Okay, siapa sih yang gak suka musik? Hampir semua orang di belahan planet ini suka, mungkin kalo diadain survey tentang tingkat kesukaan manusia terhadap musik semua orang bakal bilang suka. Kalo kata iklan, “Sembilan dari sepuluh orang di dunia ini menyukai musik”, yang satunya? Dunno, mungkin kurang piknik.. Ah tapi gak juga sih. Karena seperti apapun kondisi seseorang pasti sulit buat gak menerima musik buat masuk ke dalam kehidupan dia (bole nonton film judulnye “I Am Sam” yang maen Sean Penn atau gak “Frank” yang maen Michael Fassbender). Walaupun gak dijelasin secara ilmiah sih tapi udah cukup ngejelasin bahwa orang yang punya keterbelakangan mentalpun bisa ajib banget music taste-nya.

Itu menurut subjektif saya aja, kalo mau penjelasan secara definitif, baik itu diliat dari terminologis sama etimologisnya, banyak banget konsep dan proposisi yang ngejelasinnya! Dari mulai musik sebagai produk budaya manusia, kebudayaan itu sendiri, kesenian, hasil olah rasa, hasil persilangan kultur-kultur, sebuah konter-kultur, dan banyak macemnya yang dapat kalian baca dari literatur-literatur atau tinggal googling kalo males baca buku tapi kebelet pengin keliatan lebih pinter.

Jadi, kali ini saya gak mau teralu memperdalam soal musik soalnya saya juga gak pinter-pinter amat, tapi lebih ke hal-hal yang berkaitan dengan musik itu sendiri.

Nah! Untuk itu, pada kali saya ini mau ngejelasin soal sebuah fenomena yang ada di sekitar musik, yaitu HIPSTER!

(#nowplaying: Amputechture album by The Mars Volta)

Advertisement

Gaspol!

Apa sih Hipster itu? Beberapa dari kalian pasti udah pernah denger, sebagian kecil dari kalian mungkin juga ada yang belom denger, lalu dari beberapa yang udah pernah denger mungkin hanya sebagian kecil yang tau bener-bener apa itu Hipster.

Hipster adalah sebuah subkultur kontemporer yang umumnya ada di kelas menengah (asik juga ye ngomongin kelas, berasa Marxist) yang berkutat dengan hal-hal yang anti-mainstream. Yang anti-mainstream tuh kaya gimana? Yaa liat aja sekitar kalian yang lagi happening apaan, kemungkinan hal-hal yang kontradiktif atau yang sedikit berbeda dari yang lagi happening tersebut diyakini sebagai hal-hal yang anti-mainstream, bagi kalangan Hipster tentunya. Biasanya sih hal-hal dalam bidang lifestyle, hobi, genre film, bahasa, pakaian, pandangan politik, kepercayaan, dan tentunya yang akan saya bahas yaitu dalam bidang musik!

Pada post ini, saya akan nyoba ngebahas fenomena hipster dalem negeri. Kalo ngebahas orang luar saya kurang observasinya hehe.

Buat sejarah dan perkembangan Hipster sendiri saya rasa kalian bisa baca sendiri dari sumber-sumber yang berceceran di sekitar kita, tinggal klik ini klik itu, easy! (Rekomendasi: coba search flower generation, hasil persilangan kaum Bohemian Beatniks dengan filosofi “Hipster”-nya, SERU!)

Jika kita kaitkan Hipster dengan musik sesuai dengan pengertian yang di atas, maka bisa dibilang Hipster adalah kalangan yang mendengarkan jenis musik yang anti-mainstream. Di Indonesia, band-band major label lebih dianggap sebagai hal yang mainstream karena dengan keunggulan manajemen dan distribusi hasil fisik yang lebih terorganisir dibanding band-band independent (indie) mebuat musik mereka lebih mudah didengar masyarakat dan juga lebih radio-friendly. Sedangkan band-band indie yang notabene proses produksinya dari mulai recording sampai distribusi menggunakan sumber daya personal akan cukup kesulitan untuk membuat musiknya dapat didengar khalayak luas, itulah (mungkin ya) yang membuat band-band indie disebut sebagai hal-hal yang anti-mainstream yang sangat disukai oleh kalangan Hipster.

Itu kalo musik dalem negeri, kalo musik luar negeri di mata “Hipster” Indonesia? Yang saya liat di sekitar saya dan perkembangan media sosial, musik yang asik, nyentrik, dan jarang didengerin sampe bisa dibilang sebagai hal yang anti-mainstream tuh kaya macem alternative, folk, garage rock, britpop, psychedelic, shoegaze, dan masih banyak macemnya dari yang emang beneran genre musik sampe scene atau beberapa subculture yang sering banget disebut-sebut layaknya itu juga adalah sebuah genre…Hm.

Lalu, gimana dengan Hipster-nya sendiri? Di Indonesia cukup terbilang banyak populasinya, dan dari sekian banyak itu kebanyakan membentuk sebuah kolektif sebagai klub, komunitas, dan ada juga yang bikin label kecil-kecilan. Lalu kalo udh berkumpul kaya gitu dari mananya bisa dibilang sebagai kultur yang berbeda? Tentu saja bisa karena sebesar apapun kumpulan kolektif mereka akan tetap menjadi bagian kecil dari kesulurahan masyarakat.

Nah, sekarang ya menjadi pertanyaannya, apakah membedakan diri dari suatu tatanan masyarakat merupakan sebuah hal yang salah? Tidak juga, karena itu hak mereka. Tetapi…menurut saya terdapat beberapa (TIDAK SEMUANYA) dari kalangan Hipster di Indonesia yang sudah melenceng dari apa arti sebenarnya menjadi seorang hipster. Mendengerkan musik yang “katanya” berbeda, tetapi lebih memilih mencari musik unduh ilegal yang gratisan untuk memuaskan nafsu kuping mereka ketimbang menghargai penyanyi/band favorit mereka dengan membeli hasil rekaman fisik atau mengunduh legal karya penyanyi/band tersebut. Lalu, tidak ingin taste musiknya menjadi suatu hal yang booming. Itu sama saja tidak ingin penyanyi/band mereka berhasil dan sukses lalu dikenal banyak orang. Paradigma seperti itu tidak dapat disebut sebagai seorang hipster yang bener-bener hipster, melainkan hanya seorang Poseur. Apa itu poseur? Poseur atau poser adalah orang yang lebih banyak meng-copy sebuah identitas namun kebanyakan tidak total karena hanya tampak luarnya saja yang diikuti tetapi ideologinya tidak, maklum saja…cuma ikut-ikutan biar cool. Yaa semacam muda-mudi yang bio twitternya ngaku-ngaku bipolar, schizophrenia, bahkan philanthrophist.

Balik lagi ke kasus! Walaupun dengan dikenalnya si penyanyi/band tersebut dan menjadikannya tidak lagi menjadi hal yang anti-mainstream, menurut saya tidak ada salahnya para hipster tetap mengagumi mereka, bukannya cari hal baru yang lain yang dapat mereka anggap sesuatu yang “berbeda”. Yang penting apresiasi mereka terhadap penyanyi/band tersebut dapat lebih besar dan tetap lebih spesial dibanding khalayak luas yang baru saja mendengar dan menyukai karya musik tersebut. Dengan begitu menurut saya sudah dapat menjadi seorang hipster yang bijak karena walaupun taste musiknya tidak lagi menjadi hal yang berbeda, tetapi dapat menghargai sesuatu karya dengan lebih baik karena sudah lebih dulu mengetahui genre, scene, ataupun subkultur tersebut.

Nah, mas-mas dan mbak-mbak, serta adik-adik juga, kalo pengin banget keliatan beda gada salahnya kok! Tetapi jangan lupa untuk menghargai hasil karya orang lain, dan sebagai pendengar musik yang budiman, cobalah dikit-dikit ikut menyebarluaskan informasi terkait karya penyanyi/band favorit kalian ke lingkaran di sekitar kalian!