Mereka bilang cinta adalah hal yang luar biasa. Cinta bisa membuatmu sangat bahagia. Ia bisa membuat hidup terasa lebih indah. Makanan yang kita makan bisa saja terasa lebih nikmat. Kita mungkin menjadi lebih semangat dalam bekerja atau bersekolah. Ya, cinta memang memiliki dampak luar biasa terhadap siapapun yang sedang mengalaminya.

Sayapun pernah merasakan dampak ini beberapa bulan yang lalu. Hidup rasanya lebih berwarna dan setiap hari itu enak untuk dijalani. Tetapi, saya harus menghadapi kenyataan pahit dan perasaan itu pun hilang. Hidup mulai terasa berat untuk dijalani. Akhirnya saya harus membuka lembaran baru kehidupan dengan berat hati dan memang harus menghadapi kenyataan bahwa, mencintai seseorang tidak berarti bahwa saya harus memilikinya. Terkadang, saya harus merelakannya pergi.

Awanya, saya rasa ini adalah kenyataan yang kejam. Bukankah Sang Pencipta tahu bagaimana rasanya sakit hati? Kenapa Ia sampai tega membiarkan banyak dari kita mengalami patah hati? Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang konyol setelah saya tahu jawabannya dan mungkin kamu akan merasa seperti itu bila kamu tahu apa alasannya.

Tuhan membiarkan kita menjalani patah hati karena Ia ingin kita belajar tahu bahwa apa yang kita pikir adalah yang terbaik bagi kita bisa saja menjadi hal/orang yang akan paling menyakiti kita. Karena sejujurnya, kita belum tentu tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita hanya merasa sepertinya orang itu adalah yang terbaik bagi kita.

Saya sendiri jatuh ke dalam perangkap yang sama. Saya terbuai oleh hawa nafsu semata untuk memiliki seseorang yang belum tentu cocok dengan saya. Tidak salah bagi saya untuk jatuh cinta dengan orang tersebut. Kita tidak bisa memilih orang yang kita sukai bukan? Hal ini terjadi dengan sendirinya. Ya, kita jatuh cinta dengan seseorang tanpa paksaan, kita mencintai dia karena dia membuat kita merasa lebih baik. Dia membuat hidup kita lebih bermakna. Sayangnya, kebanyakkan dari kita mungkin menganggap bahwa kita harus memiliki seseorang itu baru kita bisa bahagia. Tentunya tidak semua orang seperti ini, beberapa malah begitu bisa menikmati hidup sendiri tanpa harus memiliki seseorang untuk mendampinginya.

Advertisement

Saya baru sadar, apa yang menurut saya baik bisa jadi bukan termasuk rencana Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan sudah merencanakan kehidupan kita dari awal dan apa yang Ia rencanakan adalah rancangan yang baik bagi kita semua. Hanya saja, seringkali kita menganggap bahwa kita harus selalu mengalami kebahagiaan tanpa adanya penderitaan. Padahal, kita hanya bisa bahagia saat sudah merasakan penderitaan. Lebih tepatnya, kita jadi mensyukuri keadaan kita yang membuat bahagia saat kita sedang berada dalam penderitaan.

Saat saya sakit hati beberapa bulan yang lalu, rasanya memang sangat tidak enak. Every love song that I heard on the radio reminded me of him, all the time. Setiap kali saya mengubah channel radio, tetap saja ada lagu cinta yang membuat saya galau. Saya baru teringat bahwa saya yang dulu berjanji tidak akan membuka hati untuk orang lain dan seringkali bingung kenapa bisa ya orang susah move on, sekarang terkena getahnya.

Saya baru menyadari dan merasakan penderitaan orang-orang yang tidak bisa move on dari kenangan orang-orang yang dikasihinya. Pedih memang rasanya. Pedih saat melihat memori-memori indah yang hanya bisa saya ulang di kepala saya. Pedih mengingat betapa bahagia rasanya saat saya bisa menghabiskan momen itu bersama dengan dia. Yang paling membuat diri sedih adalah seluruh pikiran, what if, coba saja waktu itu saya lebih berani dan lebih jujur akan perasaan ini, mungkin hal akan berbeda, Coba saja saya tidak berbicara atau bertingkah laku seperti itu, akankah hal menjadi berbeda? Akankah hubungan kita menjadi berbeda. Tetapi, siapa yang tahu. Itu hanyalah penyesalan saya tidak bisa memberanikan diri untuk menyatakan perasaan saya kepada seseorang yang saya kasihi.

The first two weeks were hell, I could not imagine a life without him. Mungkin kamu merasa bahwa ini konyol karena saya bahkan tidak pernah jadian dengan dia, tetapi buat saya, hal ini sangat menyakitkan. Saya tidak sekedar menyukai dia, saya jatuh cinta dengan dia. Saya jatuh cinta dengan tatapannya, dengan senyumannya, dengan kebaikannya, dengan kepintarannya, ya, saya jatuh cinta sepenuhnya dengan dia.

Saya belum pernah menemukan orang seperti dia dan saat saya menemukan orang seperti dia, saya tidak pernah merasakan genggamannya. Saya tidak akan pernah merasa betapa hangat dan nyaman pelukannya. Itu semua tidak akan pernah terjadi. Saya hanya bisa berpikir, “akankah perasaan ini hilang?” Saya sangat ingin perasaan ini hilang saja agar saya tidak perlu merasakan sakitnya tidak bisa bersama dengan orang yang saya cintai. Tetapi, perasaan ini tidak pernah hilang, saya tetap merasakan kesakitan yang menyesakkan dada.

Akhirnya, saya belajar untuk melepaskannya. Semua teman saya mengatakan bahwa kalau dia memang orang yang tepat untuk saya, bila kami adalah orang yang memang cocok untuk diri kita masing-masing, maka kami akan bisa bersama lagi. Bila tidak, maka saya akan bertemu dengan orang yang lebih baik.

Pada awalnya, saya tidak bisa menerima hal ini karena saya masih dipenuhi oleh kesedihan luar biasa. Setelah 2-4 minggu setelah saya memutuskan untuk melepaskan dia, baru saya merasakan ketenangan dan kelegaan luar biasa. Saya baru mengerti apa maksud teman-teman saya dan betapa benarnya pernyataan itu. Saya baru bisa menerima rasa sakit ini sebagai pembelajaran kalau memang cinta itu tidak selalu berbalas dan terkadang untuk alasan yang baik.

Pernahkah kita berpikir bahwa siapa tahu, Tuhan sedang menyelamatkan kita dari keputusan yang salah agar kita bisa bertemu dengan orang yang tepat? Kita tidak pernah tahu itu kalau kita memaksakan kehendak kita. Saya belajar bahwa memperjuangkan cinta itu tidak salah, tetapi memaksakannya tentu salah karena kita membiarkan hawa nafsu menguasai diri kita. Kita jadi tidak realistis dan tidak menggunakan akal sehat untuk menghadapi kenyataan bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing. Kita pun nantinya harus bisa menerima setiap kelebihan dan kekurangan orang-orang yang berada dalam hidup kita, termasuk pasangan hidup kita.

Setelah saya bisa melepaskan dirinya, sepertinya Tuhan sendiri sedang mengajarkan saya untuk bisa mengasihi diri sendiri sebelum saya mencari seseorang untuk menambah kebahagiaan saya. Saya sedang menikmati kesendirian saya ini untuk discovering who I am and so far I am really enjoying it. Saya sedang menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman saya. Tuhan mengingatkan saya bahwa sebenarnya saya sudah memiliki orang-orang yang mengasihi saya dan mereka adalah berkat yang luar biasa bagi saya.

Setiap hari, saya merasakan kebaikan-Nya dari teman-teman yang senantiasa ada untuk mendukung saya dalam segala hal. Tuhan pun menambahkan teman-teman baru dalam hidup yang banyak mengajarkan saya berbagai pelajaran hidup. Terlepas untuk sang someone, perasaan ini memang masih ada, tetapi saya sudah bisa menerima bahwa bila perasaan ini tidak akan pernah berbalas, maka saya sudah tidak apa-apa.

Saya bisa membayangkan, bila mencintai orang yang tidak tepat untuk saya saja adalah hal yang luar biasa, bagaimana rasanya saat saya bertemu dengan orang yang tepat?