Sudah sekian lama aku hidup, menjalani susah senangnya kehidupan ini. Tidak terasa usiaku semakin lama semakin bertambah, aku sampai lupa karena asik menikmati kehidupan ini dengan “pernak-pernik” perkuliahan dan juga pekerjaan yang saat ini aku geluti.

Tentu selama aku hidup, aku mengenali beberapa orang, dan ada beberapa orang yang ku jadikan tempatku untuk menaruh hatiku, merasakan cinta, ya walaupun bisa dibilang cinta itu adalah cinta-cinta “monyet” yang hanya terkesan bermain-main dan lebih kepada makna “bertualang.”

Mereka semua pernah mengisi hati ini, entah untuk waktu yang singkat atau waktu yang lebih panjang sedikit dari waktu singkat itu. Tapi sampai sekarang aku belum juga menemukan tambatan hatiku yang sebenarnya. Pemikiran tersebut baru-baru ini muncul di kepalaku dengan diikuti pertanyaan seperti:

Siapa yang akan menjadi pelabuhan cintaku yang terakhir? Kapan aku akan menemukannya? Apakah dia sesuai dengan kriteriaku?”

Ya memang aku mempunyai kriteria khusus untuk pelabuhan cintaku yang terakhir, itupun juga dimiliki oleh manusia lain di luar sana.

Advertisement

Melihat satu persatu teman-temanku sudah menemukan tambatan hatinya, aku iri memang terkadang. Kapan aku bisa seperti mereka? Berjalan berdua hanya untuk sekedar mengisi waktu luang, menghilangkan kejenuhan, makan di tempat-tempat sederhana maupun di tempat mewah, merayakan anniversary, berbelanja, atau sekedar duduk di bangku taman kota dan tertawa bahagia. Kapan aku bisa merasakan rasa yang indah seperti itu?

Tetapi keinginan seperti itu sangatlah sering diikuti dengan perasaan dan kata-kata hati yang begitu menggangguku. Hati dan otakku sangat sering berbeda argumen. Otakku berkata

Apakah kamu tidak menginginkan tertawa-tertawa bahagia bersama pasangan yang kau cintai? Aku tahu kau merindukan saat-saat indah bersama orang yang kau sayangi.

Tetapi hatiku berkata “tahanlah sayang, kau lupa bahwa aku sering kau sakiti? Bahkan kau menyakiti dirimu ketika kau merasa bahwa aku sakit. Apa kau mau aku merasakan sakit seperti itu lagi? Apa kau tidak lelah? Apa kau tidak bosan?” mengapa mereka melontarkan kata-kata yang membuat aku berpikir.

Ya, kuakui, aku telah lelah bertualang, mencari-cari dimana pelabuhan terakhirku. Aku telah lelah merasakan jatuh cinta lalu tidak lama kemudian aku harus merasakan sakit yang mendalam. Aku telah lelah menaruh hatiku pada orang yang salah. Aku sudah bosan dengan permainan hati yang aku ciptakan sendiri.

Yang aku inginkan sekarang adalah seseorang yang mau menerimaku apa adanya, mencintaiku dengan tulusnya, bisa menjadi pendampingku yang sangat baik, menciptakan keluarga yang sangat harmonis bersamaku kelak. Entah siapa yang akan aku jadikan pelabuhan terakhirku, tetapi intinya sekarang aku akan menyimpan dan menjaga hatiku baik-baik dan akan kuberikan kepada seseorang yang pantas nantinya, tidak akan kubiarkan hati ini merasakan sakit akibat ulah yang kuperbuat lagi.

Aku yakin dan percaya, Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku di masa depan jika aku sekarang juga memperbaiki diriku.