Kenapa aku bisa begitu mengasihimu?

Kenapa aku harus memikirkanmu hampir setiap hari?

Tahukah kamu, sedih dan sakitnya hati ini saat mengetahui kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku?

Tahukah kamu, hati ini menangis namun ragaku sekuat tenaga berusaha tersenyum ketika kamu menceritakan dia?

Dapatkah kamu lihat ke dalam mataku, betapa sedihnya ketika aku tahu bahwa hatimu tidak pernah akan menjadi milikku?

Berkali-kali aku mengutuki diriku sendiri yang masih terus mengharapkanmu, masih terus memperhatikanmu, masih terus menyimpan rasa ini, padahal dengan jelas kamu mengatakan kamu tidak ada rasa denganku. Wahai kisah lamaku yang kembali hadir, mengapa kisah baru kita pun akan berakhir seperti kisah lama kita? Untuk apa kamu hadir, jika akhir cerita ini akan sama dengan kisah lama kita? Ah sudahlah, perasaan tidak bisa dipaksa bukan?

Kita bisa memberi tanpa mencintai, tapi kita tidak bisa mencintai tanpa memberi.

Sekitar 763 km jarak terbentang di antara kita, dan aku terbang ke kotamu untuk menemuimu. Kenapa aku melakukan hal gila ini? Aku benar-benar sudah kehilangan akal sehatku! Bukankah kodratku sebagai wanita adalah dicintai dan dijaga? Tapi rasa ini mengalahkan semuanya dan membuatku melupakan kodratku sebagai wanita.

Tahukah kamu, aku sudah berusaha menghindarimu? Malam itu, aku hapus media sosialku yang berhubungan denganmu. Kamu tahu, betapa tersiksanya aku juga untuk tidak bisa menghubungimu? Tersiksanya aku menahan diriku untuk tidak menanyakan kabarmu? Aku sangat tersiksa, tapi apa yang aku dapat? Kamu begitu marah karena tidak bisa menghubungiku. Andai kamu tahu betapa aku menginginkan itu, tapi aku tidak bisa membiarkan benih ini menjadi pohon bahkan berbuah di taman hatiku.

Advertisement

Sampai kapan aku harus terus begini, akupun tidak tahu. Yang bisa aku lakukan hanyalah memanjatkan doa kepada Sang Pencipta untuk membukakan jalan yang terbaik bagi kamu dan bagi aku. Karena sekuat apapun aku berusaha, jika Dia tidak berkenan maka semuanya juga sia-sia.

763 km aku tempuh untuk melihatmu. Andai kamu ada di sampingku, kamu akan mengerti betapa semangat dan excitednya aku menjelang perjumpaan denganmu. Andai kamu tahu bahwa kedatanganku ke kotamu adalah untuk menemuimu, yang kudengar sedang sakit namun aku menutupinya dengan alasan keperluan keluarga. Aku tidak ingin terlihat seperti mengemis, agak menyedihkan bukan?

Andai kamu tahu saat aku mendengar kamu jatuh sakit dan dirawat, betapa panik dan gelisahnya aku di sini, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa karena jarak ini. Tapi kamu tidak akan pernah tahu karena aku tidak pernah mengatakannya kepadamu dan kamu bukan paranormal yang bisa membaca hatiku. Aku tahu, aku tidak bisa dan tidak akan pernah menjadi seperti dia yang selalu kamu ceritakan dan kamu kenang. Dia begitu sempurna, dia sangat baik, sangat sepadan denganmu. Berkali-kali kau bercerita tentangnya, berkali-kali itu pula aku merasa begitu kecil.

Dan jika atas semua perjuangan, usaha, dan doa yang sudah aku lakukan untuk kita, tetap tidak mengubah hatimu… mungkin ini adalah jawaban Sang Pencipta untukku atas doa yang selama ini selalu aku panjatkan.

Kisah baru kita yang kembali berakhir sama seperti kisah lama kita. Aku berterima kasih atas kesempatan yang sudah Tuhan berikan untuk kembali menuliskan kisah kita. Walau akhir kisah ini tidak berbeda, tapi aku sudah bahagia karena aku sudah berusaha.

Lebih baik berusaha dan jatuh daripada seumur hidup dihantui perasaan menerka-nerka.

Yang mengasihimu dari 763 km…