Hai kamu yang disana. Aku sungguh berharap kamu dapat membaca tulisan ini. Jika tidak, biarlah Tuhan yang menyampaiakan padamu dengan cara-Nya sendiri. Telah kita putuskan untuk sejenak lebih fokus memantaskan diri kita di mata-Nya. Merubah pribadi kita menjadi sosok yang lebih baik lagi. Untuk apakah? Tentu untuk masa depan kita nanti, bila akhirnya Allah memberikan ridhonya.

"Tetapi sehebat apapun kita merencanakan sesuatu. Tetap rencana Allah adalah sebaik-baiknya Rancangan" .

Tahukah kamu tak sekejap pun bayangan sosok dirimu hilang dari pikiranku, namamu masih melekat kuat di relung hatiku. Tapi aku tidak bisa memaksakan diri, karena mencintai bagiku adalah hal yang sakral. Begitu sakralnya hingga melahirkan satu tekad untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku pertama dan terakhir.

Ya, kau mengatakan dirimu belum siap. Kau masih ingin berbenah diri, dan aku pun akan mengerti. Kenapa? Karena aku mencintaimu, dan perasaan itu mengalir dalam bentuk dukungan atas semua keputusanmu, impianmu, keinginan dalam hatimu, sembari tetap mengingatkanmu pabila nanti kau mulai kehilangan arah. Bukankah aku sudah mengatakannya,

''Bila nanti kau sampai pada titik dimana kau ingin melepaskan lelah dan penatmu, maka dengan tidak mengesampingkan Sang Pencipta, ada aku disini yang siap menampung semua kegundahanmu.''

Advertisement

"Dan Dialah sebenarnya yang masih mempedulikan kita. Yang akan membuat hidup kita nantinya berbalut bahagia penuh senyuman"

Jadi, untuk saat ini mari kita memantaskan diri kita. Biarkan Tuhan menguji diri kita dengan cara-Nya. Kita hanya butuh percaya pada kuasa-Nya saja. Karena pada akhirnya, jodoh tidak akan kemana. Dan cukup lah dalam doa aku menyebut namamu di harapan-Nya, karena aku percaya, mencintaimu dalam doa akan lebih membuat-Nya senang daripada menghujanimu dengan seribu puisi dan janji.

Sayang, aku sedang merayu Tuhan untuk masa depan kita.