Ketika memasuki usia awal dua puluhan, sebagian besar dari kita cenderung bingung mendefinisikan apa yang ingin kita lakukan dalam hidup. Terlebih ketika mendengar pertanyaan, setelah lulus, mau ngapain dan jadi apa ? Mungkin kamu akan mulai mempertanyakan jawabannya. Di saat yang sama, bukan tidak mungkin kamu pun menyadari bahwa terkadang apa yang ingin kamu lakukan tidak sesuai dengan harapan orang-orang di sekitarmu.

Apa yang kita sebut sebagai mimpi, bisa saja menjadi sebuah hal yang klise, dimana kita merasa seolah tidak semua apa yang kita impikan bisa menjadi kenyataan. Terlebih menyangkut tema yang lebih dalam tentang tujuan hidup. Tidak semua orang ingin memikirkannya. Tetapi kalau tidak memikirkannya, kita juga seolah terombang-ambing di tengah arus yang ada.

Saya juga mengalami hal yang sama. Pada permulaan usia 20, saya tiba di fase tersebut. Saya bingung, apa yang akan saya lakukan setelah saya lulus nanti, akankah pekerjaan yang saya dapatkan sesuai dengan hasrat terdalam diri saya? Kehidupan seperti apa yang akan saya lalui nantinya? Apakah saya kan menemukan kebahagiaan?

Oke, pertanyaan mungkin terdengar berat, tetapi saya percaya bahwa banyak dari kita mempertanyakan hal yang serupa.

Satu hal yang saya ketahui ketika itu adalah saya ingin melakukan hal yang saya sukai dan bermakna dalam hidup saya; sesuatu yang membuat hati saya meluap dan bernyanyi ketika melakukannya.

Advertisement

Sayangnya apa yang saya bayangkan tidaklah seperti apa yang orangtua atau orang lain harapkan atas diri saya. Pertanyaan tersebut akhirnya hanya menguap begitu saja. Saya lulus SMA dan kuliah di bidang yang mungkin cocok dengan otak saya, tetapi tidak dengan hati saya. Saya juga tidak ingat alasan kenapa memilihnya. Mungkin karena saya pikir hal itu akan membuat mereka bangga.

Baru saat ini saya menyadari bahwa hal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah pencarian approval dari orang lain di sekitar saya. Akan apa? Akan penyangkalan terhadap luka diri saya sendiri yang tidak pernah merasa berharga atau cukup baik. Saya pikir, ketika saya berhasil mendapatkan approval tersebut, maka luka tersebut akan sembuh atau hilang dengan sendirinya. Sayangnya tidak begitu adanya. Takdirkah? Entahlah. Lalu apakah saya menyesal? Tidak sama sekali. Saya tidak pernah menyesalinya. Di situlah saya mendapat kesempatan yang berharga, juga bertemu dengan teman dan orang luar biasa yang turut membentuk diri saya di saat ini.

Tanpa melalui pilihan tersebut, saya tidak tahu seperti apa jadinya saya sekarang.

Setelah lulus, kegundahan yang sama kemudian menghampiri lagi. Saya tidak tahu apakah saya yang aneh atau sebenarnya orang lain juga mengalaminya. Dalam pikiran naif saya, hidup mungkin tidak hanya sekedar mencari uang, pasangan atau jabatan semata. Tetapi kalau tidak ikut seperti apa yang orang lain lakukan, bagaimana saya bisa hidup?

Saya mencoba bekerja, hanya untuk memastikan bahwa ketertarikan saya tetaplah sama. Hati saya masih mengatakan hal yang sama.

Saya tidak bisa benar-benar merasa hidup hanya di penghujung minggu seumur hidup saya.

Terkadang mendengarkan kebenarannya terasa menakutkan karena apa yang dikatakannya seringkali tidak sejalan dengan apa yang sebagian orang pikir perlu mereka dapatkan atau lakukan dalam hidupnya. Maka seringkali kita menghindar dari suara tersebut. Termasuk juga saya. And life is more than just a survival mode. Saya hanya berpikir, kalau saya mati, mungkin saya akan menyesali kenapa saya tidak berani mendengarkan dan mempercayainya, meskipun semuanya nampak menakutkan. Lari darinya, tidak akan memberikan manfaat apapun. Seperti ketakutan, ia akan terus menghampiri sampai kita menyadari kenapa ia hadir dalam kesadaran kita.

Saya telah mencampur-adukan antara life purpose dengan hanya sebatas pilihan profesi semata. Namun life purpose jauh lebih dalam dari sekedar karir, profesi, atau pekerjaan.

Life purpose adalah tentang bagaimana kamu menjalani kehidupan berhargamu dengan sepenuh-penuhnya, dengan tujuan unik yang hanya bisa dipenuhi oleh dirimu ataupun jika yang kamu inginkan sesederhana menjadi bahagia.

Kamu bisa saja memenuhinya melalui profesi tertentu namun kamu juga bisa memenuhinya tanpa berlindung dalam sebuah profesi.

Life purpose bukan tentang sekedar menjadi a, b, c dan d seperti yang sering kita dengar dalam lagu boneka Susan di masa kecil, yang bertanya, Susan, Susan, udah gede mau jadi apa? Kita bisa saja mengikuti apa yang Susan bilang pada kita, tetapi ingatlah bahwa apa yang mungkin tidak sebatas itu saja.

Kamu tidak bisa mencarinya di luar sana, pada apa yang dikatakan orang lain tentang dirimu atau apa yang seharusnya kamu lakukan menurut mereka. Kamu hanya bisa menemukannya dalam dirimu sendiri. Karena sama seperti kebahagiaan, life purpose selalu disadari dari dalam.

Kamu mengetahuinya. Hatimu selalu tahu. Jika tidak percaya, maka coba lihatlah betapa mudahnya kamu mengatakan bahwa kamu tidak menyukai apa yang kamu lakukan ataupun merasa kosong ketika melakukannya. Kamu tahu, hanya saja kamu ingin menyangkal bahwa kamu tahu atau mungkin, kamu belum menyadari apa tepatnya hal tersebut. Tidak masalah. Jangan menekan dirimu sendiri. Perjalanan kamu masih panjang. Manusia selalu bertumbuh, demikian pula halnya dengan dirimu. Ketika kamu bertanya, percayalah bahwa pertanyaan tersebut akan terjawab. Kapan atau bagaimana, bukanlah menjadi masalah yang perlu dipikirkan.

Di momen saat kamu telah siap untuk memenuhi tujuan unikmu, Semesta akan membawamu menyadarinya.

Entah melalui suatu peristiwa tertentu, sebuah bacaan sederhana, ataupun hal lainnya yang mungkin saja tidak kamu duga.

Setiap orang hadir ke dunia dengan tujuan yang unik, bahkan meskipun kita belum menyadarinya. Tujuan unik ini tidak selalu terbungkus dalam tujuan luhur luar biasa, ia juga bisa hadir dalam hal sederhana dalam hidup kita; misalnya menjadi bahagia atau menjadi berkat bagi sesama sekalipun melalui hal-hal sepele yang seringkali diremehkan.

Tidak semua orang hadir untuk menjadi pemimpin, tidak semua orang hadir untuk jadi penggerak, tidak semua hadir untuk menjadi seorang pengajar. Apapun itu, semuanya baik adanya. Tidak ada yang lebih baik ataupun lebih buruk. Bahkan jika saat ini kamu belum menyadari apa yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu. Jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu akan menyadarinya sendiri, di waktu ketika kamu siap untuk itu.

Juga untuk kamu yang merasa sudah terlanjur basah atau kepalang menjalani sesuatu yang sebenarnya bukan pilihan hatimu, Hi Darling, janganlah berkecil hati. Ingatlah bahwa tidak pernah ada sesuatu yang terjadi kebetulan. Jika ternyata aliran Semesta membawamu pada jalur yang tidak kamu pahami atau inginkan, maka ada alasan tersendiri mengapa itulah hal yang kamu alami. Mungkin tanpa menjalaninya terlebih dulu, kamu tidak akan pernah tahu bahwa hal tersebut bukanlah untuk dirimu, atau kamu akan memahami sesuatu yang lain tentang dirimu sendiri dengan mengalaminya, atau bukan tidak mungkin, melalui hal itulah you serve your unique purpose.

Kamu selalu memiliki pilihan di SAAT INI. Ya, di saat ini, bukan di masa lalu atau di masa depan.

Tidak ada gunanya menyesali atau meratapi apa yang telah terjadi, tidak ada gunanya juga mengkhawatirkan masa depan yang bahkan belum terjadi. Hanya saat ini saja yang penting. Di saat ini, kamu bisa menentukan masa lalu dan masa depanmu. Anggaplah masa lalu adalah persepsi dan masa depan adalah probabilitas, maka langkahmu dan sikapmu ini SAAT INI lah yang menentukan segalanya. Jika ada sesuatu yang memang tidak sesuai lagi dengan dirimu, maka kamu bisa mengubahnya di SAAT INI.

Lalu apakah segalanya akan menjadi mudah? Hm, rasanya hidup tidak seperti membalikan telapak tangan. Kamu tidak bisa lari dari ketakutan atau keraguan. Karena menjadi manusia memang begitu adanya. Untuk segala pilihan yang kamu pilih, selalu ada risiko yang menyertai. Jalan yang kita lalui akan bervariasi dari lurus, berliku, berbatu, penuh lubang atau gelap adanya. Pertanyaannya mungkin bukan seperti apa jalannya atau seberapa sulit dan panjang jalannya, tetapi bagaimana kita memilih untuk berjalan di atasnya. Apakah kita mau terus berjalan sejauh pandangan dan langkah yang bisa kita ambil?

Tidak masalah jika jalan itu gelap dan malam terasa begitu dingin sehingga kamu hanya bisa melangkah sedikit demi sedikit sejauh cahaya senter yang kamu miliki, tetapi asalkan kamu mengikuti petunjuk yang ada, yakinlah bahwa kamu akan tiba dengan selamat di tujuanmu. Sama seperti malam paling dingin adalah tepat sebelum fajar atau saat paling lelah mendaki adalah tepat sebelum puncak, ketika kamu terus melangkah, kamu akan melihat indahnya fajar atau cantiknya puncak gunung tersebut.

Apapun realitamu saat ini dan bagaimanapun pikiran kamu mencapnya di saat ini, semuanya sempurna adanya. Berdamailah dengan dirimu sendiri terhadap ego, ketakutan ataupun penyesalan yang kamu miliki. Kamu hanya hidup untuk SAAT INI, bukan kemarin ataupun besok. Jalani apa yang terbaik yang kamu bisa di saat ini, dengan sebaik-baiknya yang bisa kamu lakukan, hingga kamu tidak akan menyesalinya. Bukankah itupun sudah lebih dari cukup untuk menjadi sebuah tujuan hidup? Hiduplah dan berbahagialah, karena kamu layak untuk itu dan kamu luar biasa adanya. Just be, for the Love and the Light that you are!