Entah dari mana harus kumulai menulis, aku mulai tak mampu mengatur hidupku. Aku mulai lelah dengan keadaanku. Ingin rasanya kukembali menghadap pada sang Ilahi. Setelah kau mulai beranjak pergi. Sebagai seorang pria yang inginkan lebih ke jenjang selanjutnya denganmu, aku masih berusaha memantaskan diriku, entah itu dari segi keimananku, dari segi tanggung jawabku, bahkan dari materiku.

Aku di sini Yang selalu menyayangimu. Mencoba bertahan melawan rasa sakit dari kelakuanmu. Aku ingin marah, ingin menumpahkan rasa kecewaku terhadapmu. Namun semua sia-sia. Tak kan ada gunanya, tak kan mampu merubah keadaan kita. Aku masih bertahan ketika keadaan mulai tak sama. Keadaan yang mulai tak bersahabat. Entah kau sadar atau tidak atas kelakuanmu. Kau mengacuhkanku, seolah ingin melapasku .

Aku masih berdiri di belakangmu, masih mengikuti setiap langkahmu, berharap kau menoleh dan meraih lagi tanganku. Apakah kau telah lupa akan cita-cita kita dulu. Yang inginkan hidup bersama melawati suka duka bersama. Kau kini berubah menjelma menjadi orang yang tak kukenal seperti dulu. Apa kau ingat ketika kita pertama bertemu ketika kita mencoba melewati semua masalah bersama?

Kita merangkai angan bersama, berharap pada tujuan yang sama. Saling melawan kehendak orangtua masing-masing. Dan pada akhirnya mereka merestui kita. Ketika masalah menerpa kita saling menguatkan, kita saling berpegang tangan tuk lewati semua. Apa kau tak ingat ketika kau sakit ketika 10 hari kau lalui di rumah sakit itu, kucoba selalu ada di samping mu. Rela ku membolos berhari-hari demi kamu. Setiap hari menyuapimu, mengantarmu ke toilet sambil memapahmu perlahan sambil ku membawakan infusmu.

Maaf aku tak bermaksud hitung-hitungan dalam hal kebaikan,bukan berarti aku kala itu tak ikhlas, kala itu aku ikhlas bahkan bahagia menjagamu aku merasa berguna untukmu, berharap hal itu akan jadi cerita manis untuk anak-anak kita kelak namun kisah ini mungkin tak kan jadi cerita manis anak-anak kita.

Advertisement

Orangtuamu di saat itu berpasan padaku. Ibumu mempercayaiku menjagamu. Ibumu mengharap banyak padaku. Dan orangtuaku pun sama, mereka kini mulai menerimamu mereka mengingginkanmu. Entah bagaimana akhirnya, aku tak tahu harus berkata apa pada orangtua kita.

Entah sudah berapa kalimat palsuku ucapkan pada ibu dan ayahku. Mereka hanya tahu kita saling mencintai dan saling melengkapi. Mencoba tuk meraih mimpi dalam ikatan suci. Oh Ibu maafkan aku. Keadaan nya tak seperti apa yang ada dalam angan Ibuku. Aku tak mampu mempertahankan wanita yang kau dambakan ibu. Maafkan aku Bu.

Aku mencoba bersabar, mungkin kau akan kembali seperti semula. Tapi pada kenyataannya itu hanya harapan semu semata. Kau kini benar-benar tak sama. Aku mulai kehilanganmu, aku tak tahu bagaimana lagi kulewati hari hari ku tanpamu.

Bertahan hidup tanpa dirimu. Aku tak mampu. Tak sanggup melawati semua ini. Dengan semua harapan mereka di pundakku. Ingin rasanya sandiwara ini kuakhiri. Ingin aku jujur pada orangtua kita,. Namun aku tak mampu, aku tak ingin melihat airmata ibuku menetes. Aku tak sanggup melihat ibu ku menangis. Aku di sini yang masih setia bersandiwara.

Cungkring yang mengharapkan Ndud