Yang paling menarik dari menulis adalah kita bisa menuangkan apa saja yang tengah berkeliaran di otak kita. Entah itu adalah hal baik, moderat, atau buruk. Bebas.

Tidak ada istilah salah atau benar dalam menulis. Apalagi jika bentuk tulisannya adalah sebuah opini. Mau menyalahkan cara pandang seseorang? Absurd sekali jika iya. Karena saya yakin, setiap orang pasti punya cara berpikir yang berbeda. Walau kebanyakan dari kita punya cara pikir yang kemirip-miripan. Nggak masalah juga, toh?

Sebagaimana menulis, cara berpakaian dan gaya hidup juga adlaah sebuah hak. Masing-masing dari kita punya kebebasan untuk memilih bagaimana kita menyikapi itu semua.

Tidak ada yang salah dari itu semua.

Gaya hidup yang sederhana, ikut arus, modern, hip, moderat, hedonistis, futuristik, vintage, apa saja. Bagaimana mungkin kita menyalahkan seseorang atas agay haidup yang ia pilih untuk dijalaninya? Bagaimana mungkin kita bisa menjustifikasi atau bahkan melarang seseorang untuk tidak menjalankan hidup sesuai dengan keinginannya sendiri? Sama sekali di luar logika. Lucu!

Advertisement

Kali ini saya ingin menuangkan opini tentang mereka yang memilih gaya hidup sesuai dengan ajaran agama yang mereka anut dan yakini kebenarannya.

Karena konsep hijrah berlaku sepanjang zaman. Adalah konyol untuk selalu mengungkit-ungkit betapa berdosanya ia dulu.

Yang namanya memilih, selalu punya konsekuensi. Selalu punya sebab-musabab. Dan selalu punya latar cerita. Saat seseorang pada akhirnya memilih untuk nyaman dan berkontribusi optimal menjalanan perintah Tuhan, saat itu pula lingkungan sekitarnya memberikan aneka reaksi.

Akibat yang ditimbulkan atau respon dari lingkungan inilah yang lucunya lebih banyak didiskusikan daripada kontemplasi diri yang dialami oleh mereka yang memilih hidup sesuai syariat.

Membincangkan alasan mengapa akhirnya ia berhijab? Atau mengenakan celana menggantung di atas mata kaki? Mengira-ngira apa yang membuat mereka memelihara jenggot? Atau menyampirkan kerudung lebar menutupi tubuhnya?

Apa yang ada dipikiran mereka yang berpikiran demikian? Apa yang mereka ingin dengar? Semoga tujuan mereka menggunjingkan itu semua bukan untuk menafikan ajaran-ajaran Tuhan yang agung dan luhur. Karena jika demikian, saya akan merasa kasihan sekali.

Buat apa memberi label "Jilbab Syar'i" atau "Celana Nangtung" atau "Jenggoters"?

Sudah berapa lama kebudayaan para wanita yang mengenakan kerudung masuk ke Indonesia? Puluhan tahun? Ratusan?Atau ribuan? Rasanya sudah lama sekali kita semua mengenal salah satu model pakaian yang satu ini.

Lalu beberapa waktu terakhir, perkembangan mode merambah kian luas. semakin membuat sadar kita semua akan hadirnya para wanita yang mengenakan kerudung. Yang kini bertransformasi menjadi istilah hijab.

Pernah satu kali saya mengunjungi pasar, banyak pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menyebutnya sebagai "Jilbab Syar'i". Pernah juga saya mengunjungi pameran buku ada salah satu pengunjung yang bergumam "Ini mah yang dateng yang jenggotan semua".

Rasanya stratifikasi atau klasifikasi atau apalah-namanya-itu-yang-intinya-adalah-pemberian label semacam itu bukan merupakan ciri sebuah masyarakat modern. Saya kemudian malu dengan betapa sempitnya cara mereka berpikir dan membatasi diri.

Percayalah, ini bukan sekadar masalah cara berpakaian. Melainkan cara bersikap satu sama lain.

Apa rasanya mendapati diri kita ditempel satu label oleh orang lain? Apa rasanya menjadi komunitas terbatas yang selalu dianggap minoritas? saya yakin, rasanya biasa saja. Serius deh. Justru, mereka yang memberi label-label itu lah yang jengah dengan keberadaan para penganut agama yang utuh.

Mereka yang telah istiqamah menjalankan hidup sesuai syariat nyaatanya bisa menjalankan hidup dengan ringan. Tanpa embel-embel dan ketidaknyamanan. Bersikap seperti biasa. Tersenyum dan bertegur-sapa seperti halnya kita semua melakukannya sehari-hari. Makan apa yang dijual di supermarket, menonton berita yang sama, menggunakan aplikasi dan situs sosial media yang sama.

Kemudian saat berinteraksi dengan mereka yang memberi label "Anak Syar'i", mereka juga punya sikap yang tidak beda. Sama sekali tidak ada kecanggungan. Lalu, siapa yang membuat itu semua terasa berbeda?

Kita hidup di negara yang sama. Bercakap-cakap dengan bahasa yang sama. Bahkan kita juga punya Tuhan yang sama, lho!

Saya yain tidak ada satu peraturan duniawi pun yang dilanggar oleh mereka yang hidup dengan pakem syariat.

Saya juga yakin kita semua menyadari itu semua.

Yang menjadi lucu adalah kemudian kita semua mendadak lupa dengan esensi yang lebih besar. The big piture! Bahwa kita hidup berdampingan, berbagi daratan yang sama, menghirup udara yang sama, menjemur pakaian dengan sumber matahari yang sama, meminum air dari tanah yang sama. Lalu dimana letak perbedaannya?

Cara kita berpakaian? Cara kita bersalaman? Cara kita mendidik anak?

Lalu, apa yang membuat hal-hal personal seperti itu menjadi hal yang lebih besar dibanding jutaan persamaan yang ada?

Apa yang membuat kalian sulit menerima kami?

Kalau kalian bisa dengan bangga dan lantang menoleransi hubungan 'pelangi' dan mereka yang memilih untuk mengubah apa yang sudah Tuhan berikan pada dirinya, apa yang membuat kalian sulit sekali punya pikiran positif tentang jilbab syar'i, jenggot, dan celana nangtung?

Kalau jawabannnya adalah isu terorisme dan tetek-bengeknya, sungguh, saya tidak bisa berkomentar banyak. Kasihan sekali.

Apa kalian pikir mereka yang hidup sesuai syariat agamanya lebih membahayakan dibanding penjahat?

Apa kalian tidak berpikir justru kaum yang mengumbar-umbar tubuhnya dengan senonoh jauh lebih membahayakan? Demi Tuhan! Saya tidak bermaksud membandingkan jilbab syar'i dengan backless dress. Karena dua hal itu sama sekali tidak relevan untuk diperbandingkan. Yang menjadi poin saya adalah, saya belum menemukan apa yang membuat labelisasi ini masih terus ada? Masih terus menjadi momok di masyarakat kita. Apa sebabnya?