Kita tentunya sering mendengar dialog seperti ini, “menurut agama saya seperti ini dan tidak seperti itu”. Atau barangkali kita pernah menyimak ini, “jadi sebenarnya kalau agamaku itu mengajarkan seperti ini, jadi itu tidak salah sama sekali”. Dialog seperti ini  kerap kita jumpai pada diskusi berbagai elemen masyarakat, atau mungkin kita sendiri pun pernah melakoninya.

Belum lama ini, negara kita bagaikan bahtera yang mengarungi arus deras. Arus deras yang menyeret negara pada keadaan masyarakat yang krisis toleransi beragama. Bukannya memihak pada salah satu kandidat kalah akibat ulahnya yang fenomenal memicu tekanan politik massa di D.K.I., namun pada kenyataannya kita sedang krisis.

Garis utama “krisis” bukan terletak pada aksi demo ataupun gelimang simpati untuk kandidat itu. Letak “krisis” yang sesungguhnya berada pada domain di luar dari itu. Saat ini, sangat mudah menjumpai tulisan saling hujat-hujatan antar agama lain di kanal media sosial seperti Youtube, Facebook, dan sebagainya.

Yang paling mengerikan, penghujat yang mengaku pemeluk agama tersebut, berusaha sedapatnya meyakinkan bahwa ajaran (paham) yang dipeluk agama lain itu salah, kemudian meluruskannya sesuai versi agamanya. Sangat disayangkan penghujat yang bermodel seperti ini, mereka tidak pernah berefleksi untuk menyadari bahwa pemeluk agama lain berproses amat panjang untuk membangun keyakinannya seperti sekarang ini.

Taukah kita, pemeluk agama lain juga sama-sama belajar agama? Atau mengertikah kita bahwa pemeluk agama lain juga memiliki pengalaman spesial dengan Tuhan yang ia yakini di dalam agamanya? Dan, mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa beberapa orang di luar sana mengalami penolakan dan melewati jalur konflik untuk tetap teguh pada keyakinannya.

Jika urusan internal memeluk agama masing-masing saja sudah sulit, mengapa kita justru menambah tekanan di lingkungan eksternal pemeluk agama lainnya? Tidak masalah, jika aktivitas menghujat hanya berimbas pada si penghujat saja. Namun sayangnya, aktivitas menghujat juga memberikan output yang tidak baik bagi pemeluk agama lain.

Menurut Hipolitus Kristoforus Kewuel, bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia adalah sebuah proses membangun peradaban (Hipolitus K. Kewuel, 2016). Semua dari kita menganggap bahwa “peradaban” itu bagaikan emas. Artinya, jika hari-hari ini publik beramai-ramai menyelenggarakan aktivitas penghujatan antar sesama pemeluk agama, maka tidak usah heran jika produk selanjutnya, adalah generasi yang rusak moral, tidak tahu bertoleransi.

Maka agaknya peradaban “emas”, di masa mendatang, dengan generasi berintegritas pada nilai-nilai yang seimbang, akan sulit untuk dicapai atau bisa saja hilang. Ayolah teman, kita semua tahu kalau semua agama itu mengajarkan yang baik. Ingat, yang mampu mengukur kebaikan umat hanya Tuhan. Jadi jangan menghujat, karena belum tentu engkau yang paling benar.

Bangsa kita telah meletakkan falsafahnya pada pancasila. Rajutan yang dimulai oleh sejumlah founding fathers cendikia itu, telah menciptakan generasi Indonesia yang cakap dalam pembangunan, berprestasi di tingkat internasional, serta berbagai torehan lainnya. Dan yang paling penting, dengan adanya Pancasila dapat membuahkan semangat luhur untuk menghargai perbedaan umat beragama antara satu dengan yang lain, dan bekerja sama membangun negeri.

Lantas, mengapa generasi saat ini malah menanam benih-benih penghujatan? Bukankah sebaiknya kita menghadiahkan nilai-nilai yang baik kepada generasi selanjutnya, dan menjadikan mereka generasi unggul di masa depan? Bukannya malah menghadiahi mereka dengan sentimen kepada sesama manusia, sehingga mereka enggan untuk maju bersama.

Sebenarnya, kita tidak perlu berbicara toleransi beragama terlalu bijak, dan memasangkannya dengan berbagai teori sosial mumpuni untuk menerapkannya. Penulis juga menyarankan, kita tidak butuh toleransi beragama, jika dalam dialog sehari-hari kita masih mengusung “agama” sebagai hal yang patut dipaksakan kepada orang lain, dan diuji kebenarannya. Kita tidak perlu menguji agama, karena agama tidak dapat diuji dengan hasil santifik. Agama hanya berladasan pijak pada kuasa ilahi.

Jadi kita hanya butuh sebuah kemasan baru dalam toleransi, yaitu dengan meluangkan sedikit waktu untuk berpikir dan menyadari, kerukunan antar umat beragama adalah sebuah perjalanan yang panjang untuk berkomitmen bahwa kita ini berbeda (Hipolitus Kewuel, 2012). Dalam kemasan baru “bertoleransi” inilah, kita perlu memahami betul bahwa beragamnya agama yang dipeluk tiap-tiap orang di ruang publik, adalah karena pada dasarnya setiap orang berbeda.

Apabila kita sudah menyadari hal tersebut, maka selanjutnya kita perlu berkomitmen pada diri sendiri. Komitmen akan membantu kita untuk memegang teguh pandangan kita tersebut, yaitu pandangan bahwa setiap orang itu berbeda. Tentang komitmen dan konsistensi dalam menyadari perbedaan, adalah hal yang dapat berdayaguna.

Jika seseorang sudah berkomitmen kuat dalam dirinya sendiri, maka hal itu yang akan mendorongnya memegang teguh hal yang diyakininya. Ketika komitmen dikawinkan dengan konsistensi, pandangan yang telah teguh tersebut pun dapat dipertahankan secara konsisten.