Manusia adalah makhluk sosial. Mengharuskan dia untuk berinteraksi dengan setiap orang. Tidak menutup kemungkinan akan terjalinnya sebuah hubungan akrab yang bernama persahabatan. Dimana segala hal termasuk ego harus diturunkan. Mendahulukan kepentingannya daripada kepentingan diri sendiri. Selalu berusaha bersikap peduli atas apa-apa yang terjadi pada dirinya. Membantunya tanpa pamrih dan selalu menunjukkan senyuman meski hati dilanda kegalauan.

Bukan keterpaksaan, hanya saja itu semua dilakukan untuk menghargai sebuah hubungan akrab tersebut.

Memang benar begitu adanya. Sebuah jalinan persahabatan memang harus saling mengalah satu sama lain. Tidak bisa sama-sama meninggikan ego di saat ego yang lain juga ikut meninggi. Tidak bisa mempertahankan keinginan disaat keinginan yang lain juga mengakar sama kuatnya. Harus ada yang mengalah. Bukan untuk kepentingan pribadi, hanya saja untuk menjaga keberlangsungan hubungan itu agar bertahan lebih lama.

Sulit? Jelas sulit. Karena pada dasarnya manusia memang memiliki sifat egois. Tidak ingin mengalah apalagi dikalahkan.

Bersikap loyal kepada sahabat memang perlu. Itu untuk membuktikan bahwa kamu memang benar-benar menyayanginya. Menginginkan dia dalam kurun waktu yang lama. Bukti bahwa kamu akan selalu membutuhkannya. Tidak hanya pada saat-saat tertentu saja. Karena diperlukan bukti ketulusan dan kesetiaan dalam menjalani hubungan akrab tersebut.

Advertisement

Namun bukan berarti kamu harus selalu menuruti apa maunya mereka. Tidak semua yang mereka inginkan itu layak untuk kamu turuti. Mungkin akan timbul kelelahan ketika kamu menuruti apa-apa yang menjadi keinginannya. Mengalah demi kepentingannya dan menurunkan ego hanya untuk menghargainya. Disaat itu pulalah sifat egois dalam dirimu akan keluar.

Kamu yang juga memiliki keinginan sama berharganya dengan mereka akan merasa bahwa keinginanmu itu jauh lebih berharga dari keinginan mereka. Kamu yang memiliki pendapat yang sama kuatnya dengan mereka akan merasa bahwa kamu pun berhak untuk mempertahankan pendapatmu. Mengambil keputusan dan menjalankannya tanpa harus mempermasalahkan pendapat mereka. Anggaplah kamu sedang egois saat itu. Karena memang kamu sedang berusaha untuk mempertahankan apa yang memang seharusnya kamu pertahankan.

Bolehlah mereka memberimu saran dan masukan, atau mungkin mendebat pendapatmu, tapi kamu tetap pada pendirianmu. Bukan keras kepala, hanya saja kamu memang sedang berusaha untuk menjadi dirimu sendiri.

Dirimu yang sedang keluar dari zona nyaman atas hubungan yang sudah terjalin akrab dengan mereka. Bukan mengalah hanya karena ingin menghargai hubungan itu lalu kamu mengabaikan apa yang memang seharusnya kamu perjuangkan dan pertahankan.

Kadang kamu pun perlu untuk mengeluarkan sifat-sifat burukmu untuk menghadapi hal-hal yang ribet seperti itu. Salah satunya adalah dengan sifat egois. Egois bukan berarti kamu terus-terusan mementingkan dirimu sendiri, hanya saja itu adalah cara kamu untuk mempertahankan apa yang memang seharusnya kamu miliki atau sesuatu hal yang memang harus kamu lakukan. Egois berkaitan dengan logika berpikir. Bukan berarti tidak mengikutkan hati nurani saat mengambil keputusannya. Hanya saja perlu dikelola dan dikendalikan dengan apik sehingga sifat egois yang muncul dari dalam dirimu bukanlah suatu sifat yang sangat buruk sekali.

Sesekali egois juga tak masalah, karena kamu pun memiliki kepentingan dan atau pendapat yang memang harus dipertahankan. Selain itu juga agar kamu lebih peduli terhadap dirimu sendiri. Tak melulu tentang mereka yang selalu kamu pikirin. Kamu pun punya kehidupan sendiri yang harus kamu perhatikan. Bagaimana bisa kamu akan bersikap peduli kepada mereka sedangkan dengan dirimu sendiri saja kamu malah bersikap acuh?

Namun guys, bukan berarti kamu harus bersikap egois terus menerus yaa!. Itu pun juga tidak baik. Bolehlah sifat buruk itu muncul, tapi jangan berlebihan apalagi keseringan. Karena efek sampingnya akan langsung berdampak pada hubungan akrab yang sedang kamu jalani dengan mereka.