Sebuah catatan perjalanan.

Saya rasa sudah banyak sekali yang mengulas bagaimana seharusnya mendaki gunung. Apa yang sebaiknya dipersiapkan, dilakukan, dan dihindari.

Saya ingin melihat pendakian dari sisi yang lain.

Dari sisi yang lebih personal, karena benar seperti banyak yang orang katakan:

mendaki gunung itu adalah perjalanan individual. perjalanan menaklukkan diri sendiri. mengenal diri lebih dalam

Advertisement

Karena hal paling penting dari sebuah pendakian bukan hanya menapaki puncak tertinggi. Melainkan proyeksi diri atas segala kecakapan pribadi.

Untuk dapat mendengar kisah fantastis mereka yang merajai Mahameru saja saya merasa sudah sangat bersyukur. Saya memeluk rekan-rekan pendaki saat akhirnya bertemu kembali dengan mereka pagi hari di Kalimati. Masing-masing menggendol satu bungkus kisah yang tidak akan habis diceritakan sampai sepuluh atau dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Saya bangga dengan mereka. Saya lebih bangga dengan diri saya sendiri.

Dan catatan perjalanan ini tidak akan pernah berakhir.

Sungguh, karena akhir yang paling penting adalah saya tidak peduli seberapa jauh saya melangkah. Namun seberapa dekat saya dengan Tuhan. Entah di atap Pulau Jawa atau dimana pun.

Kawan, entah sudah berapa kali kita sama-sama berpikir, buat apa kita melakukan ini? Buat apa kita menjejaki jalur setapak yang basah, dingin, lembab, jauh, dan gelap?

Tetapi sungguh, pertanyaan itu tidak akan pernah saya dapatkan jawabnya. Karena bukan jawaban yang diperlukan dari pertanyaan semacam itu. Hanya perjalanan dan perjuangan yang bisa melengkapi pertanyaan-pertanyaan itu.

Kawan, ingatkan saat kita semua berkali-kali bertemu muka. Berbincang tentang hal-ihwal sebelum akhirnya kita mendaki bersama.

Semua persiapan yang sama-sama kita lakukan. Saling mengingatkan dan memberi bantuan bahkan sebelum pendakian dimulai. Kawan, sadarkah kalian? Hal remeh-temeh seperti itu adalah bukti petemanan sejati.

Walau baru dua gunung yang sama-sama kita tapaki. Rasanya seperti kita sudah menyanggupi jalur apapun yang ditawarkan. Karena jika bersama kalian, betapapun terjal dan berlikunya jalur yang dihadapi. Akan selalu ada tawa yang kita bagi.

Jujur, saya pun akan selalu menanyakan apa yang bisa saya dapat dari sebuah pendakian? Rasa lelah? Kaki pegal dan lecet? Badan lengket dan kotor? Kulit hitam dan kering? Badan yang mendadak kurus? Iya, saya mendapatkan itu semua.

Bahkan saya mendapatkan lebih dari itu. Hal yang saya rasa tidak ada apa-apanya dengan penderitaan fisik yang kita semua rasakan.

Demi Tuhan! Ada kebahagiaan batin yang menggelanyar hangat setiap saya kembali membuka album foto kita. Melihat metapa kumal dan lusuhnya kita semua. Dengan keril di punggung dan berlapis-lapis jaket. Kemudian kembali merasai betapa indah dan menenangkannya pemandangan yang ditawarkan alam setiap jengkal langkah yang kita daki.

Dan saya menutupnya dengan senyum bangga ditemani memori betapa lepas dan jujurnya tawa kita saat berada ribuan meter di atas permukaan laut.

Kawan, ingatkah kalian ada berapa juta bintang yang menaungi kita saat itu? Saat malam semakin genap dengan dingin yang kian merengkuh, kita mengabaikannya demi pemandangan luar biasa itu. Taburan galaksi dan bintang yang berkejaran itu tidak akan pernah sama saat kita pandangi dari tengah kota.

Saat pagi memotong hari, langit pegunungan pun membiru. Bersih. Benar-benar tanpa cela dan membuat kita semua ternganga. Seperti sedang dikerubungi selimut lembut berwarna biru yang begitu biru. Aroma masakan seadanya menguar di udara. Menggelayut di sela-sela udara paling bersih yang pernah kita sesapi.

Apa yang kita pikirkan saat itu? Tidak ada.

Kita hanya menikmati berlalunya waktu di tengah rimba.

Jauh dari kenyamanan kota dan hangatnya keluarga. Yang kita tahu, saat kita bersama di punggung gununug-gunung itu, kalian lah keluarga. Kalian lah yang dengan rela berbagi beban dan tanggungjawab. Lebih dari sekadar berbagi ruang kecil di tenda yang bocor.

Kawan, pada akhirnya saya sadar. Bahwa menapaki puncak tertinggi bukan menjadi sebuah kebanggaan buat saya. Bukan lagi menjadi tujuan utama.

Karena setiap pendakian yang pernah dan akan kita sama-sama perawani lagi. Menundukkan kepala lebih rendah di hadapan ciptaan-Nya dan menautkan tali silaturrahim lebih semat adalah inti dari setiap pohon yang kita lewati.

Setiap ilalang yang rela rebah untuk kita, setiap kicauan burung yang menamani, setiap api yang kita jentik, setiap air yang kita tuang, setiap titik bintang yang kita tatap, setiap gram logistik yang kita pikul, dan setiap kata serta perasaan yang kita bagi.

Semuanya akan selamanya.