Menurut data dari Kementerian Agama RI, saat ini di Indonesia ada sekitar 40 perceraian setiap jamnya. Angka yang sangat tinggi ini sudah seharusnya menjadi perhatian banyak orang terutama orang yang akan menikah. Boleh-boleh saja melihat pernikahan sebagai sebuah kebahagiaan dan membayangkan bahwa kamu bakalan happily ever after setelah menikah, namun hal itu tidak akan merubah fakta bahwa ada banyak hal yang harus dimiliki oleh masin-masing fihak untuk mempertahankan sebuah pernikahan.

Bingung apakah pasanganmu adalah orang yang tepat untuk kamu nikahi? Itu adalah hal wajar karena mungkin hampir semua orang akan menikah juga bingung dalam memilih orang yang akan mereka nikahi. Tidak perduli berapa lama waktu berpacarannya, menikah seringnya masih menjadi sebuah keputusan yang membingungkan dan membuat banyak orang ragu-ragu. Sebenarnya, siapakah orang yang pas untuk kita? Tentu saja semua orang memiliki versi mereka masing-masing namun tidak adakah kriteria umum yang bisa berlaku bagi semua orang?

Tanpa bermaksud menggurui siapapun, orang seringkali memandang sesuatu dengan cara pandang yang agak kurang realistis dan itu bisa jadi adalah salah satu faktor utama sering terjadinya perceraian. Tentu saja faktor yang menyebabkan kegagalan pernikahan sangatlah banyak, namun cara pandang yang kurang realistis bisa menjadi pemicu banyak hal. Banyak orang kaget dengan pernikahan dan merasa bahwa pernikahan tidak seperti yang mereka bayangkan. Hal ini bukanlah salah pernikahan, namun kesalahan cara pandang orang-orang yang melihat bahwa menikah adalah sebuah akhir. Tidak semua pernikahan berakhir bahagia. Kamu juga harus sadar benar bahwa dalam realitanya, pernikahan itu juga sangat membosankan, sangat penuh konflik dan juga merupakan sebuah perjalanan yang sangat panjang dimana semua hal bisa terjadi. Untuk itu, orang harus sangat berhati-hati dan memikirkan hal-hal yang mungkin akan menjadi masalah dalam masa pernikahan nanti. Jika kamu termasuk orang yang sudah akan menikah, perhatikanlah hal-hal berikut ini:

Cari Pasangan Yang Tidak Membuatmu Bosan

Salah satu hal yang sering disalah artikan oleh banyak orang dalam memilih pasangan untuk menikah adalah tentang kebosanan. Banyak orang mengira bahwa mereka tidak akan bosan dengan orang yang sangat mereka cintai, namun banyak kasus menunjukan bahwa mereka keliru. Seberapapun cintanya kita dengan pasangan kita, rasa bosan pasti akan datang. Masalah kapan rasa bosan itu datang tentu saja tergantung individu masing-masing. Ada orang yang bisa bosan dalam satu minggu. Ada juga orang lain yang baru bosan setelah sepuluh tahun. Semua orang punya rentang waktu yang berbeda-beda, namun kebosanan itu pasti akan datang. Tidak peduli seberapa cinta kamu dengannya, rasa bosan itu pasti datang suatu saat nanti. Oleh karena itu sangat penting untuk mencari orang yang tidak gampang membuatmu bosan. Ingat, kamu akan melihat wajahnya setiap hari, membaui bau badannya setiap hari, melihat tingkah lakunya setiap hari dan berbicara denganya setiap hari. Kamu harus benar-benar yakin bahwa dari segi fisik dan mental, pasanganmu adalah orang yang kamu tidak akan bosan bersamanya dalam kurun waktu 50 tahun kedepan.

Advertisement

Pernikahan jauh berbeda dibandingkan pacaran. Saat pacaran, kalau kita bosan dengan dengan pacar kita, kita bisa saja minta putus, namun saat sudah jadi suami istri, tentu saja kita tidak bisa asal minta cerai. Orang yang sangat kita cintai bisa jadi bukan orang yang tepat untuk kita jika dia tidak bisa bersama-sama dengan kita memerangi salah satu penyakit paling berbahaya dalam pernikahan yang disebut dengan “kebosanan”.

Carilah Seorang Negosiator Handal

Hal lain yang perlu difikirkan adalah kemampuan negoisasi kamu dan pasanganmu. Memang sih biasanya di banyak film, happy ending adalah saat kedua tokoh utamanya menikah dan karena itulah orang sering melihat pernikahan sebagai puncak kebahagiaan, padahal belum tentu. Bukanya ingin menakut-nakuti, tetapi tidak semua orang seberuntung Habibie dan Ainun. Bukanya ingin menghilangkan pemikiran positif, namun pemikiran positif saja seringnya tidak cukup untuk melewati sebuah pernikahan. Kedua orang yang menikah harus menjadi negosiator handal karena menikah adalah menyatukan dua kepala yang berbeda. Pernikahan sangat rentan dengan konflik dan bahkan tidak mungkin ada pernikahan tanpa konflik. Oleh karena itu, kamu dan dia haruslah mampu melakukan negosiasi dan kompromi yang baik.

Di lain hal, kadang orang kaget dengan pasanganya saat setelah menikah. Mereka merasa mereka menikahi orang yang berbeda dari selama ini mereka kenal. Tentu saja demikian, saat pacaran kamu tidak melihat pasanganmu selama 24 jam, jadi selain kamu belum bosan, daya toleransimu terhadap pasanganmu masih dalam kondisi terjaga. Saat kamu bertemu selam 24 jam denganya, bisa jadi rasa toleransimu akan habis. Di saat itulah kemampuan negosiasi dari kedua belah fihak sangat dibutuhkan. Pernikahan itu tidak seindah sinetron. Meskipun tidak diakui, akan sering terjadi konflik kepentingan dalam pernikahan, akan ada politik di dalamnya. Misalnya si suami suka merokok tapi si perempuan sangat benci rokok. Apa iya mereka harus bertengkar setiap hari? tidak juga kan? Mereka harus bernegosiasi. Misalnya aja gini, oke si suami tetap boleh merokok asalkan di luar rumah dan tidak di dekat istrinya. Di sisi lain, istrinya melakukan diplomasi untuk membuat suaminya benar-benar berhenti merokok. Hal ini adalah salah satu contoh kecil sebuah negosiasi dalam pernikahan dan hal ini sangatlah penting untuk menjaga supaya pasangan tidak selalu bertengkar.

Jadilah Seorang Sahabat yang Baik

Silahkan Tanya kepada ayah ibu kita masing-masing, mungkin hanya beberapa dari banyak orang yang bahkan masih ingat kenapa mereka saling mencintai. Cinta akan hilang dengan sendirinya seiring berjalanya waktu dan yang ada hanyalah kebiasaan dan persahabatan. bukan berarti bahwa menikah tidak harus didasari cinta, yang dibicarakan disisni adalah bahwa cinta saja tidak cukup dalam menjaga pernikahan untuk waktu yang lama. Dalam hal ini Jangan melihat contoh kesuksesan orang lain atau meniru kiat orang lain karena setiap hubungan memiliki karakternya masing-masing. Tidak bisa kita meniru orang lain dan berharap akan sesukses mereka. Lagi-lagi saya katakan bahwa mungkin saja tidak semua dari kita seberuntung.

Satu lagi saat kalian berdua sudah tua dan sudah tidak ada lagi ketertarikan fisik, persahabatan dengan suami/istrimu adalah hal yang bisa menjaga hubungan kalian untuk tetap harmonis. Persahabatan bisa dimulai dengan banyak hal dan salah satu hal yang paling gampang adalah sering-seringlah sharing dengan pasanganmu supaya dia tahu kamu sesungguhnya orang seperti apa. Jika si dia orang yang tidak membosankan dan dia juga seorang negosiator handal, kamu bisa hidup bersama sampai tua dengan persahabatanmu meskipun cinta yang kamu miliki di awal pernikahan mungkin sudah lama hilang.

Memang benar masih ada hal penting lainya yang pastinya bisa mempengaruhi pernikahan seseorang, namun dalam konteks memilih pasangan untuk menjalani pernikahan, jangan hanya mengandalkan rasa cinta saja. Calon pasangan yang akan membuat pernikahanmu selamat sampai akhir bukanlah orang yang saat dia tidak ada, kamu merasa ingin mati saja. Dia tidak harus orang yang sangat kamu cintai. Dia tidak harus orang yang kamu rela berkorban jiwa dan raga. Dia bahkan tidak harus cinta sejatimu. Dia cukup seseorang yang tidak membuatmu bosan meskipun dia ada di depanmu untuk kurun waktu 50 tahun kedepan.