Dear kekasih hatiku,

Tepat esok pagi hari, pesawat yang akan kutumpangi akan segera pergi dan membawa aku menyeberangi darat dan laut. Lewat perjalanan esok hari, aku akan pergi mengadu nasib di negeri yang baru. Aku akan merantau dengan periode yang terbilang cukup lama, namun entah berapa waktu tepatnya.

Dengan sengaja, kutuliskan ini hanya untuk dirimu. Maka sebelum aku pergi, sempatkanlah dirimu membaca beberapa patah kata yang mungkin tak indah ini.

Sayangku, tibalah hari yang sangat berat bagi kita. Di mana kita harus menjalani semua lewat jarak yang teramat sangat.

Rasanya baru kemarin aku dan kamu tertawa terbahak. Berdua, kita menikmati waktu dengan membicarakan apa saja. Tentang keluargamu, keluargaku, tentang masa depan kita. Bahkan obrolan sederhana tentang orang yang lewat di hadapan atau gosip tentang teman turut kita lakoni. Tapi khusus hari ini, aku dan kamu harus menghadapi perpisahan. Bukan karena rajutan kasih ini terputus. Melainkan karena aku harus menempuh jarak jauh dalam meraih cita-cita.

Ya. Aku harus bekerja di seberang pulau. Tanggung jawab yang semakin besar, mau tak mau, membuatku harus mengemban tugas ini. Di sinilah profesional, impian pribadi, serta cintaku diuji. Namun dengan pemikiran dewasa, aku harus tetap menjalani jarak ini.

Bersabar saja karena ini kulakukan demi masa depan bersama. Tapi aku yakin, jarak hanyalah persoalan yang mudah.

Advertisement

Kamu tak perlu merisaukan diriku, Sayang. Kalau masalah makan teratur, aku sanggup memasak sendiri. Aku sanggup memilih sayur, buah, dan daging yang bernutrisi dari ilmu yang kamu beri. Untuk ibadah, aku tak akan jengah mengadakan sholat lima waktu. Dalam perjalanan, mataku pun akan selalu awas memperhatikan jalanan. Soal hati, tetap dan cuma kamu yang mengisi relung-relung di hati terdalam ini.

Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersabar, Sayang. Keputusan berat ini kulakukan demi masa depan kita kelak. Sejak dahulu, bukankah kamu yang selalu mendukungku mencapai posisi ini? Jika kita mampu melewati ini semua, maka kamu pun akan berbahagia. Sebab saat aku menjadi suami kelak, aku bisa bertanggung jawab atas semua yang kamu perlukan. Aku pun dapat menghidupi keluarga kecil kita kelak.

Aku meyakini persoalan jarak ini tidak lebih sulit dari apapun. Kita akan mudah melewati ini semua.

Percayalah kepada Tuhan. Jika memang aku dan kamu adalah takdir, cinta ini tak akan pernah ada habisnya walau dirundung godaan.

Sayangku, seperti yang telah tertulis tadi, tak perlu kamu mengkhawatirkan aku. Hati ini tetaplah milikmu saja. Aku bisa berjanji dan menjaga hatiku selalu. Kamu pun tak usah cemburu bila aku nanti luput membalas pesan singkatmu atau tak kunjung menjawab panggilan teleponmu. Itu bukan berarti aku sedang bersama yang lain. Karena sesibuk apapun aku nanti, pasti ada waktu yang walau sangat sedikit saja, kurelakan untuk menegur sapa denganmu.

Sayangku, percayalah dan berserahlah saja pada takdir Tuhan. Jika kita memang ditakdirkan bersama oleh-Nya, jarak sejauh apapun, kesulitan setinggi apapun, sudah pasti mampu kita hadapi. Sudah pasti itu tidak akan menjadi masalah dan godaan yang membebani. Tapi memang jika di akhir nanti, kita menganggap ini sulit, barangkali memang Tuhan mengatur kita hingga saat itu saja. Percayalah saja dan berdoalah pada-Nya saja.

Yakin saja. Sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi hak kita, Allah tidak akan membiarkannya menjadi milik orang lain.