Coba lihat kakakmu sama temanmu. Pintar, menang lomba, dan dipuji guru. Masak kamu gak bisa kayak dia.

Kalimat semacam itu sering terdengar bila orang tua mulai jengkel dengan kemampuan anaknya. Namun, tahukah kamu, perbandingan yang keliru bisa berakibat buruk?

Punya anak yang berprestasi unggul, cerdas, dan berkarakter baik adalah harapan setiap orang tua. Tentu, ada kebanggaan jika si buah hati mampu menjadi sosok yang "sempurna" di mata orang tua. Demi tercapainya harapan tersebut, orang tua melakukan berbagai hal agar si anak memiliki semangat untuk berprestasi. Salah satu caranya adalah membandingkan anak dengan sosok yang dianggap "ideal".

Membandingkan seseorang dengan yang lain, rupanya, sudah menjadi budaya di masyarakat. Prestasi, kekayaan, penampilan fisik, serta kepandaian merupakan hal-hal yang menjadi akar segala kompetisi, termasuk bagi anak-anak. Ketika melihat anak lain punya sesuatu yang dapat dibanggakan, orang tua merasa perlu membuat anaknya menjadi sosok yang juga bisa dibanggakan.

Perbandingan memang mampu memicu anak untuk lebih bersemangat mengejar prestasi. Dengan melihat kesuksesan orang lain, anak akan termotivasi untuk dapat menyamai kondisi orang tersebut. Hasilnya, anak bakal memiliki motivasi dan daya juang yang tinggi. Namun, bila perbandingan dilakukan secara keliru, anak akan merasa tidak dihargai. Itu tentu merupakan bullying karena anak merasa tidak nyaman dengan diri sendiri.

Advertisement

Kepercayaan diri anak bisa tergerus bila dalam perbandingan orang tua hanya melihat kekurangan dari diri anak. Misalnya, ada seorang anak yang mempunyai kemampuan akademis yang tidak maksimal. Orang tua tidak semestinya mengecap anak tersebut tidak mampu dan membandingkannya dengan orang lain yang lebih pandai.

Label "tidak mampu" yang diberikan dari perbandingan akan membikin anak merasa di nomor duakan dan minder.

Setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Kita tidak bisa melihat hanya dari hasil akhirnya, yakni nilai atau prestasi di sekolah.

Selain kepercayaan diri berkurang, anak cenderung tidak menikmati proses dalam meraih prestasi. Dalam proses mencapai targetnya, dia bakal dibayang-bayangi ketakutan kalau tidak bisa seperti orang lain. Akibatnya, anak menjadi tertekan dalam proses apa pun, termasuk belajar. Jika gagal, anak akan stres lantaran merasa tidak mampu memenuhi harapan orang tua.

Padahal kegagalan adalah proses dari belajar, tetapi orang tua jarang sekali yang memahami akan arti dari kegagalan.

Perbandingan juga bisa berdampak pada konsep diri anak. Konsep diri itu terbentuk dari gabungan dua hal, yaitu self image (gambaran diri) dan ideal image (gambaran ideal yang diharapkan lingkungan atau budaya). Biasanya yang menjadi pembanding adalah sosok yang memiliki ideal image.

Makin sering anak dibandingkan dengan sosok ideal image, self image-nya akan makin rendah. Anak bakal merasa dirinya inferior alias tidak memiliki kebanggaan karena tidak dapat menjadi sosok ideal.