17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Semenjak itu perjuangan untuk memperoleh kedaulatan terus berlangsung. Dimana pada akhirnya Indonesia berdiri sebagai sebuah negara merdeka, bebas dari penjajahan. Perjuangan fisik maupun di meja perundingan perlahan-lahan mulai berkurang, digantikan dengan perjuangan membangun negara.

Ternyata perjuangan membangun negara tidak kalah beratnya. Benar kata Presiden Soekarno, bahwa perjuangan yang lebih sulit adalah melawan "bangsa" sendiri. Perjuangan melawan tindak korupsi, kolusi dan nepotisme sampai sejauh ini masih tersendat-sendat. Memang ada koruptor yang tertangkap, tetapi banyak pula yang masih bisa menikmati hasil rampasan mereka.

Bicara soal kemerdekaan, secara fisik memang Indonesia merdeka. Tidak ada tentara negara lain yang berlalu lalang menguasai wilayah Indonesia. Tidak ada juga negara yang melakukan pemaksaan agar Indonesia mengikuti kebijakannya. Namun demikian patut disadari bahwa kita belum merdeka dari penjajahan ekonomi dan budaya. Hutang negara ini masih menumpuk entah kapan akan lunas. Sedikit saja negara besar memainkan mata uang mereka, rupiah langsung terkapar.

Patut diakui kalau kita pun "terjajah" dengan produk-produk luar negeri. Mulai dari ponsel, laptop, tab bahkan sampai pakaian merupakan hasil produksi negara lain ( Tiongkok, Jepang, Korea ). Begitu juga bahan makanan masih terus menerus bergantung pada impor negara lain. Usaha mengandalkan produk dalam negeri seringkali gagal karena hambatan dari dalam negeri sendiri. Sulitnya perijinan dan birokrasi berbelit malah mematikan usaha dalam negeri. Belum lagi sikap serakah dan ingin memonopoli usaha yang buntutnya malah merugikan konsumen (peristiwa penimbunan bahan makanan).

Dalam hal budaya pun, walau gembar gembor cinta Indonesia, pada kenyataannya budaya Jejepangan (Jepang) dan Korea lebih menjadi favorit anak muda. Saya melihat sendiri di beberapa pusat perbelanjaan, menjelang hari Kemerdekaan Indonesia, mereka malah menyelenggarakan semacam Japan Festival. Ya nggak ada salahnya juga sih, karena tuntutan pasar memang demikian.

Advertisement

Mungkin butuh waktu lama untuk bisa benar-benar merdeka dari hutang luar negeri dan menjadi bangsa yang mandiri. Tetapi tidak ada salahnya untuk terus berusaha. Mulai dari diri kita sendiri yang lebih efektif dalam memanfaatkan waktu maupun melakukan pengembangan, bukan tidak mungkin kita bisa menjadi generasi yang mengubah masa depan bangsa. Perubahan suatu bangsa sangat mungkin terjadi.

Bangsa Jepang sempat hancur lebur karena kalah dalam Perang Dunia ke II. Setelah menjadi korban bom atom, Jepang mengalami berbagai kemunduran, baik dalam segi pemerintahan maupun ekonomi. Begitu juga Jerman sempat menjadi negara bangkrut (lagi-lagi karena kalah dalam Perang Dunia). Tetapi kedua negara tersebut sekarang sudah menjadi pemegang peranan besar di segala aspek kehidupan masyarakat dunia.

Begitu juga dengan Negara Belanda, secara geografis letak mereka tidak menguntungkan. Wilayah yang mereka tempati berada di bawah permukaan laut. Banjir bisa segera menimbulkan kiamat kecil. Namun mereka tidak menyerah dengan keadaan dan berhasil merekonstruksi wilayah mereka sehingga aman untuk ditempati.

Indonesia memiliki kekayaan yang jauh lebih besar daripada Jepang maupun Jerman (dalam hal kekayaan alam). Demikian juga secara geografis lebih baik daripada Belanda. Dengan modal kemerdekaan yang sudah kita dapatkan, bangsa ini bisa memaksimalkan potensinya. Asalkan memiliki niat untuk kemajuan negara, bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu saja.

Kemerdekaan jangan hanya dirayakan melalui nasionalisme sesaat. Bukan sekedar memasang Bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya atau mengikuti berbagai perlombaan di lingkungan. Kemerdekaan harus dirayakan dengan menunjukkan komitmen untuk membangun bangsa. Komitmen yang dimulai dari diri masing-masing pribadi.

Mari terus berjuang!

Selamat menjelang Hari Kemerdekaan!