Seperti apakah cinta yang sebenarnya? Seperti apakah cita-cita yang seharusnya diperjuangkan? Dan seperti apakah kebahagiaan yang seharusnya dirasakan.

Aku menarik nafas dalam ketika pertanyaan itu tiba-tiba saja terngiang dalam otak dan menelusup kedalam hati. Ada perasaan sesak yang selalu saja hadir. Ada kebingungan yang selalu berhasil meresahkan hati. Dan saat semua itu kurasakan, aku akan lebih memilih untuk berdamai dengan diriku sendiri. Memejamkan mata dan membiarkan hembus angin menyapa lembut ujung kulit dan perlahan menyelinap masuk hingga menenangkan hati.

Bukan tanpa alasan semua itu kulakukan, sebab aku tahu dinding-dinding kamar terlalu bisu untuk dapat kuajak berbincang. Untuk itu kumemilih untuk keluar dan menikmati indahnya alam dibawah tudung langit ciptaan-Nya. Saat itu pula aku sadar bahwa ku tak sendiri, ada jutaan bintang diatas sana menyapaku lembut dengan cahayanya, menemaniku dalam setiap hembus nafas, dan menemaniku dalam setiap hayalan.

Cinta Tak Perlu Diumbar Cukup Disimpan dan Didekatkan Didoa

Kala kebanyakan teman memilih menghabiskan malam minggu bersama dengan kekasih hati, aku akan lebih memilih untuk tinggal dirumah. Bukan, bukan aku menjudge jelek hal itu, tapi lebih dari itu aku hanya ingin menjaga diriku sendiri. Karena aku sadar, saat ini jika bukan aku yang menjaga diriku sendiri lalu siapa lagi ?
Tak sedikit teman dengan nada bercanda menanyakan “Pacar Lo Mana ? “ atau “Kayaknya gue ga pernah liat Lo jalan sama cowok deh.” dengan diakhiri sebuah tawa diakhir kalimat mereka.

Advertisement

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan mereka. Tak pernah berniat untuk menjawabnya. Andai saja mereka tahu bagaimana indahnya menyimpan cinta ini, kurasa mereka tak akan ada keberanian untuk menertawakannya. Cinta yang kurasa begitu indah, menyimpannya dan menyebutkannya dalam doa adalah caraku untuk menghormati dia. Karena alasan itulah aku malas untuk menjelaskan definisi cinta menurutku kepada mereka. Karena toh mereka tak akan mengerti. Untuk itu cukuplah definisi cinta ini diriku saja yang mengerti dan berharap semesta mengamini hingga Tuhan merestui dan mendekatkanku pada dia yang juga menjaga hati.

Tak Perlu Banyak Berkoar-Koar Cukup Perjuangkan Dalam Diam

Perjalanan hidup memang kadang melelahkan. Apalagi berjuang sendiri, sangat membosankan. Hidup yang kujalani saat ini adalah tentang cita-cita, tentang keinginan dan tentang perjuangan. Mungkin kadang aku seperti orang yang tak waras didepan kebanyakan orang. Tapi biarlah, aku tak peduli, karena aku tak ingin keinginanku hanya berujung pada harap semata.

Apa yang kujalani ini adalah tentang hidup, hidup yang tak akan mungkin dapat kuulang kembali. Mungkin terkadang aku begitu egois dan keras kepala. Tapi asal kau tahu semua itu kulakukan semata untuk menguatkan diriku sendiri. Sebab ku tahu tak semua orang mengerti tentang maksud dari apa yang kuperbuat dan tak selalu mendukung dengan apa yang kulakukan.

Karena alasan itulah aku memilih untuk berjuang dalam diam, menguatkan diri sendiri, demi untuk diriku sendiri dan juga kebermanfaatan untuk orang lain. Sebab kutahu pengharapan kepada manusia hanya akan memberi rasa sakit, tatkala apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan.

Tak Perlu Kau Cari Bahagia, Dia Datang Tatkala Kau Syukuri Nikmat-Nya

Banyak orang yang bertanya tentang apa itu bahagia ? Aku harus bagaimana agar bahagia ?. Jujur saja aku bingung untuk menjawabnya, sebab bahagia itu tentang rasa. Bahagia itu tak berwujud, akan tetapi terasa, jika hatimu ikhlas untuk menjalani setiap harinya maka kau akan temukan kebahagian dalam hal yang mungkin saja begitu kecil sekalipun.

Jika kau tanya apakah aku bahagia hari ini ? maka kan kujawab “Insyaalloh”. Aku pun sama dengan kebanyakan orang, mencari ketenangan. Dulu aku berfikir bahagia adalah saat dimana kita mempunyai segalanya harat, tahta, nama besar. Namun seiring berjalannya waktu, rasanya aku begitu lelah untuk mengejar itu semua, hariku begitu monoton dan penuh dengan keegoisan dan keinginan untuk menang sendiri.

Hingga kini kurasa semua itu cukup dan harus kuakhir, karena aku sadar tak kudapatkan apapun dari semua itu. Hanya perasaan gelisah dan ketakutan akan kekalahan yang kurasa. Saat ini aku sedang belajar untuk menjalani hidup dengan sewajarnya saja, mensyukuri setiap nikmat-Nya, merelakan langkah ini dibimbing oleh tangan besar-Nya, semua demi satu tujuan, keridhoan-Nya.

Perjalanan memang kadang terasa sangat melelahkan. Ada rasa ingin menyerah kala diri sadar tak ada kawan yang menjadi tempat bersandar. Namun kutahu selalu ada tangan dari Dzat yang Maha Besar. Walaupun dunia kadang berjalan secara tidak wajar namun kucoba untuk selalu tegar sebab ada Ia sebagai tempat untuk bersandar.