Lama saya perhatikan banyak orang dimangsa hewan bernama “galau” karena kata cinta. Ada yang diobok-obok kesedihan karena sedang menanggung derita cinta yang belum kesampaian. Ada yang sedang mengambang dalam proses menuju pulau misteri bernama “gila” ketika sang idaman disambar sesuatu yang lebih buas.

Ciri-ciri psikis yang ditimbulkan setelahnya cukup beragam, tergantung pada seberapa lama hubungan tersebut. Semakin lama, maka akan berefek semakin parah. Salah satu contoh misalnya, katakanlah berputus asa dan pergi menyendiri sebagai bentuk “protes” yang bahkan ia sendiri tidak yakin kepada siapa sebenarnya sikap hopeless tersebut ditunjukkan. Bahkan ada yang lebih aneh, ialah mereka yang sedang bertanya-tanya dalam hati, kenapa cinta yang baru belum juga datang bersambut tangan padahal sudah sekian lama duduk manis penuh percaya diri dalam kubangan keegoan?

Secara biologi, cinta merupakan makhluk unik tidak kasat mata. Saya yakin sekali, belum pernah ada orang normal dapat melihat wujud cinta sebelumnya tidak juga para pujangga. Pasalnya cinta lebih halus dari makhluk bersel satu, karena teramat halus maka hanya bisa dirasakan.


Lucu bila mengingat apa yang dapat dilihat itu tidak dapat dirasa, namun yang tidak terlihat begitu terasa.


Secara ekonomi, cinta tersusun dari angka-angka. Jika anda berpikir angka-angka tersebut sama seperti yang terdapat dalam rumus-rumus buku fisika paling membosankan yang pernah anda pelajari dulu di sekolah, maka anda sudah salah besar! Angka-angka yang di maksud di sini ialah sesuatu yang lebih murni dan lebih suci. Ya, anda pasti sudah tahu. Namun tahukah anda, percaya atau tidak orang asing menyebutnya “money” bukan uang. Dan jika anda berpikir bahwa saya sedang bohong, silahkan anda cari sendiri di Google terjemahan atau Kamus Bahasa Inggris jika lagi malas menanyai orang. Terimakasih, eh.

Advertisement

Hanya keheranan, bagaimana cinta itu bisa menjadi obat dan racun dalam waktu bersamaan? Tidak ada orang yang tahu pasti bagaimana cara kerjanya. Suatu waktu ia seper­ti seorang intelegent dengan segala modus dan kerumitan asal-usulnya, dan di lain waktu ia menjadi "peracik" sekaligus "pengedar" barang haram, memangsa orang-orang polos nan sehat supaya mau menjadi "pasien" mereka, entahlah.


Hanya satu yang jelas dan pasti, 1000 definisi lebih sejatinya belum mampu menggambarkan keniscayaan cinta.


Ah, mungkin benar kata orang “cinta itu buta,” sehingga dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah menutup kedua bola mata dan hatinya.

Dan jujur saja, semua dari kita pasti pernah memimpikan sebuah romansa yang indah dalam hidup. Sebuah hubungan yang terjalin karena sama-sama cinta, yang membawa kepada kebahagiaan dunia, hingga janji-janji sehidup-semati itu pun tanpa sadar keluar begitu saja dari mulut. Kemudian setelah itu hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Yang pertama, hubungan tersebut selamat dengan berlanjut ke atas pelaminan. Kedua, berupa “mission failed” dalam bentuk bubar di tengah jalan. Banyak sekali faktor mengapa hal itu bisa terjadi, sebut saja tidak lagi sekata dan sehati.

Contoh sederhana yang sering terjadi, katakanlah hati nurani seorang anak yang shaleh tidak hendak menorehkan tinta dosa sebagai anak durhaka dalam lembaran kitab yang mana ditulis Malaikat Atib karena ia sepenuhnya yakin, mencari kebahagiaan dunia yang penuh onak dan duri ini merupakan hal yang berlebihan. Atau ada juga yang sedari pertama menjalin hubungan bukan karena cinta, melainkan hawa nafsu sehingga mencari sensasi semata. Kasus seperti ini sering kita dapati dalam kehidupan remaja karena masih labil dan juga remaja yang sudah berumur 30 tahun. Dan ketika si pecinta tanggung ini telah meraba titik kebosanan, akhirnya ia pergi berpaling tanpa sedikit pun rasa bersalah dan penyesalan.

Dan tanpa menafikan “pil pahit” yang sudah terlanjur masuk melewati kerongkongan seperti yang sudah tersinggung barusan, sekarang mari merenung sesaat. Dulu kita pernah berdoa meminta sesuatu, namun sampai sekarang masih belum terkabulkan, kemudian tiba-tiba tersadar, mungkin usaha kita waktu itu masih kurang, atau mungkin doa tersebut sangat jauh dari kata bijak sedangkan Allah SWT maha bijaksana, kan?

Lagi pula bukankah benar banyak yang manis sebenarnya racun dan yang pahit merupakan wajah lain dari ramuan yang menyehatkan? Mungkin kita telah lupa. Ini bukan bagaimana nanti hubungan itu harus indah, tetapi bagaimana cinta tersebut tidak menjadi racun kecuali membawa ke dalam jurang kebinasaan. Racun yang membuat kata cinta itu sendiri kerap sekali dikambing-hitamkan dalam sejarah patah hati anak manusia.


Semoga Allah senantiasa melindungi serta menjauhkan kita dari bencana cinta, cinta yang meluluhlantakkan iman dalam dada.