Mamakku akan tiba-tiba menjadi Jaka Tingkir kelaparan apabila ia tahu kalau aku telah menghilangkan harta berharga miliknya. Mamakku itu unik bin aneh, disaat orang lain mengaggap emas sebagai harta terbesar, ia malah menjadikan Tupperware sebagai harta yang tak tertandingi.

Apakah hanya aku seorang yang memiliki nasib yang senaas ini?

Masih ingatkah kalian dengan cerita legenda Malin Kundang? Cerita seorang anak yang durhaka kepada ibunya kemudian ia dikutuk menjadi batu selama-lamanya? Aduh..apabila kembali ke masa itu, aku akan kembali melihat wajah tegangku yang pada saat itu sambil menggigit kain ketakutan menyaksikan layar televisi hitam putih milik bapakku. Naas nasib Malin Kundang. Andai saja ia tak durhaka kepada mamaknya, mungkin ia sudah menikmati masa pensiunnya dengan tenang bersama anak dan istrinya.

Sejak saat itu, beberapa menit setelah selesai menyaksikan film tersebut, aku bertekad dalam hatiku bahwa aku tak akan akan menjadi Malin Kundang. Aku tak mau dikutuk oleh Mamakku sendiri. Aku tak mau, aku takut.

Tapi sayang, ada hal yang yang mungkin akan membuatku memiliki cerita yang sama dengan Malin Kundang. Aku khilaf, aku salah, aku telah menghilangkan harta berharga yang dimiliki oleh Mamak ku. Mak…. Tupperwaremu hilang. Nyawaku rasanya sudah di ujung tanduk. Jangan banyak bergerak, nanti ia bisa jatuh. Kalau terjatuh aku bisa hilang selama-lamanya dari bumi ini.

Advertisement

Tupperware adalah pernak-pernik rumah tangga yang saat ini sedang ngetren. Ibu-ibu, bukan hanya mamakku saja berlomba-lomba untuk mengoleksi barang-barang tersebut. Dengan pilihan warna yang beraneka ragam, memberikan nilai tambah yang semakin tinggi, hal ini tentunya semakin melelehkan liur ibu-ibu yang ada di rumah.

Tupperware tiba-tiba menjadi emas. Emas sudah mulai dikesampingkan sebagai barang perhiasan mewah sebagai alternatif investasi masa depan. Sekarang popularitasnya telah direnggut oleh benda ajaib yang dinamanakan dengan 'Tupperware'. Seiring dengan semakin meroketnya nilai Tupperware, muncullah pandangan dari para kaum ibu-ibu, emas ibarat butiran debu dibandingkan dengan Tupperware.

Suatu hari, mamakku membeli satu lusin Tupperware yang terdiri dari berbagai macam bentuk. Mulai dari tempat minuman, makanan, dan lain sebagainya. Aku sebagai anak muda yang masih polos yang belum terlalu banyak dosa, ya langsung saja memintanya tanpa dosa. Aku ambil saja tupperware tempat minuman ukuran sedang berwarna hitam bertutup biru.

Sekilas, memang lucu penampilannya, jadi sepertinya tak masalah untuk dibawa pergi ke kampus, tanpa harus merenggut jiwa mudaku yang gaul. Mamakku dengan berat hati mengizinkannku membawanya, tapi dengan berbagai macam syarat dan ketentuan berlaku, mengalahkan prosedur kredit mobil fortuner.

Poin dari kontrak itu adalah bahwa Tupperware itu tidak boleh kotor dan hilang. Kata mamak aku harus menjaganya dengan sepenuh hati. Dahulukan keselamatan Tupperware dibandingkan nyawaku sendiri. Ah akupun enteng saja menyanggupinya, toh tidak ada orang di luar sana yang akan mengambilnya. Maling jaman sekarang ini incarannya sudah modern, tidak level untuk mencuri barang aneh seperti ini, barang yang hanya digandrungi oleh emak-emak rempong seperti mamakku contohnya.

Satu minggu berlalu. Hari-hariku ditemani oleh benda manis bernama Tupperware. Kehidupan kami aman dan sejahtera. Mahligai kehidupan kami tidak ada gangguan, semua lancar. Hingga pada suatu hari hal yang tak aku inginkan itu terjadi. Tupperaware ku hilang. Hilang entah kemana. Sepertinya jatuh pada saat aku sedang mengendarai motor. Ah sudahlah, sulit untuk aku ceritakan. Apapun ceritanya, barang itu sudah hilang dan tidak akan pernah kembali lagi, seperti lenyap di telan bumi.

Seiring dengan kejatuhannya yang entah dimana, hatiku juga terjatuh berkeping-keping. Hukum pidana mamak sudah siap menanti. Aku hanya bisa berdoa agar bapakku bisa memberikan grasi atas hukumannku nanti. Meskipun terasa sulit, karena tak ada yang berani menggugat atau bahkan naik banding atas hukuman yang telah dijatuhkan mamak.

Jeglekkkkk….. MAMPUS AKU! Kemana lagi aku harus mengadu? Tupperware itu hilang entah kemana.

Terbayang wajah seram mamakku seperti hantu valak berdiri di pintu rumah. Tuhan, aku takut pulang ke rumah! Aku takut di kutuk mamak. Tuhan aku mohon, ketika nanti aku sudah pulang ke rumah, dan mamakku akhirnya mendengar berita duka ini, dan akhinrya dia marah, kemudian lantas mengutukku, tolong jangan engaku kabulkan ya Tuhan. Hamba masih ingin hidup. Hidupku di terancam punah gara-gara Tupperware.

Oh …. Tupperware….