Sudah menjadi tempat akrab kalau sewaktu isitirahat kerja, cari tempat berteduh paling nyaman adalah Warung Kopi. Kebebasan berpendapat dan berekspresi di warkop seakan – akan tidak ada sekat diantara para pengunjung satu dengan pengunjung lainnya. Makan dengan kaki diangkat, ngobrol dengan rokok ditangan, guyon sembari nyeruput kopi sudah menjadi hal biasa ditempat ini. Bebas.

Yang paling saya suka ketika berada di warkop adalah gaya bicara dan topik pembahasan yang dibawakan. Seakan – akan pengunjung mendadak berubah menjadi ahli politik atau menjadi professor hukum tata negara. Mulai dari Papa Minta Saham, Ahok dipenjara, Habib Rizieq yang belum bisa pulang, dan yang terbaru Dana Haji yang digunakan untuk Infrasturktur negara, menjadi topik yang haram untuk dilewatkan.

Entah kenapa, saya merasa warung kopi adalah tempat paling nikmat untuk berdiskusi, tidak ada pretensi apa – apa ketika mereka duduk, beli makan, beli kopi, beli rokok, dan bersenda gurau dengan para pengunjung lain. Demokrasi tanpa batas.

Sepertinya para pejabat di negara ini perlu mengenal yang namanya Delegasi Warung Kopi. Setelah kemarin ramai ya "Delegasi Nasi Goreng" sepertinya perlu ada tandingannya. Ya begitu, bukan masalah tempatnya mewah atau tidak, tapi esensinya. Esensinya adalah setiap orang yang datang, mereka menikmati setiap sajian yang dihidangkan tanpa perlu lagi jaim. Mau debat ya debat aja. Diskusi ya diskusi aja. Mau marah – marah pun silahkan saja. Yang paling penting adalah menikmati dan nyaman selama itu nyaman buat mereka.

Intinya adalah berdiskusi itu tidak perlu jaim, yang mau dikeluarkan ya di keluarkan saja, toh kalau dikeluarkan kan malah bikin lega hati. Sepertinya para pemimpin kita perlu banyak mendekatkan diri dengan masyarakat lewat cara yang lebih membumi. Nongkrong di warung kopi misalnya.

Advertisement

Saya sudah tidak kaget, ketika lagi asyik menghabiskan makan siang ada yang curhat tentang keluarganya lah, punya hutang sama debt collector lah, diminta cerai sama istrinya lah, atau diprospek sama agen MLM. Seakan akan kita ini sudah dikenal lama oleh pencurhat, padahal ketemu saja baru 10 menit yang lalu, cuma bermodalkan "kerja dimana mas?" obrolan bisa melebar sampai kemana mana.

Saya yakin hal itu terjadi karena si pencurhat tidak mendapatkan ruang untuk bercerita lebih panjang, mereka lebih nyaman untuk bercerita sekalian ke orang yang tidak dikenal. "lha wong ketemu cuma sekali, ya barangkali besok ndak ketemu lagi kan nggak masalah, yang penting saya plong …… toh dia nggak kenal saya, gimana mau bocorin ?"

Tidak ada aturan khusus mengenai tata tertib makan, ngopi, atau ngudud (re: ngerokok) di warung kopi, yang penting adalah esensinya dapat. Bagi teman – teman yang mungkin ingin tahu masyarakat kita sudah cerdas apa tidak, mainlah sekali – kali ke warung kopi pinggir jalan. Teman – teman pasti akan menemukan pengamat politik handal tapi dengan otodidak base. Yang penting saya cukup nonton berita dan update setiap hari, analisis bisa melebar kemana – mana.

Pernah suatu saat ketika masih jamannya pilkada putaran kedua Ahok vs Anies, saya mampir ke warung kopi. Niat untuk makan, tapi saya dapat bonus pandangan politik dari Cang Ojak. Owner Warung Kopi Bahari. Cang Ojak menilai bahwa, saat ini Jakarta tak perlu pemimpin yang cuma bisa banyak bicara.

"Kalo modal bacot sih gue juga bisa, ya berarti gue bisa dong jadi Gubernur?" celetuk Cang Ojak

"Ya bisa aja Cang, asal modalnya cukup mah….." balik saya nimpali

"Gampang tong, gue kasih aja djarum sama kapal api, beres dah urusan… kayak kagak ngarti Jakarte aje luu…." Sahut bang Ojak

"HAHAHAHA, apal cang… apal banget…." Balas saya

Cang ojak menilai Jakarta perlu tertib, tertib itu banyak hambatannya ya kalo mau sekalian totalitas harusnya berani mati, karena Jakarta bukan tempat orang – orang cemen mencari rezeki.

Saya kagum dengar analisa Cang Ojak, meskipun yaaaa (mohon maaf) dengan pendidikan cang Ojak yang hanya lulusan SD bisa berfikir kritis seperti itu. Ya sederhana memang, tapi ini bukti bahwa pengunjung cang Ojak adalah pengunjung yang kritis, sehingga Cang Ojak belajar politik ya dari kuping ke kuping, dan menganalisa berdasarkan opininya sendiri, apa sah ? ya jelas saja sah – sah saja.

Masyarakat sebenarnya butuh mampir ke warung – warung kopi seperti miliknya cang Ojak. Karena berdiskusi tidak melulu hanya di bangku perkuliahan atau dengan kantor saja. Kalau berdiskusi langsung dengan rakyat yang merasakan dampak kebijakan pemerintah, beda persoalan. Ilmu seperti ini tidak akan bisa didapatkan di tempat lain.

Lalu jika semakin lama, semakin sering mampir ke warung seperti cang Ojak, saya yakin daya analisis berfikir masyarakat akan semakin bertambah. Pernah dengar, "ilmu itu akan susah diterapkan kalau hanya berpacu pada teori saja tanpa praktik". Nah hal itu yang saya mau paparkan. Diskusi kalau hanya dikelas, dengan rekan yang bisa dibilang setara atau sederajat dengan kita, topik yang dibicarakan tidak akan meluas. Itu – itu aja.

Bagaimana kalau kita berdiskusi dengan cang ojak ownernya Warung Kopi Bahari ?

Menalar sebuah problematika memang pada dasarnya didasari dengan hati nurani, tidak bisa serta merta men-judge di awal permasalahan. Terutama kebebasan demokrasi dalam berpendapat dan menyuarakan aspirasi. Mungkin teman – teman yang dulu aktif di Himpunan Mahasiswa atau di BEM akan sangat mengerti sekali konsep demokrasi dalam bertindak, bijak dalam mengambil keputusan. Ya begitulah yang seharusnya dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia.

Sebenarnya kita ini hanya perlu diberi ruang khusus untuk mengemukakan aspirasi, bukan berarti menebar kebencian ya. Tapi hanya diskusi, dan diskusi alangkah bijaknya dibarengi dengan fikiran yang jernih tanpa tersulut emosi. Ya contoh, masalah hati. Ya kalau difikir secara emosi mau bagaimanapun tidak akan berujung, tapi kalau difikir secara tenang, maka kita akan mendapatkan hasil yang memang terbaik.

Sebenarnya itulah yang dibutuhkan orang – orang Indonesia. Kebebasan dalam berfikir dan bertindak, itulah arti merdeka yang nyata.

Atau kalau masih penasaran, mungkin mau mampir ke warungnya Cang Ojak ? barangkali dapat diskonan.