Untukmu yang perlahan mulai mengubah hidupku. Tak pernah kusangka bila pertemuan kita justru menjadi permulaanku untuk mulai tersenyum bahagia. Kamu yang mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat dengan senyummu yang sederhana. Yakinlah kamu benar-benar tak butuh usaha luar biasa untuk memasuki ruang hatiku yang sebelumnya kosong dalam waktu lama.

Saat pertama kali melihatmu dalam lift yang hanya berukuran 2×2 dan dengan percakapan yang sangat biasa, aku tahu sejak saat itulah hati ini sepenuhnya milikmu. Kudengar beberapa orang membicarakanmu. "Pegawai baru" mereka memberikan julukan bagimu.

Tahukah kamu? Aku mulai sangat penasaran! Ingin tahu siapa namamu, di divisi mana kamu ditempatkan, dan wanita seperti apa yang kamu inginkan. Aku benar-benar ingin tahu! Sampai akhirnya, kamu memasuki ruanganku dan teman-temanku. Tak kusangka, kamulah partner yang dipilih untuk menggantikan temanku yang resign karena urusan pernikahan.

Dari sinilah, aku mulai berubah. Sekalipun kamu sendiri tak pernah menyadari, aku sebenarnya mulai berusaha menjadi apa yang paling kamu ingini. Aku mulai menata rambutku agar lebih menarik daripada sebelumnya. Aku mulai menghabiskan waktuku lebih lama di depan cermin sebelum pergi ke tempat kerja. Kurubah selera berpakaianku yang sebelumnya terkesan kurang manis untuk seorang wanita.

Aku mulai menggunakan lipstik, yang sebelumnya cukup lama kebiasaan ini ku tinggalkan. Aku juga mulai belajar memasak. Karena menurutmu, wanita karir yang tetap bisa memasak adalah wanita yang layak dipertimbangkan untuk jadi pendampingmu. Dan akhirnya, aku tahu bahwa menghadapi klien jauh lebih mudah daripada menghapal nama-nama bumbu di dapur. Tak jarang tangan dan wajahku terciprat minyak saat menggoreng.

Advertisement

Tak apa. Itu benar-benar tak ada artinya bila dibandingkan dengan rasa bahagiaku saat aku melihatmu tersenyum sempurna melihat kotak makan siang yang kuberikan dari hasil masakanku. Tak sadarkah kamu? Pujian yang terlontar dari mulutmu atas masakanku, jauh lebih indah dari jutaan puisi yang pernah aku baca.

Aku mulai memperbanyak doa. Bukan, bukan untuk terlihat baik di hadapanmu. Tapi karena aku yakin, dengan doa aku dapat memelukmu. Aku mulai teratur pulang ke rumah selepas jam kerja. Aku mulai berhenti menghabiskan sebagian penghasilan untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tak terlalu penting bagiku. Aku mulai menjalani hidup yang teratur, mengkonsumsi makanan yang sehat, dan rajin berolahraga. Aku benar-benar sudah mulai berubah.

Walaupun kamu sendiri memang tak pernah memintaku berubah, tapi saat bersamamu aku selalu ingin jadi lebih baik dari sebelumnya. Kedekatan kita mulai membuatku punya semangat lebih dalam melangkah. Di kencan pertama kita, kamu menyanyikan bagiku sebuah lagu yang kurang begitu akrab di telingaku. Tapi entah kenapa aku merasa telah menemukan lagu kesukaanku. Lagu terbaik yang pernah kudengar adalah lagu yang terlantun dari mulutmu.

Lalu kita semakin dekat. Kamu mulai jadi bagian yang luar biasa penting dalam hidupku dan selalu ingin kuperjuangkan. Aku menikmati saat-saat di mana kamu membagi banyak hal dalam hidupmu. Andai kamu tahu, aku begitu gemas dan ingin memeluk ketika melihat tingkah manjamu saat aku marah atas kebiasaan burukmu. Seperti tidur larut malam, terlambat makan, merokok berlebihan, dan bangun sangat kesiangan.

Sejujurnya aku sama sekali tak merasa bermasalah dengan itu semua. Karena aku mencintaimu sepaket dengan tingkah lakumu. Tapi mencintaimu apa adanya bukan berarti aku tak ingin kamu menjadi lebih baik setiap harinya.

Puluhan kencan telah kita lewati. Entah di bioskop, restoran, dan tempat liburan mana saja kamu telah mengajakku untuk menghabiskan hari-harimu. Mungkin kamu sendiri tak menghitung. Tapi aku mengingat semuanya. Tepat di malam minggu kita yang ke-31, kamu memintaku untuk mendampingi dalam susah dan bahagiamu. Menjadi ibu dari anak-anak kita.

Aku merasa sempurna. Sungguh! Tidak ada permintaanmu yang lebih sempurna dari ini selama kita bersama. Bagaimana aku bisa menolak sedangkan itulah doaku setiap malam, setelah di sapaanmu yang pertama. Kumohon padamu. Sekalipun nantinya kamu dan aku akan menghadapi pertengkaran hebat, tetaplah bertahan. Seperti aku yang selalu bertahan dalam setiap kesulitanmu.

Aku yang tak pernah sedetik pun menyesal telah mempercayakan hatiku padamu. Dan kini aku tahu bahwa jatuh cinta padamu ternyata adalah keajaiban luar biasa yang selalu membuatku berterimakasih pada Yang Esa. Kamulah harapan yang selalu aku semogakan. Kamu hadir dan membuat segala sesuatunya berubah jadi lebih indah dan berwarna.

Terimakasih kuucapkan padamu, pria terhebat kedua setelah ayahku. Terimakasih karena telah memilihku. Terimakasih karena telah menyempurnakanku. Dari aku yang selalu ingin membahagiakanmu.