Di zaman serba virtual seperti saat ini, cinta tak hanya bisa tumbuh dari sebuah pertemuan bukan? Karena yang aku tahu Tuhan itu adil. Dia membuat lima panca indera, bukan satu, maka dari itu aku percaya bukan hanya lewat mata rasa bisa tercipta. Seperti aku dan laki-laki itu, aku hanya mengenalnya lewat aksara yang dia rangkai menjadi jutaan kata berlanjut berkenalan lewat suara yang kemudian diciptanya menjadi sebuah sabda.

Bukan dengan pertemuan yang diselingi makan, nonton atau hanya sekedar janjian untuk jalan-jalan menikmati senja. Cara kami mengukir kenangan adalah berbeda. Bagaimana dan dengan cara apa kami mengukir kenangan? Semua berawal dari perkenalan kami di sebuah aplikasi chatting. Chatting? Iya benar. Memulai sebuah obrolan ringan namun hangat menjadi menu yang selalu aku tunggu selepas malam sebelum tidur, terkadang saking setunya percakapan, kami melewatkan jam tidur sampai pagi.

Diselingi komunikasi via suara kami pun asyik berdiskusi tentang berbagai hal yang mungkin tidak akan berani dibicarakan jika bertatap muka secara langsung, hingga esoknya kami akan tertawa karena seringnya kesiangan bangun, untuk kemudian saling meminta maaf karena bersalah. Hal-hal kecil dan sederhana memang, namun itu adalah kegiatan yang bisa kami buat tanpa menghiraukan jarak yang sebenarnya memisahkan kami secara raga, membuat kami tertawa tanpa risau akan perbedaan ruang dan waktu.

Semesta yang bernamakan dunia maya ini meleburkan kami dalam satu ikatan tak kasat mata serta mampu menjadi tempat kami lari dari kenyataan dunia yang sebenarnya. Pada rentang waktu yang tidak sebentar, entah darimana dan kapan dimulai, dalam diam yang sunyi, perasaan suka mulai menyelimuti pada sosoknya yang selalu mau mendengar dan peduli.

Ah, siapa yang tidak kagum dengan sosoknya yang baik dan begitu mengerti situasi. Sosok yang selalu mampu menghibur diri ini dengan caranya sendiri, menemani sepi ketika semua orang di dunia nyata memalingkan muka dan pergi. Sosok yang tak pernah kulihat apalagi kusentuh, namun satu kalimat darinya mampu menggantikan hadirnya disisi.

Advertisement

Perasaan kagum kian menggunung, rasa cemas hadir bila tak kunjung ada kabar darinya. Rasa rindu datang menggebu bila beberapa hari tak bertegur sapa, gelisah dan resah jika dia lebih memilih sibuk dengan dunia nyatanya daripada dunia kami, cemburu memburu melihat linimasanya bertukar komentar dengan wanita lain. Dalam gamang aku berusaha meyakinkan diri bahwa ini adalah rasa terbiasa akan sosoknya yang selalu ada dan bukan cinta. Aku sangsi mana mungkin cinta bisa tumbuh dari dunia maya, diantara kami pun belum pernah ada pertemuan.

Ada saatnya jika malam tiba bukan percakapan dengannya lagi yang mengisi malamku, tetapi ketakutan yang mengetuk-ngetuk pikiran jahat tentang sosoknya di dunia nyata, berbanding terbalik kah dengan kelembutannya selama ini? Ingin aku menceritakan semua yang aku rasa padanya, namun ketakutan akan dia tak memiliki perasaan yang sama, membuatku harus menyimpan semuanya sendirian.

Terkadang aku membiarkan diriku menghilang dari linimasanya dan berharap kerinduannyalah yang akan menemukanku. Meski sering aku ingin benar-bemar pergi dan mengakhiri semua sampai disini saja, tetapi sayangnya selalu aku tak sanggup. Sosoknya yang selalu ada meski tak nyata sudah mengisi separuh hidupku. Mencintai seseorang diam-diam saja sudah begitu menyiksa, ditambah keraguan apakah cinta dari dunia maya ini nyata atau tidak malah semakin membuatku merana.

Hingga pada akhirnya kelelahanku akan semua yang aku rasakan mengantarkanku pada kesadaran bahwa Tuhan memang menciptakan lima indera, dan apa yang aku rasa ini adalah anugrah yang sepatutnya disyukuri, rasa yang yang seharusnya aku yakini bahwa keberadaannya tidak semaya tempat di mana dia tumbuh. Aku hanya perlu menerima dan percaya jika cinta ini adalah nyata.