Mereka menggangap malam itu indah, bagiku? Mengerikan. Seketika nafasku serasa normal tatkala hidungku mencium harum tanah yang dijatuhi embun, serta semuah indra pendengaranku mendengar suara unggas bersautan. Ya, itu berarti menandakan pagi sudah siap menyapa.

Ada jeda panjang antara waktu temaramnya malam hingga sang surya perlahan nampak.

Bagiku ada jeda panjang merayap pelan antara waktu temaramnya malam hingga sang surya perlahan nampak. Jeda itu terasa melelahkan, menguras apapun yang dinamakan emosi, bahkan aku sampai berniat mengucapkan menyerah. 

Bagi sebagian orang malam itu begitu indah, tapi aku mendeskripsikan malam itu sangat mengerikan!

Sebagian orang beranggapan malam itu begitu indah karena malam adalah tempat kita menata mimpi untuk hari esok. Tapi deskripsiku berbeda, malam itu sama sekali tidak indah bahkan bagiku malam itu sangat amat mengerikan. Terlebih jeda waktu antara malam meranyap subuh bisa dikatakan sepertiga malam.

Advertisement

Aku melihat sosok hitam pekat menyerupai banyangan, ia menangis sejadi-jadinya, merintih seperti menahan sakit seperti mendapat hujaman seribu tombak.

Di sepertiga malam saat kepala sedang nyaman diletakan di atas bandal, saat itu lah aku mendengar bisikan, tangisan bahkan rintihan. Mataku semakin terbelangak melihat suara itu bersumber dari satu sosok hitam pekat yang menyerupai banyangan, dia tepat tak jauh dari tempat aku merebahkan badan di kasur lantai.

Siapakah dirimu? Mengapa engkau berbisik, merintih, dan bahkan menangis?

Siapakah dirimu? Mengapa engkau berbisik, merintih, dan bahkan menangis? Berulang kali ku hujamkan pertayaan itu padanya, berulang kali pula iya mematung tak menjawab. Setiap malam kejadian itu selalu berulang, menguras tenanga, pikiran bahkan batin. Hanya dengan datangnya pagi diriku bisa bernafas lega. Waktu terus memainkan peranya, ia sema sekali memberi ampun atas diriku.

Hinga akhirnya diriku sampai pada titik di mana dikatakan mati rasa karena terbiasa.

Tanpa disadari diriku jatuh kedalam titik di mana semuah terasa mati rasa karena terbiasa. Diriku jadi terbiasa akan hadirnya sosok itu. Karena terbiasa itulah aku sedikit demi sedikit memahaminya. Dan bahkan parahnya diriku menjadikan ia sebagai teman sekaligus sahabat sepertiga malam saat insomia akut menyerangku.

Sosok hitam pekat yang menyerupai bayangan itu bukan lain adalah rasa penyesalanku.

Pada akhirnya diriku mengenali siapakah sosok hitam pekat menyerupai bayangn itu, ia bukan lain adalah rasa penyesalanku yang tumbuh subur menggrogoti setiap sendi jiwaku. Rasa sesal, rasa ketidakmampuan, serta under pressure bertubi-tubi menyerang dari segala arah. Membuat jiwaku lumpuh hingga terciptalah sosok hitam pekat menyerupai bayangan yang sekarang menjadi teman karibku.

Tak ada pengorbanan terberat selain merelakan dan memberi jalan bagi orang yang mampu membahagiakanmu.

Jika itu pilihan terbaik, maka lakukan! Aku memilih mundur setapak demi setapak dari rel hubungan yang bertahun-tahun kita bentuk. Agar apa? Agar kau bisa menyalahkanku dan memiliki alasan untuk mengantikan posisiku dengan orang yang mampu membuatmu bahagia.

Orang yang lebih mampu membayar uang kuliah bulananmu bukan dengan kata sabar. Orang yang lebih mampu mengisi full tank kendaraanmu bukan dengan kata sabar. Orang yang lebih mampu mengajakmu jalan-jalan setiap akhir pekan bukan dengan kata sabar. Orang yang lebih mampu membelajakan ini itu kebutuhanmu bukan dengan kata sabar. Dan orang yang lebih mampu menyakinkan pandangan keluargamu dengan pekerjaan yang mapan dan sekali lagi tentu bukan dengan kata dasar sabar. Bukan aku tak mampu memperjuangkanmu, juga bukan aku tak mampu memikul semuah bebanmu. Diriku hanya lelah berjuang sendirian. Diriku letih menahan semuah keluh kesahmu.

Ingat 3 tahun silam? Kita berjuang bersama, ku bantu kau dari awal. Jangankan diperhatiakn, diberi kasih sayang, malah kau dianggap tak ada. Tapi sekarang sampai saat ini, detik ini kaulah intan permata di keluarga besarmu. Kau tahu? Diriku adalah orang pertama selain ibumu yang mengucapkan ribuan syukur atas anugrah Tuhan yang di berikan padamu.

Sekarang, kakiku sudah bergetar hingga tak mampu lagi mununtun langkahmu. Pandanganku sudah kabur, hingga tak mampu lagi mununtun arahmu. Bahuku sudah membungkuk, hingga tak mampu lagi menahan bebanmu.

Maafkan diriku yang tak sanggup lagi berjalan beriringan. Maafkan diriku yang tak sanggup lagi berjuang bersama. Dan maafkan diriku yang tak mampu lagi memikul bebanmu. Semoga menjadi keluarga bahagia dengan pilihanmu. Salam rindu ya dariku dan sosok hitam pekat.

Serang, 6 September 2017