Hari ini, saat malam ini, aku tiba-tiba teringat dengan seseorang, pria yang pernah membuatku bahagia. Hari-hari kita lewati bersama dari mulai pagi sampai malam, bermain-main sampai sepuasnya kita.

Pria yang pertama kali aku kenalkan kepada ibuku sebagai "kekasih".

Hai kamu, aku hanya ingin menuliskanmu melalui tulisan singkatku ini. Bukan karena aku masih menyimpan rasa atau dendam, bukan . Aku hanya ingin membagi kisahku dengan yang lain. Aku hanya ingin mereka mengambil hikmah dari ceritaku ini.

Saat itu… di sore hari, di sekitar kampus pertama kali aku melihatnya, seorang pria tinggi besar yang berada di depanku, kita bercakap saat itu sangat canggung, sampai kemudian kita berkencan dan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Saking asiknya berbincang, kita sampai lupa dengan jarum jam. Anehnya, aku merasa sangat nyaman dengan kamu, sampai hari berganti dan kitapun menjadi sepasang kekasih.

Kamu ingat? Pertama kali kita pergi berdua sebagai kekasih, kita menonton film berdua, sangat amat bahagianya kita saat itu. Kamu ingin sekali dikenalkan dengan ibu, kemudian sampai rumah saat kamu mengantarkanku pulang, aku kenalkan kamu dengan ibuku. Paginya, kamu menjemputku untuk ke kampus, dan katamu kamu juga ingin mengenal sahabat-sahabatku. Kamu itu adalah orang yang selalu ingin dikenalkan dengan teman-teman dekatku sampai ke keluarga dan saudaraku, kalau aku tidak mengenalkanmu dengan mereka, kamu pasti menuduhku yang tidak-tidak.

Advertisement

Jujur, sebenarnya aku belum mau mengenalkanmu dengan keluarga ataupun saudaraku, bukan karena aku tidak bangga mempunyai kamu, tetapi aku bukan orang yang suka mengumbar hubungan sebelum benar-benar aku yakin, kamu pantas aku kenalkan dengan mereka.

Sepulang dari kampus, kita selalu berkunjung ke rumahku, kamu ngobrol dengan ibuku. Waktu berganti dan hari-hari ku selalu dengan kamu, sampai ibuku sendiri sangat amat menyayangi kamu. Ibu selalu ingin mendahulukan kamu, aku tidak boleh menyia-nyiakan kamu kata ibu.

Kamu ingat betapa bahagianya hari-hari kita, bulan-bulan kita saat itu? Apalagi saat kamu sakit, aku sangat khawatir apalagi ibu, dia menyiapkan makanannya untukmu. Kamu tahu yang sangat panik saat kamu sakit? Iya, dia ibuku! Aku merawatmu sampai kamu sembuh, aku berikan kamu obat, aku berikan makan dan aku antarkan kamu ke klinik demi agar kamu sehat kembali karena aku khawatir dengan keadaanmu saat itu.

Kemudian hari yang aku tunggu tiba yaitu hari wisudaku, kamu datang dengan hadiah yang ada di tangan kanan dan kirimu. Tetapi setelah wisuda itu selesai, entah kenapa kamu berubah setelah itu, kamu? Bukan kamu yang dulu, kamu yang sering menjadikan foto kita berdua sebagai foto profilmu atau kamu upload fotoku di sosial mediamu, tetapi akhir-akhir itu kamu berubah. Aku tidak masalah, tapi lama-lama aku merasa ada yang mengganjal, sampai pada akhirnya aku sengaja tidak mengajakmu bertemu karena katamu kamu sibuk.

Aku cukup mengerti kamu kan saat itu? Kurang apa saat itu aku mengerti kamu? Sampai satu bulan, aku sabar menghadapimu yang sangat amat berubah. Sifat egoismu sangat terlihat, kekanak-kanakanmu sangat terlihat. Kamu selalu balik menyalahkanku, kamu pernah memutuskan hubungan kita tapi kamu urungkan.

Kamu tahu? Ibu selalu bertanya kenapa kamu tidak pernah main ke rumah sampai ibu tahu kalau kita sedang tidak akur, kamu tahu? Ibu adalah orang yang lebih takut aku disakiti, bahkan khawatirnya melebihi aku. Kamu ingat saat aku berikan perhatian, tujuannya untuk agar hubungan kita kembali manis tapi kamu malah balas membentak? Kamu tahu sakitnya itu seperti apa? Kamu tahu saat itu aku menangis di depan sahabatku, kamu mana mau tahu?

Di mana kamu saat aku membutuhkan kamu dulu? Di mana? Sampai pada akhirnya, aku muak dan aku mendiamkanmu, tidak aku hubungi kamu, sampai satu minggu kemudian kamu duluan yang menghubungiku, tapi apa? Malah balik kamu yang tidak memedulikan aku, sama sekali kamu tidak hubungi aku! Lelaki macam apa kamu itu? Saat itu yang aku pikirkan, kalau aku memutuskanmu, bukan hanya diriku tapi juga ibuku! Aku disuruh kanan kiriku untuk memutuskan hubunganku dengan kamu, "Toh dia masih kecil tidak bisa diharapkan" kata kebanyakan orang saat itu.

Semua yang kamu perlakukan kepadaku dan perkataan teman-temanku tentang keputusan itu sangat aku pikirkan. Sampai pada akhirnya, aku yakin untuk memutuskan kamu. Dan kitapun melalui perdebatan yang panjang saat ingin putus, tetapi ternyata kamu sangat amat ikhlas aku melepaskanmu, yasudah, jalan itu kita IYAkan bersama.

Sekitar 2 minggu sudah kita berpisah, jujur… masih ada yang mengganjal di perasaanku. Aku ingin tahu apa di belakangmu yang membuatmu memperlakukan aku seperti itu dulu. Tapi tangan Tuhan sangat cepat, Tuhan sangat menyayangiku. Aku melihatmu dengan wanita lain, kamu terlihat mesra dengan wanita itu. Secepat itukah kamu mendapatkannya setelah kita putus?

Aku tidak percaya kamu secepat itu bersama wanita lain setelah kita berpisah, kecuali sebelum kita berpisah kamu sudah dengan dia , aku lebih percaya dengan mata dan perasaanku karena feeling wanita tidak pernah salah.

Setelah aku melihat kejadian itu aku menangis? Ya! Aku menangis, aku menangisi apa? Bukan kamu selingkuh, yang terpenting adalah perasaan ibuku, bagaimana kalau dia tahu? Bagaimana perasaanya? Saat kita bertengkar saja ibuku sedih sekali, apalagi yang seperti ini, aku tidak habis pikir, apa yang kamu pikirkan saat kamu ingin mendua?

Apa kamu tidak memikirkan perasaan ibu dan keluargaku yang sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga? Tidak? Oh… mungkin perasaanmu itu terbuat dari batu. Semoga kamu dengannya mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan dan yang tidak ditemui saat dengan aku. Ingatlah satu hal, Tuhan itu adil, kamu bukan hanya menyakiti satu tapi DUA, dua wanita.

Tapi tenang saja, sekarang aku sudah melupakan hal itu, sudah sangat aku lupakan. Sekarang, aku malah semakin menjadi pribadi yang lebih baik setelah lepas dari kamu. Aku tidak memikirkan asmara sekarang, yang aku pikirkan sekarang, bagaimana menjadi pribadi baik agar mendapatkan yang baik juga. Untuk kamu, semoga kamu juga ya… Aku sudah menganggapmu teman, kesalahanmu dulu hanya akan aku jadikan arsip. Iya arsip, agar bisa kupelajari sewaktu-waktu jika aku perlu. Terima kasih yah .