangmu, dunia ini bukan hanya milik kamu dan Oppa semata. Dan tidak hanya kamu, idolamu juga tumbuh dewasa bersamamu. Dia mulai mempunyai pemikirannya sendiri, dan otomatis dia juga punya privasi. Tugasmu adalah untuk tidak mengganggu kehidupan pribadinya. Kamu wajib ingat dia juga manusia, metafora peri ataupun malaikat hanyalah kata-kata pemanis saja. Kamu tidak berhak melarang keputusannya. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mendukungnya, dan dengan cara-cara yang lebih bermanfaat tentunya, dengan berkarya yang sesuai dengan passion-mu, seperti gambar, tulisan, cerita dengan Oppa sebagai inspirasinya.


  •  Jadikan idolamu sebagai motivasi, bukan obsesi.

Kamu juga tidak bisa sekonyong-konyong melupakan Oppa. Namun kamu juga tahu persis posisimu sekarang ada di mana. Pada akhirnya kamu hanyalah seorang penggemar, seseorang yang terinspirasi darinya. Kamu tidak lagi bisa memposisikan dirimu lebih dari itu. Sebagai seorang penggemar, tentunya kelebihan dan kebaikan idolamu itu semuanya sudah kamu hapalkan di luar kepala, dan lebih dari itu, mengapa tidak mencoba untuk mencontohnya? Selalu ada hal positif yang bisa kamu ambil dari seorang idola. Kerja kerasnya, kemauan kuat untuk belajarnya, sikapnya yang pantang menyerah, bahkan kharisma dan sikap cekatannya dapat menjadi pembelajaran untukmu supaya kinerjamu lebih baik lagi. Ambillah spirit-nya, contohlah sikap positifnya, sehingga kamu menjadi fans yang naik kelas, bukan sekedar imitator gayanya.

Terlepas dari itu semua, tugas dari seorang idola adalah menjadi panutan bagi para penggemarnya. Mungkin kamu masih bisa menjadikannya sumber semangat, tujuan pencapaian yang besar dalam hidupmu, namun camkan baik baik: Oppa bukan segalanya. Sekalipun kamu tidak bisa menyerah untuk mengejarnya, kamu masih harus mawas diri tentang rencana hidupmu jauh ke depan, di mana dunia tidak lagi berputar di antara kamu dan Oppa. Mungkin kamu masih mencintainya, tapi kamu juga butuh move on.