Mayoritas dari semua lelaki lulusan Sarjana, memutuskan untuk hidup di perantauan. Kebanyakan dari mereka berpikir bahwa tanah lahir tak cukup istimewa untuk mencari nafkah bagi keluarga. Tanah orang lain, bagi mereka adalah tumpukan emas yang perlu diembat sebanyak-banyaknya. Mereka pun punya pegangan hidup, bahwa seberapa lamanya mereka hidup di tanah orang lain, pasti akan kembali lagi ke tanah lahir juga. Jadi, tak perlu risau hidup di tanah orang, karena mereka pergi untuk kembali.

Kadang hidup di perantauan tak seperti apa yang kita bayangkan sebelumnya. Tidur gak nyenyak, makan gak enak, kerja gak jenak, bawaannya pengen pulang ketemu emak. Kadang pula, kita merasakan terlanjur kecemplung di dunia yang sama sekali tak kita bayangkan sebelumnya. Dunia kerja yang sama sekali tak nyrempet sekalipun di dunia perkuliahan.

Apa memang jalan hidup setiap orang gak selalu sesuai dengan harapan seperti ini?

Atau kita yang harus lewati dulu jalan ini sebelum harapan kita terwujud di kemudian hari?

Mungkinkah Tuhan menyuruh kita untuk merasakan kecemplung dulu di sesuatu yang gak kita pikirkan sebelumnya, biar kita tau rasanya bagaimana?

Advertisement

Lantas pantaskah kita menyesali itu semua?

Atau malah sebaliknya, mensyukuri apa yang telah Dia beri, dan terus melanjutkan hidup dengan menebar manfaat untuk sekitar?

Rencana Tuhan pasti selalu indah. Momen kecemplung di sesuatu yang gak kita pikirkan sebelumnya, boleh jadi akan menjadi kekuatan maha dahsyat di masa yang akan datang. Memang, awalnya tak sesuai minat, bakat, apalagi passion. Bisa dibilang awal-awal kerja seperti sekolah lagi, alias gak ada teori yang beririsan dari hasil kuliah dan dunia kerja. Semua serba baru dan belajar dari awal lagi.

Namun di balik itu semua, pasti ada hikmahnya. Setiap langkah pasti ada baik buruknya. Tergantung kita ambil yang mana untuk pacuan kita melangkah lebih jauh ke depan. Kuliah yang selama ini dilalui, ternyata gak selamanya terbuang sia-sia, yang pasti ada aja manfaatnya. Kalaupun ilmu kuliah sama sekali tak ada sangkut pautnya di ilmu kerja, ilmu non akademik dalam masa kuliah nyatanya begitu penting di ranah kerja.

Yang pasti ilmu ini tak didapatkan di mata kuliah apapun, karena ilmu ini tumbuh alami di luar perkuliahan yang menjenuhkan. Ilmu yang mengajarkan kita mengerti karakter teman saat ngajak mbolos kuliah, mengerti cinta lawan jenis dalam organisasi kampus, dan mengerti betapa asiknya hidup di perantauan apalagi saat seharian tidak makan, hingga saat ini sangat bermanfaat sekali di dunia kerja terlebih dalam urusan kerja dalam tim.

Ternyata tak perlu susah-susah mempelajari ilmu kerja dalam setumpuk buku di perpustakaan, apalagi googling materi-materi kerja setiap malam, bikin boros dan menyusahkan. Dengan nyemplung dan mensyukuri itu semua, aktivitas apapun di dunia kerja bisa kita nikmati bahkan kita merasa sudah pernah dapatkan ilmunya di waktu kuliah (walaupun aktualnya sama sekali tidak pernah). Jadi, percaya pada kekuatan nyemplung, sama halnya mensyukuri apa saja yang telah Dia berikan pada kita.

Kita harus siap layaknya lentung, yang awalnya tak berguna akhirnya bisa bermanfaat untuk semua. Dimana lentung mengalir, ada saja ikan-ikan yang memanfaatkannya untuk makanan. Dimanapun lentung mengalir, ada saja manusia yang sengaja mengambilnya, agar tanaman mereka tumbuh subur di halaman rumahnya. Jadi, di setiap lentung itu nyemplung, pasti ada aja yang memanfaatkanya.

Lantas mengapa kita perlu takut kecemplung di sesuatu yang gak kita harapkan sebelumnya?

Lentung aja bisa, masak kita enggak.