Kepada mereka yang sedang memperbaiki hati, mereka yang saat ini lebih sering mendoakan hati yang mereka tunggu daripada meluangkan waktu untuk berjalan maju. Kepada mereka yang begitu percaya bahwa pada akhirnya menunggu akan memberi mereka akhirnya mereka harapkan.

Aku tau rasanya jatuh cinta namun jauh hati. Ya seperti ini. Menunggu namun harus berhenti.

Kamu yang sedang jatuh cinta. Kamu yang sedang memperjuangkan hati seseorang untuk akhirnya jadi kepunyaanmu. Tetaplah tegar, jangan berhenti. Keseriusanmu padanya dibuktikan disaat kamu diminta menunggu tapi tidak pernah tau kapan harus berhenti. Kebesaran hatimu di ukur saat kamu dengan ikhlas pergi dari orang yang kamu tunggu , saat bukan kamu yang dia cari. Tetaplah kuat.

Menunggu tidak pernah jadi hal yang menyenangkan. Tapi bagaimana jika kamu sedang menunggu dia yang menghadirkan senyum di siang hari namun membuatmu menangis terisak di malam hari? Apa semua pengorbananmu dengan menunggu dan bersabar padanya sepadan dengan rasa gelisah yang ditaruhnya di hatimu?

Kamu menunggunya karena satu asalan. Di satu waktu, di waktu yang dahulu, kalian pernah bersama namun gagal. Lalu kamu putuskan untuk berhenti sampai akhirnya dia kembali.

Advertisement

Dia yang menyakitimu. Meninggalkan luka yang belum sepenuhnya kering tanpa penawar. Dia yang membuatmu merangkak untuk melupakannya. Dia yang membiarkanmu menunggu dirinya terlalu lama adalah dia yang paling kamu cintai. Kamu mungkin mengutuknya saat air mata jadi penenangmu di malam hari tapi dialah yang jadi alasan terciptanya rindu. Dia yang membuatmu percaya bahwa jatuh cinta masih jadi bagian dari hidupmu.

Kamu pribadi yang berbeda sebelum mencicipi luka yang dia tinggalkan di hatimu. Dan kamu tidak pernah kembali ke dirimu yang dulu saat dia pergi. Kamu masih mendoakannya , dia masih jadi prioritas utamamu. Kamu masih terus mencari kabarnya, dia bahkan tidak peduli kamu masih ada atau tidak. Kamu tidak pernah sadar, jika cinta butuh di perjuangkan. Oleh dua hati. Bukan hanya hatimu. Bukan hanya perjuanganmu.

Dia mungkin kembali padamu. Dia mungkin memberi kamu akhir yang kamu impikan. Tapi kamu sudah terlanjur berubah, cara pandangmu terhadapnya sudah terlanjur beda. Dia masih satu-satunya, masih yang nomor satu. Dia masih jadi pemeran utama dalam doamu. Tapi kamu menuntut untuk 'dibantu'.

Kamu berharap dia akan menyadari betapa luka yang dia tinggalkan membekas lebih dalam dari yang kamu kira. Kamu berdoa agar dia mau 'memperbaiki' hatimu yang sudah terlanjur 'berantakan' karena kepergiannya.

Jika kamu mampu, maka bertahanlah. Jika tidak, maka lepaskanlah. Pada akhirnya kamu akan sampai dititik bahwa kehilangan dan dikhianati tidak sebanding dengan rasa sakit dari menyadari bahwa kita bukan yang dia cari.

Untuk 6 tahun penantian dan terus berjalan , semoga aku adalah ketidak-mungkinan yang (juga) kamu semogakan.