MERDEKA …. ATAOE…. MATI !

Merdeka, bukanlah sebongkah batubata yang menjadi rumah hari ini

Merdeka, bukanlah sebulir nasi yang kita makan hari ini

Merdeka, bukan pula selembar uang yang ada di kantong hari ini

Merdeka, tak lagi raga tapi jiwa

MERDEKA, memang kata yang sakral bagi kita, bangsa Indonesia

MERDEKA, adalah kata yang menjadi energi kita untuk terus berjuang

Lalu, apa makna MERDEKA hari ini ?

Advertisement

Ingatlah, Ir. Soekarno, Presiden ke-1 dan pendiri bangsa Indonesia pernah berkata, “Manusia yang MERDEKA adalah manusia yang terbebas dari rasa iri, dengki, srei, dahwen, panasten dan patiopen. Sehingga menjadi manusia yang selalu setiti, nastiti, surti dan hati-hati”. “Manusia yang MERDEKA bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BAIK, juga bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BIJAKSANA, tapi adalah manusia yang mampu bersikap BAJIKSANA ”!.

70 tahun sudah Indonesia Merdeka. Tanggal 17 Agustus 2015 ini. Usia yang tidak lagi muda sebagai bangsa. 70 tahun, adalah usia sepuh. Sangat matang. Usia yang tidak hanya harus bijaksana, tapi juga bajiksana. Begitu kata Bung Karno.

Sekali lagi, apa makna Medeka itu ?

Merdeka bukanlah korupsi yang makin merajalela. Bukan pula ekonomi yang makin kuat. Merdeka bukan arogansi untuk meraih kekuasaan. Merdeka, sungguh tak membutuhkan pertikaian sosial atau perkelahian antarkelompok. Merdeka, apanya ?

Merdeka adalah kesadaran untuk mengembalikan jiwa yang “hilang” dari diri kita. Apa yang sudah “hilang” dari bangsa sebsar Indonesia? Merdeka adalah ketika kita dapat mengembalikan KEJUJURAN, TANGGUNG JAWAB, dan KEPEDULIAN yang telah hilang, yang makin langka di negeri ini.

JUJUR untuk berbuat yang lebih baik sebagai rakyat; sebagai pemimpinn bangsa. TANGGUNG JAWAB terhadap rakyat yang masih miskin atau hidup layak pun belum bisa. PEDULI kepada sesama rakkyat yang lain untuk saling membantu, saling asih dan asuh. MERDEKA, bila kita mampu mengembalikan jiwa yang “hilang” dari bangsa ini.

Merdeka bukanlah bebas tanpa batas. Bukan pula bertindak semau gue. Kita Merdeka karena kita bisa lebih Jujur, lebih Tanggung jawa, lebih peduli dalam segala bidang kehidupan yang dekat dengan kita. merdeka yang seperti itu lebih dari cukup untuk bangsa ini.

Merdeka bukan raga, tapi jiwa. Bangsa ini dan rakyatnya sudah terlalu sibuk membangun raga dan fisik. Di saat yang sama, kita lupa membangun jiwa atau batin kita. Bukankah Kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian hanya ada pada jiwa kita, bukan pada raga kita. Merdeka-kan jiwa kita jauh lebih baik dari merdeka-kan raga kita. Renungkanlah .

JIWA yang MERDEKA adalah JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA = JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI bukan JIWA yang NURUTI RAHSANING KAREP = JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH RAGA.

Saat ini, hari ini dan esok, merdeka jiwa sangat penting. Karena jiwa adalah tempat hidupnya raga yang diikat oleh rasa. merdeka jiwa menjadikan kita sadar bahwa “hidup bukanlah segala-galanya bagi kita”. Kata pepatah Jawa “urip iku paribasane mung mampir ngombe”, hidup ini ibarat numpang minum. Merdeka jiwa lebih memikirkan akhir setelah hidup. Memikirkan sikap kita yang dilandasi kebaikan. Karena dunia bukanlah milik kita. Hanya mampir sebentar di dunia.

Inilah momentum bangsa Indonesia untuk kembali ke JIWA, bukan ke RAGA. MERDEKA ataoe MATI … !!

Dirgahayu Ke-70 Republik Indonesia !!