Memang perasaan ini tak dapat dipungkiri. Kau seorang aktivis. Aku pun juga. Kita memiliki segudang kegiatan yang tak jarang kita saling bertemu, berinteraksi dan bekerja sama. Namun, percayakah kamu jika cinta datang karena terbiasa? Salahkah aku jika merasakan getaran-getaran ini? Apakah kamu merasakan demikian? Atau perasaan ini hanya ilusi semata? Sadarkanlah kami Ya Allah,.. Kami berada dalam satu organisasi untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan untuk mencari cinta.

Tiada manusia sempurna di dunia ini. Tapi entah mengapa engkau terlihat begitu sempurna dimataku. Sekali lagi, atau aku yang terlalu melebih – lebihkan dirimu? Hati ini merasakan ketenangan ketika kau berbicara, memberikan nasehat, dan bercanda. Aku tidak dapat mendeskripsikan lebih bagaimana perasaanku. Ketika kau memperhatikan aku, yang dapat kulakukan hanyalah sedikit menunduk. Aku tidak berani menatapmu intens. Tidak pernah berani. Aku tak ingin kita terjebak dalam zina mata, bahkan hati. Karena mata adalah cerminan hati, aku tak ingin kau tahu perasaanku. Maka itulah yang aku lakukan. Satu yang aku yakini, ini salah satu tanda virus merah jambu yang terjadi padaku.

Aku tak ingin terlalu lama bergelut dengan perasaan yang tak pasti ini. Sungguh. Aku tak ingin mengemis cinta padamu. Aku hanya dapat berdoa, jika kau memiliki perasaan yang sama kelak kita dapat dipersatukan. Namun, jika tidak demikian aku berdoa kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Sekarang, bolehkah aku melupakan sejenak virus merah jambu yang pernah terjadi pada kita? Salam dariku kepadamu, tetaplah berlomba-lomba dalam kebaikan dalam mencari ridla ilahi.:)