Sedari pagi, hingga pukul 22.30 tadi, saya baru bisa berdiam diri. Hari ini memang sesuatu sekali. Ditambah besok pagi-pagi sekali harus sudah siap berangkat lagi. Hmm… Tapi bukan itu yang ingin saya utarakan. Sebenarnya saya cuma mau bilang, “Saya rindu seseorang.” Ya, saya mendadak rindu padanya. Ia yang saya rindukan, adalah seorang lelaki yang tak bisa saya sentuh dengan jemari saya sendiri. Ia sosok berharga yang pernah saya miliki. Saya pernah berjanji untuk selalu membuatnya bahagia. Ia pun sama. Tapi bedanya, saya baru bisa membahagiakannya lewat lisan saja, sedangkan dia selalu membuktikannya dengan tindakan. Ia memang begitu istimewa. Dan sekarang saya merindukannya. Satu hal yang membuat saya rindu adalah ketika kita bisa ngobrol, berbincang-bincang membahas segala hal yang ada di sekitar kita, sambil makan singkong goreng bikinannya, berdua saja. Biasanya kita membahas berita-berita yang sedang hangat-hangatnya. Kadang kita berdiskusi, kadang pula saya cuma manggut-manggut dan banyak tanya karena nggak terlalu aware dengan beritanya. Tak jarang pula dia cerita tentang masa depan. “Setelah ini mau lanjut kemana? Mau jadi apa?” begitu tanyanya. Lalu saya jawab begini, “Aku mau jadi dosen ajalah. Tapi nanti bikin2 buku jugaa.” “Oh, sudah nggak mau jadi kayak mbak Najwa Shihab lagi?” tanyanya lagi. “Jurnalis ya.. Aduh jadi bingung mau milih yang mana.. Kalo jadi dosen, nulis, sama jurnalis gitu jadi satu bisa nggak?” kata saya dengan muka polos. Ia pun tertawa sambil menepuk2 pundak saya. Itu perbincangan saya beberapa tahun silam. Sudah lumayan lama. Paling-paling 10 tahunan yang lalu. Dan anehnya masih saya rindukan hingga sekarang. Padahal kita sudah berpisah lama. Kira-kira 2 tahunan yang lalu, saat dia memutuskan untuk pergi. Well.. dia ini lelaki paling berharga di hidup saya. Dia mengajari saya banyak sekali pelajaran hidup. Salah satu pelajaran berharga yang selalu saya ingat hingga sekarang yaitu, pelajaran tentang cara kita memanusiakan manusia. Ia banyak mengajari saya tentang itu. Lewat perilakunya sehari-hari, juga nasihat-nasihatnya. Ia memang bukan orang yang ‘alim' atau yang punya pengetahuan agama setinggi ustadz. Ia bukan pula sosok yang rajin sholat berjamaah ke masjid. Tapi bagi saya, ia begitu istimewa. Caranya memanusiakan manusialah yang membuat saya jatuh cinta. Manusia-manusia di sekelilingnya pun banyak yang jatuh hati padanya. Ia memang pandai sekali mencuri hati setiap insan di bumi Tuhan. Ia bahkan sering sekali membuat saya cemburu lantaran selalu menomorsatukan manusia-manusia di sekitarnya. Pernah suatu hari, saya baru pulang dari rantauan. Saat itu saya sangat rindu menghabiskan waktu dengannya. Saya pun mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Kami menghabiskan perjalanan itu dengan begitu bahagia. Saat saya sedang asik bercerita, tiba-tiba ia memutar setir, menepikan mobil, lalu berhenti. Saya kaget. “Loh, kenapa berhenti? Ada yang mau dibeli?” Lalu dia bilang, “Ayo turun! Kita makan di sini!” Saya pun turun dan manggut-manggut saja. Tapi belum sempat melangkahkan kaki, saya terkejut lagi. Ternyata ia membawa pasukan. “Kenapa mereka di sini juga?” tanya saya kesal. “Iya dek, kami mau ngomongin pekerjaan. nggak apa-apa kan?” “Lah, kenapa di tempat makan? Kan bisa nanti di rumah,” protes saya kesal. Omongan saya pun tak dihiraukan. Mereka jadi keasikan ngobrolin dunianya, sedangkan saya cuma diam, serasa makan sendirian. Ia memang sering begitu. Selalu ada waktu untuk berkumpul dan membahagiakan orang-orang kepercayaannya. Sedangkan saya, selalu ia nomor duakan. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya cemburu. Menurut saya, ia terlalu sibuk membahagiakan orang lain, dari pada keluarganya sendiri. Tapi itu dulu. Sebelum saya tahu makna yang tersirat di dalamnya. Kau tahu, apa yang berhasil ia dapatkan dari tindakannya itu? Sudah 2 tahun lalu ia pergi, meninggalkan dunia. Dan sampai sekarang, orang-orang kepercayaannya tetap setia mendampingi keluarga yang ditinggalkannya. Ya, mereka yang dulu sempat saya cemburui, kini menjadi orang-orang yang sangat peduli pada keluarga saya. Mereka adalah orang pertama yang selalu ada, selalu hadir tanpa diminta. Selalu meluangkan waktu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang keluarga saya tidak mampu untuk melakukannya. Ia selalu ada. Untuk saya dan keluarga. Sudah 2 tahun lamanya sosok lelaki pencuri hati itu pergi. Tapi tangan kanan – tangan kanannya masih sangat setia mengorbankan peluhnya untuk keluarga saya. Pagi hingga petang, petang hingga malam, tak kenal lelah mereka bekerja. Untuk keluarganya, juga untuk keluarga saya. Ya, mereka menjadi sebab kebaikan bagi keluarga saya. Dan kini saya menyesal, mengapa dulu saya sempat cemburu. Mengapa dulu saya tidak melihat makna positif dari apa yang diperlihatkan lelaki yang kerap saya panggil ayah itu. Dulu saya terlalu cemburu karena saya merasa di nomor duakan. Saya merasa cemburu lantaran setiap kali saya pulang dari ma'had, saya hanya bisa memandangi rutinitas ayah yang terlalu sibuk dengan mereka yang kini sangat saya damba. Ya, saya sangat menyesal, pernah menjadi se-childish itu. Tapi kini, saya sangat memahami makna dibalik sikap ayah. Ternyata ia ingin mendidik saya. Dan sekarang ia berhasil. Ia berhasil mengajari saya tentang bermacam-macam pelajaran hidup. Bukan hanya tentang cara memanusiakan manusia, tapi lebih dari itu. Banyak sekali. Banyak sekali. Dan kini saya sangat merindukannya. Rindu menggebu, yang entah dengan cara apa bisa terluapkan. Mungkin akan abadi, hingga kelak, bila waktunya kami dipertemukan. Seandainya, malam ini saya dipertemukan dalam mimpi, saya cuma mau bilang satu hal. Satu hal saja. Saya cuma mau bilang, “Ayah, terimakasih!” Sudah, itu saja. Sepertinya sudah kepanjangan. Terimakasih sudah mendengarkan. Selamat malam. 🙂